HANYA SEKEDAR BANGUN

206 14 0
                                        

BANGUN. Seperti biasa. Sekedar bangun. Membuka mata. Melihat suasana sore yang mulai redup. Tubuh yang masih menempel di ranjang. Suara musik Jepang yang memenuhi ruangan. Dan keabadian kecil yang aneh. Ulangan-ulangan yang tak terputus.

Menatap sekeliling. Tetap seorang diri. Seperti inilah bangun dari tidur. Hanya sekedar bangun.

Mata yang masih redup. Kamar yang perlahan menjadi lebih gelap. Buku-buku yang mengelilingi keberadaanku. Dan, tak ada seorang pun yang menyapa. Seperti biasa.

Lalu aku mandi. Mencari kegiatan yang mungkin bisa mengurangi jenuhku. Berusaha hidup di malam hari. Saat orang-orang berjalan dengan orang lainnya. Berada di mobil mereka bersama keluarga atau kekasihnya. Menikmati jalan dengan sepeda motor bersama. Atau sekedar tertawa di pinggir jalan berdua atau bertiga.

Aku, hanya sekedar bangun seperti biasa. Menatap ruangan kecilku. Melangkahkan kaki. Menyambut malam seorang diri. Seperti biasa. Sehingga aku hapal benar kesendirian ini. Bertahun-tahun. Membuatku merasa, bahwa selama ini aku hanya sekedar bangun. Mengikuti ulangan-ulangan yang tak selesai.

Dan kali ini, aku akan berjalan kembali seorang diri. Menyambut malamku. Menyambung bangun tidurku. Seperti biasa.

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang