Banyak orang yang nyaris tak tahu ilmu psikiatri dan psikologi abnormal, mengatakan dirinya mengidap bipolar, skizofrenia, dan banyak sekali tipe gangguan jiwa tipe ringan atau berat hanya karena membaca artikel ringan di website seperti halnya bipolar yang dijelaskan sebagai gangguan jiwa yang mudah berubah-ubah moodnya antara senang dan sedih. Hanya berbekal itu, banyak remaja-muda sudah berani mengaku dirinya mengidap bipolar. Ini juga diperparah mengenai ketidaktahuan banyak pihak mengenai apa itu depresi dan stress. Seringkali depresi dan stress dianggap sebagai tak lebih sama. Hanya dua kata yang dipertukarkan saja. Selain bipolar banyak orang yang pernah bersinggungan denganku mengaku dirinya memiliki gangguan berkepribadian ganda atau majemuk. Padahal dalam psikologi yang bukan abnormal, orang-orang memiliki beberapa sisi yang berbeda yang disebut alter ego. Seorang perempuan mungkin sisi lainnya lebih tomboy atau mirip laki-laki. Seorang laki-laki di lain kesempatan bisa sangat feminim atau lembah lembut. Bisa juga sisi lainnya dari lemah lembutnya terdapat sisi kejam yang tersembunyi.
Alter ego bukanlah gangguan kejiwaan. Nyaris semua orang memiliki. Tipe gangguan kepribadian ganda atau majemuk masuk dalam kategori gangguan jiwa karena alter ego itu sudah menjadi kepribadian utuh yang tak disadari dan adakalanya mengambil alih tempat utama. Atau mudahnya, satu tubuh didiami dua puluh kepribadian dengan berbagai macam latar belakang, bahasa, agama, dan kisah yang berbeda. Semua kepribadian itu menjadi mandiri dan independen. Seringkali tanpa saling tahu. Ciri yang jelas bukanlah alter ego yang secara sadar dimiliki oleh seseorang bahwa dia memiliki sifat yang jahat di samping tampilan dia yang selama ini baik di depan publik.
Banyak orang seenaknya mengatakan bahwa aku menderita ini dan itu tanpa pernah pergi ke terapis prosesional. Walaupun begitu, terapis profesional sendiri pun adakalanya kesusahan untuk melakukan diagnosa yang tepat atau malah gagal sempurna. Alasannya, tipe-tipe gangguan jiwa adakalanya sangat mirip dan lebih sering susah untuk dibedakan. Parahnya, perbedaan ideologi dan aliran tipe psikologi atau psikiatri yang diikuti, membuat para terapis kadang saling tak mengakui diagnosa gangguan jiwa tipe tertentu.
Beberapa gangguan jiwa yang hari ini kita kenal semisal gangguan jiwa kepribadian majemuk atau ganda. Masih banyak psikiatri dan psikolog tak mengakuinya. Terlebih mereka yang menganut behaviorisme dan kognitivisme yang lebih bertumpu pada perilaku dan otak. Jadi, bagi sebagian besar terapis, tipe gangguan itu tidaklah ada dan tak diakui. Sama halnya banyak identifikasi yang mengikuti contoh Freud ditolak habis oleh pengikut aliran itu.
Jadi, efeknya, seandainya seseorang ingin sembuh total dari diagnosa yang diberikan oleh terapis miliknya. Maka terapis itu harus mempercayai tipe gangguan jiwa yang telah disepakati dan saat sang pasien dilemparkan ke terapis lainnya untuk perawatan lebih lanjut. Maka terapis yang kedua juga harus menerima diagnosa dari terapis pertama. Masalahnya, seringkali terjadi kesalahan diagnosa awal sehingga terapis kedua mungkin saja memberi diagnosa baru dengan cara penanganan yang berbeda. Seandainya diagnosa kedua memang lebih tepat. Efek kesembuhan akan sangat bagus. Tapi jika diagnosa kedua jauh lebih salah dan melenceng atau mengganti diagnosa karena dasar tidak sepakat karena alasan ideologis dan kepercayaan aliran psikologi. Maka yang terjadi, pihak pasien bisa salah ditangani.
Jika para profesional saja sering gagal mendiagnosa lalu apa yang terjadi dengan orang awam?
Sejujurnya ada tipe-tipe psikologis yang abnormal yang berada dalam tipe berat atau harus segera ditangani tanpa perlu seorang profesional. Ini sama halnya batuk yang tanpa perlu orang ke rumah sakit dan menemui dokter. Semua orang yang melihat gejala batuk yang diderita seseorang akan sudah tahu itu batuk. Hanya saja, kalau ingin rinci batuk seperti apakah itu, seseorang lebih baik harus ke dokter untuk mendapatkan diagnosa terperinci. Sama halnya dengan flu, pilek, sakit kepala, dan nyeri. Apakah harus ke dokter hanya agar sekedar tahu bahwa seseorang itu terserang flu yang ciri-cirinya bersama sudah sangat jelas? Banyak orang tanpa dokter sudah paham bahwa flu yang diderita mungkin tipe ringan sehingga dia hanya perlu membeli obat warung atau apotek. Tapi dia juga sadar jika flu yang dia obati tidak sembuh dia hanya tinggal pergi ke dokter untuk menindaklanjuti. Itu tak ubahnya dengan diagnosa gangguan jiwa itu sendiri. Hanya saja, gangguan jiwa sangat lebih rumit karena selain pengetahuannya tidak populer tapi juga diagnosanya membingungkan banyak pihak.
KAMU SEDANG MEMBACA
PSIKOLOGI, PSIKOTERAPI, DAN MASALAH LAINNYA
Non-FictionEsai-esai yang aku tulis ini, lebih berkaitan dengan dunia psikologi dan bagaimana kita keluar dari jeratan hidup yang menekan. Di sini kau akan menemukan bagaimana memilih psikiater atau psikolog sebelum memutuskan pergi ke klinik mereka. Bagaimana...
