BERJALAN KAKI: PANTAI, BIPOLAR, DAN ULANGAN

253 14 8
                                        

Sering aku berpikir, bahkan berharap, laut akan menjadi tempatku mengembuskan napas yang terakhir, diiringi dengan musik Chopin atau buku Zarathustra milik Friedrich Nietzsche

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Sering aku berpikir, bahkan berharap, laut akan menjadi tempatku mengembuskan napas yang terakhir, diiringi dengan musik Chopin atau buku Zarathustra milik Friedrich Nietzsche. Karena ke mana pun aku pergi, segala jenis kecemasan, perasaan hampa, kesepian yang abadi itu, yang datang tiba-tiba semenjak aku kecil, tak pernah bisa disembuhkan oleh diriku dan siapa pun.

Akhir-akhir ini masa depresi itu datang kembali. Rasa cemas yang menemani setiap harinya selama bertahun-tahun. Membuat aku kadang berhenti sebentar untuk menulis, merenung dan kembali hanya menikmati buku-buku, galeri-galeri seni, beberapa film, dan jalanan kota, atau pohon-pohon, pantai, lautan, dan apa pun itu.

Selama masa menulis, membaca berbagai macam buku dan mencari proses mencari data yang diiringi dengan perasaan cemas yang menggila. Beberapa orang dari masa lalu muncul kembali. Dan seperti biasanya, aku tak ingin menyerah dengan datangnya masa buruk ini dengan hanya duduk di kamar, tak melakukan apa pun.

Karena kesepakatan dengan diriku sendiri, sejak bertahun-tahun yang lalu adalah saat depresi dan emosi yang paling buruk datang menerpa. Aku akan mengisinya dengan ilmu pengetahuan, musik, seni, sastra, jalanan, alam, dan apa pun itu. Aku selalu menyebutnya sebagai masa depresi yang paling intelektual. Dan secara singkat menyebutnya sebagai depresi intelektual. Masa datangnya depresi yang harus aku isi dengan hal-hal baru, menarik, atau berjalan ke mana pun untuk mencari gagasan baru.

Masa sepeti ini, aku berlaku seenaknya sendiri dalam hubungan dengan orang-orang. Menghindari sebentar tanggung jawab untuk mengerti dan mencoba memasuki dunia orang lain. Karena aku perlu menyelamatkan diriku sendiri lebih dulu.

Dua hari ini aku bersama seseorang yang datang agak tiba-tiba, berjalan ke pantai, melakukan pembicaraan setelah lima tahun lamanya tidak bertemu. Anehnya, satu-persatu, orang-orang di masa lalu bermunculan. Membuat aku sedikit agak bingung dan juga senang. Beserta hubungan-hubungan yang rusak. Orang-orang yang pergi. Atau sebagian besar orang yang kecewa denganku dan memutuskan untuk tak ingin lagi mengenalkanku.

Di lain sisi, beberapa orang baru datang. Dan kelak, mungkin akan pergi lagi. Karena hidup selalu berputar antara kedatangan dan kepergian.

Sebelum mencapai pantai, angin berembus demikian kencang. Dan udara menjadi jauh lebih dingin dari beberapa waktu yang lalu saat aku juga bergerak menuju pantai.

Kami berdua menikmati sebuah permainan kecil menebak berbagai nama yang terdapat di baliho, spanduk, dan papan arah. Dan bermain hal menyenangkan seperti menebak tumbuhan apa pun yang dia lihat dan tunjuk. Ada mahoni, jati, lamtoro, asam jawa, glodokan, ketapang, waru, randu, berbicara mengenai kesamaan dan perbedaan antara pohon tanjung dan beringin atau kembali mencermati berbagai semak-semak dan membedakan berbagai jenis rerumputan, atau sekedar memandangi ladang hijau padi yang mungkin baru berumur tiga minggu.

Bagiku sendiri berjalan seperti itu selalu menarik. Antara mengingat dan lupa. Seperti halnya saat berada di galeri seni, membedakan lukisan dengan berbagai macam alirannya atau melihat berbagai macam konstelasi bintang dan bagaimana cara membaca arah langit agar tak tersesat.

PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang