Keluarga adalah penjara. Orang tua adalah sipir. Dan anak adalah tahanan. Atau malah, sekedar properti, barang dagangan, asuransi masa tua, mainan penunjang kebahagiaan orang tua, dan sekedar robot, yang bisa digerakkan sesuka hati tanpa peduli hati, pikiran, dan perasaan anak.
Ada banyak keluarga semacam itu. Walau tak semua. Keluarga yang menganggap anaknya hanya sekedar barang. Diatur layaknya robot. Dan si anak tak memiliki kehidupannya sendiri. Dalam pendidikan sampai mau bekerja dan menikah sama siapa, semuanya diatur dengan cara dingin dan kejam. Dan si anak, tak ubahnya macam boneka atau robot pabrik.
Aku tak tahu, bagaimana banyak orang tua bisa seenaknya sendiri melahirkan anak lalu setelah dilahirkan dididik dengan kepatuhan ekstrem dan menanamkannya nilai-nilai laksana tentara militer. Menjadi anak yang hidup di lingkungan keluarga yang seperti penjara dan orang tua adalah sipir.
Sekaya apa pun, sekonglomerat apa pun, aku lebih baik memilih tak dilahirkan. Aku lebih memilih tak dilahirkan di keluarga semacam itu. Aku lebih memilih tak dilahirkan oleh orang tua semacam itu, seandainya itu bisa.
Hidup sebagai tahanan keluarga sendiri adalah hidup tanpa hati dan pikiran. Ya, dan anehnya para orang tua mengatakan itu untuk kebaikan anak? Kebaikan anak? Walau si anak menangis, anak menolak, anak tak mau, para orang tua itu tetap menganggapnya kebaikan. Aku harap orang tua yang menganggap kami semacam benda mati itu, lebih pertama masuk ke neraka kalau nereka itu ada.
Kalau sejak awal seorang anak hanyalah properti dalam keluarga. Lebih baik para orang tua tak usah melahirkan saja.
Mereka pikir sudah hebat apa melahirkan kami? Mereka pikir siapa, sebentar lagi mereka akan mati?
Hormatilah orang tua yang juga bisa menghormatimu sebagai manusia. Yang punya kehendakbebas dalam memilih cara hidup. Bisa memilih dengan pergi dan berteman dengan siapa saja. Bisa memilih hidup dengan orang yang dicintainya. Bisa memilih bersenang-senang dengan cara yang dia inginkan dan secara bersamaan menghormati orang tua. Bisa hidup dengan cukup bebas, tertawa, dan melakukan banyak hal. Bisa menghargaimu sebagai seseorang bukan benda mati, barang dagangan, barter bisnis, atau alat tukar tambah.
Jika para orang tua melihat anaknya hanya sebagai benda mati dan alat tukar demi keegoisannya sendiri. Jika aku Tuhan, aku akan langsung memasukkan para orang tua itu ke neraka paling dalam. Sebuah keluarga yang beragama, percaya Tuhan, tapi mendidik anaknya layaknya mesin. Maka keluarga semacam itu lebih baik berakhir di neraka. Karena mereka telah membuat derita anak-anaknya semenjak kecil sampai dewasa. Seolah si anak tak memiliki perasaan dan pikiran sendiri.
Oh, jika aku Tuhan, dengan senang hati, aku buang keluarga semacam itu ke api neraka tanpa harus menimbang dan berpikir panjang. Jika neraka itu memang ada. Ya, orang tua yang layaknya sipir, mau sekaya apa pun dia, tak akan bisa membeli rasa sakit yang ditimbulkannya dan trauma apa saja yang diberikan kepada anak-anaknya.
Para orang tua picik, tak punya mata, tak memiliki hati nurani, yang melahirkan kami seenaknya dan mayoritas besarnya adalah karena kecelakaan. Dan setelah kami dewasa hanya dijadikan mainan kepuasan orang tua. Kalau itu aku, aku akan berdoa setiap hari kalau orang tua itu lebih baik mati atau kelak, mampus di neraka dan kelak di sana selamanya.
Untuk apa menghormati orang tua yang tak menghormatiku balik? Aku bukan mesin. Aku bukan boneka kayu. Aku manusia sadar, hidup, dan memiliki perasaan. Apa mereka pikir uang dan kekayaan sudah cukup untukku hidup dan bernapas? Kenapa orang tua kaya raya dan konglomerat seringkali menjadi bodoh, tolol, dan diktator dan membuat kerangkeng besar kepada anak-anaknya?
Harus bergaul dengan si dia bukan dia. Harus sekolah di sini bukan di situ. Harus nikah dengan ini, titik, tak boleh ini dan itu atas pilihan sendiri. Jangan kerja di sini. Kerjalah di situ saja. Lalu diawasi setiap hari, bagai mata-mata dan tuhan itu sendiri.
Untuk apa hidup di keluarga konglomerat yang diktator? Yang menganggap seorang anak layaknya tahanan belaka. Buat apa? Buat apa menghargai keluarga dan orang tua diktator dan kejam semacam itu?
Jika aku adalah salah satu anak dari mereka. Lebih baik aku mati. Hidup lama tapi tak memiliki diri sendiri sama saja dengan mati. Apa bedanya mati hari ini atau besok jika kami hanyalah benda mati berbentuk manusia? Apa bedanya? Toh, kalau kami menangis, berpendapat, menolak secara baik-baik. Semuanya tak digubris. Orang tua gila macam apa, maniak kekejaman, monster mengerikan, gambaran tuhan yang lebih sadis, yang membuat kami hanyalah pajangan bagi egoisme konyol mereka?
Oh, kekayaan, kekayaan, kalian pikir dengan kekayaan kalian bisa berlaku sesuka hati dengan kehidupan kami, wahai para orang tua? Hah, kekayaan membuat kalian layaknya tuhan dan mengatur hidup kami seenak jidatnya sendiri. Lalu, apakah sebenarnya kami dilahirkan tak lain bukan hanya karena egoisme kalian? Hanya untuk menemani hari tua kalian dan saat kalian mau mati? Hanya untuk kesenangan kalian sendiri dan lupa bahwa kami juga manusia yang bisa sakit hati dan pikirannya?
Pikirkanlah wahai orang tua, yang sebentar lagi kalian bakal mati. Berapa sih sisa usia kalian sampai membuat kami menderita semacam ini dan kalian masih tak sadar dengan perbuatan kalian? Kalian orang sukses, berpendidikan, kaya raya, perusahaan kalian ada di mana-mana, dan berpikir sangat dewasa dan internasional. Tapi, tapi, kenapa kalian menyiksa kami semacam ini?
Apa kalian akan membawa kekayaan kalian ke liang kubur? Apa kalian pikir partai, usaha, gudang uang, dan perusahaan kalian akan menemani kalian saat kalian mati? Apa kalian pikir diri kalian akan bahagia setelah mati, dan tentunya setelah menyakiti kami, para anak yang tak punya kebebasan dan diri kami sendiri, secara terus-menerus? Jika aku tahu bahwa kehidupanku ada di tangan kalian. Aku lebih baik mati saat berada di dalam kandungan atau lebih baik aku mati dengan tanganku sendiri. Karena sejak awal, kalian menganggap aku sudah mati dan hanya benda pajangan keluarga. Lalu untuk apa aku meneruskan hidup, hah?
Untuk apa sebenarnya hidupku di mata kalian? Para orang tua yang buta total terhadap kesakitanku, perasaan hampaku, kejiwaanku yang rusak, kesepianku, pikiranku yang tak tenang dan segala keresahanku. Peduli apa kalian terhadap apa yang ada di dalam diriku, peduli apa?
Betapa kejamnya kalian, wahai para orang tua. Melahirkan kami dengan seenaknya lalu kalian awasi kami setiap hari layaknya mata-mata.
Kami bukan tahanan.
Aku bukan penjahat perang. Aku bukan kriminal. Aku anak kalian! Tapi kenapa kalian bisa sebrengsek ini kepadaku? Kenapa kalian bisa sebajingan ini terhadapku, anak kalian sendiri? Bunuh aku, mari bunuh aku, wahai orang tua. Bunuh anakmu ini saja! Sekarang atau besok, adalah sama saja jika kalian seperti keledai tolol semacam itu. Oh, di mana otak kalian? Di mana hati nurani kalian? Di mana pikiran cerdas kalian wahai orang tua terpelajar? Di mana agama kalian? Di mana?
Jika keluarga pada akhirnya tak lebih hanya kata lain dari penjara. Lebih baik aku mati saja. Atau pergi dari kalian sejauh mungkin. Dan berharap, kalian cepat-cepat masuk ke neraka. Para orang tua yang sejak kecil menyakiti anaknya sampai anaknya dewasa pastilah bukan orang tua yang baik dan pantas dihormati dan sangat tak layak masuk ke surga. Sangat tak layak.
Ah, bagi banyak anak yang dilahirkan di keluarga kaya raya. Keluarga seringkali hanyalah jeruji besi. Penjara ketat dengan pengawasan super maksimum.
Keluarga kaya raya yang benar-benar tolol. Dan jika itu aku, aku tak sudi dilahirkan di keluarga semacam itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
NonfiksiEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
