Esai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Melihat begitu tebalnya buku-buku yang harus aku baca, yang banyak di antaranya di atas 500-900 halaman, rasanya benar-benar nyaris tak ada harapan. Sering aku berpikir, sial, sangat lebih mudah mencari uang dari pada menulis semacam yang pikiranku inginkan. Tapi setidaknya, akhir-akhir ini aku cukup tenang dan kecemasanku agak stabil karena seseorang. Entah dia sedang sibuk atau menghilang karena sesuatu. Itu sudah membuatku nyaman dan percaya.
Lalu apa yang harus aku lakukan dengan buku-buku yang luar biasa banyak dan tebal itu? Huuhf, sepertinya aku harus banyak menghindari orang-orang lagi dan mulai menulis. Sedikit mengabaikan percakapan. Memfokuskan diri dalam dua bulan ke depan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Baiklah, aku hanya membutuhkan 100-150 halaman saja. Tapi aku harus membaca sekitar lebih dari pada dua puluh ribu halaman buku. Itu pun masih belum yang lainnya.
Akhir-akhir ini aku bahkan berhenti menulis karena merasa tak puas dan bagaikan dipaksakan. Sangat tak menyenangkan menulis hanya sekedar bagian luarnya saja. Terlebih, ada banyak hal yang belum aku pelajari dan masih ada buku-buku yang ingin aku miliki.
Rasa-rasanya, entah kenapa banyak orang yang seenaknya menulis dan menjadikannya buku. Saat aku berada di Gramedia, begitu banyaknya buku. Sangat banyak. Terlebih novel. Begitu mudahnya orang membuat novel sampai kadang, aku tak tahu lagi untuk apa novel itu kecuali hanya dibaca sekali setelah itu dimasukkan rak selamanya.
Aku harus memulihkan mood menulisku. Kalau tidak, semuanya akan kembali kacau. Aku harus meredam ketidakpuasanku. Dan pada akhirnya kembali menulis seperti orang tolol. Hanya sekedar tulisan kasar dan dipaksakan.
Hah, kalau seperti ini terus, aku hanya bisa mengumpulkan coretan-coretan saja. Entahlah. Setidaknya pagi ini, aku sedang dalam keadaan bingung. Kebingungan ini agak menjengkelkanku.
Ah, aku rindu seseorang....
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.