Fobia, berakat dari akar kata Yunani, phobos yang memiliki arti takut. Memiliki fobia jelas saja tak menyenangkan karena gangguan ini masuk dalam kategori neurosis, yaitu gangguan kejiwaan atau mental tipe ringan yang masuk dalam kategori besar gangguan kecemasan. Yang berarti, fobia bisa menjadi sangat bermasalah dan begitu tak menyenangkan, menakutkan, dipenuhi rasa cemas, terhadap objek atau situasi tertentu, yang jika kita pikirkan ulang, nyaris tak sebanding ancamannya dengan objek dan situasi yang kita takutkan.
Fobia pada semut? Sampai kita lari terbirit-birit, atau menghindarinya sejauh mungkin padahal semut sama sekali tak mengancam dan bahkan bisa kita bunuh secara mudah. Atau takut pada petir dan hujan, seperti yang teman perempuanku miliki sehingga dia nyaris sangat menderita saat musim hujan tiba. Padahal tak ada yang seharusnya perlu ditakuti karena dia berada di dalam ruangan. Takut yang luar biasa terhadap darah? Padahal darah tidak membuat kita kesakitan dan mati. Ketakutan yang begitu berlebihan terhadap kendaraan, mobil atau motor, bahkan kesusahan untuk sekedar membonceng motor atau sekedar menyeberangi jalan pun nyaris seperti medan perang? Seperti yang teman perempuanku lainnya takutkan, sebagai fobia yang membuat dia kesusahan untuk pergi ke kampus.
Fobia adalah keadaan takut yang diiringi cemas secara berlebih yang muncul akibat objek atau suatu keadaan tertentu, yang kamu harus bedakan dengan serangan panik, yaitu serangan cemas dan rasa takut yang penuh dengan teror dan kengerian yang tiba-tiba datang seolah tanpa sebab, yang sering hadir di tempat-tempat umum di keadaan yang bagaikan membuat panik itu entah datang dari mana. Serangan panik sering diiringi dengan aktivitas tubuh yang terasa bagaikan ingin mati, jantung berdetak cepat, keringat bercucuran dan semacamnya, di mana tubuh merespon serangan panik dengan sama berlebihannya. Banyak pengidap gangguan panik memilih bunuh diri karena jika itu terjadi terus dan berulang, mereka akan ketakutan oleh apa pun dan hanya pergi keluar rumah saja nyaris tak mampu. Tolong bedakan dengan fobia sosial, yaitu ketakutan terhadap orang-orang (pencetus fobia yang kelihatan dan tampak) atau situasi di mana hubungan sosial diperlukan.
Bagaimana dengan fobia? Jika fobia masih dalam taraf agak tak terlalu parah, kita masih bisa beraktivitas sehari-hari dengan tenang. Karena fobia pada dasarnya muncul saat kita bertemu dengan objek dan situasi atau keadaan yang membuat kita takut, seperti takut pada binatang, takut pada ketinggian (acrophobia), takut pada tempat sempit dan tertutup (claustrophobia), atau takut pada tempat ramai (agrophobia) dan beberapa lainnya yang semuanya masuk dalam kategori fobia spesifik.
Karena begitu spesifiknya, atau sangat khususnya fobia yang kita alami, kita hanya perlu menghindarinya atau berusaha tidak bertemu dengan dengan keadaan semacam itu. Kita menghindari binatang yang kita benci, entah itu ular, kecoa, tikus. ulat, atau laba-laba. Kita hanya perlu menghindari tempat tertutup. Kita hanya perlu menghindari ketinggian. Kita hanya perlu menghindari hujan, menghindari bangku, menghindari berbagai macam benda dan keadaan yang membuat fobia kita muncul. Bagi banyak orang yang tak paham psikologi dan tak pernah merasakan itu, semua itu seolah terasa gampang dan sangat mudah. Tapi tunggu dulu. Ya, tunggu dulu.
Fobia bisa menjadi sangat mengganggu, membuat kehidupan kita tak menyenangkan, atau membuat kehidupan sosial dan pekerjaan kita terancam atau tak bisa kita jalani dengan semestinya. Itulah kenapa, fobia masuk menjadi salah satu masalah dan dianggap sebagai gangguan. Apa yang disebut gangguan dalam dunia psikologi, yaitu, segala hal yang melebihi kadar kenormalan dan biasanya terjadi berulang-ulang sehingga membuat orang yang mengalami dan memilikinya menderita atau sangat terganggu sehingga harus diselesaikan atau dibantu.
Fobia bisa begitu sangat parahnya sehingga kamu ingin mati saja rasanya.
Bayangkan, jika kamu sakit, yang harusnya kamu ke dokter dan disuntik tapi kamu tak mau dan sangat begitu ketakutan padahal sakitmu dalam keadaan parah? Coba bayangkan, kamu dari keluarga berada atau memiliki posisi penting yang membuat kamu harus dan sering bertemu orang-orang entah di dalam rapat, pesta cocktail, atau pernikahan teman dan kolega. Padahal kamu punya fobia sosial atau fobia terhadap keramaian. Sebuah dilema yang membuatmu sangat menderita dan dilematis. Di lain sisi, kamu bagaikan ingin mati saja karena mengalami perasaan cemas dan ketakutan yang luar biasa jika kamu datang. Jika tidak datang, kamu akan digunjing, dianggap sombong, tidak becus, bukan pemimpin yang baik dan segala respon negatif lainnya yang mengancam perusahaan dan pekerjaanmu atau bahkan pribadi. Ya, fobia bagi orang yang tak mengerti adalah sepele. Tapi bagi para psikolog dan orang yang mengalaminya, bisa sangat gawat dan penuh penderitaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
Non-FictionEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
