Sementara di cafenya, Alan baru saja memberi sanksi kepada waiters yang sempat berdebat dengan salah pengunjung. Mau bagaimanapun juga pengunjung adalah raja, jadi kita harus melayani mereka sesuai keinginannya.
"Tapi bapak nggak mecat saya kan?" Tanya waiters itu dengan perasaan yang sangat menyesal.
"Saya tidak akan pecat kamu, tapi kamu harus lembur malam ini"
"Baik pak"
"Sekarang kembali ke pekerjaan kamu"
Tanpa menjawab dia bergegas kembali ke depan, membersihkan meja yang masih berantakan.
"Sepertinya tadi ada sesuatu antara Ammar dan papanya Mawar, tapi apa yang mereka bicarakan?" Alan mengingat raut wajah Tama yang sempat berpapasan dengannya tadi.Dari kediamannya, Febby menghubungi Livia ingin menanyakan masalah lowongan pekerjaan yang dibuatnya. Namun ternyata Livia sedang mewawancarai beberapa pelamar yang akan menjadi calon karyawan. Lalu Febby menghubungi Shinta.
"Iya Feb" Jawabnya agak menjauh dari Livia.
"Via mana shin? Kok telpon gue nggak diangkat sih?"
"Oh Via lagi ngewawancara yang ngelamar kerja untuk cafe kita nanti"
"Oo gitu, ya udah nanti lo kasih tau aja ya"
"ASTAGHFIRULLAHALADZIM NON..." Teriak bu Rahmi ketika mendapati Imam nangis tergeletak di lantai tepat menindih guling kecil.
Sontak Febby berlari ke kamar. "Ya Allah...Imam jatuh dari ranjang?" Paniknya menggendong Imam kembali keatas ranjang. "Gimana ini bu?" Ia membuka seluruh pakaian si tampan kecil. Mengamati setiap bagian tubuhnya, kalau ada yang luka atau sejenisnya. Namun tidak ada tanda-tandanya.
"Iya sayang maafin bunda ya...tadi bunda tinggal nelpon sebentar, anak bunda kan jagoan masak cengeng"
Eh di bilangin cengeng malah tambah tersedu-sedu. Sampai air matanya membanjiri pipi.
"Oia bunda bohong, kata siapa Imam cengeng, nggak cengeng kok ya..." Di bilang begitu Imam berhenti perlahan-lahan.
"Biar Ibu telpon den Verrel aja ya non"
"Udah nggak usah bik"
Bu Rahmi sudah keburu memencet nomor teleponnya, namun saat di hubungi suara ponsel Verrel terdengar sangat dekat. Ternyata tinggal diatas meja ruang tamu.
"Oia, pokoknya Ibu jangan kasih tau sama Verrel ya"
"Memangnya kenapa non? Kok nggak boleh di kasih tau?"
"Ya kalau saya bilang jangan ya jangan"
"Iya iya"
Bu Rahmi lekas ke dapur, sementara Febby terkejut merasakan air pipis Imam yang memancur deras ke tangannya.
"Ya ampun...pipis kok nggak bilang-bilang sih nak"
Usai mewawancarai beberapa calon pelamar, Livia diberi tahu Shinta kalau tadi Febby menelepon. Tapi ponsel Febby justru dianggap mainan oleh Imam saat ada panggilan dari Livia. Cengkeramannya pada ponsel itu sangat kuat. Febby tidak tega merebutnya. Otomatis Imam akan menangis kalau sesuatu yang dipegangnya direbut.
"Kok nggak diangkat angkat ya?" Keluh Livia.
"Mungkin dia lagi main sama si kembar kali, udah mendingan lo chat aja" Suruh Shinta.
"Tadi gue udah wawancara sebagian yang ngelamar Feb, cuma gue belum bisa mutusin, soalnya masih ada dua lagi yang harus di wawancara besok" Livia mengirim pesan itu kepada Febby.Verrel menunggu kedatangan Wira, Aldo, Livia dan Shinta didepan sebuah cafe yang cukup besar, serta suasana yang instagramable di halamannya. Untuk parkiran motor atau mobil juga cukup luas. Cafe itu bukan di pinggir jalan besar, tapi tempatnya sangat strategis. Verrel tinggal menunggu pendapat mereka kira-kira bagaimana. Karena kalau untuk dirinya sih sudah jelas setuju.
"Greng greng..." Mereka yang ditunggu-tunggu akhirnya sampai juga dengan memakai motor.
"Ini sih keren banget rel" Takjub Livia setelah mengamati cafe dan keadaan di sekitarnya.
"Tempatnya juga asyik tau, gue jamin pengunjung pasti betah di cafe kita" Tambah Wira yang mengamati desain interior cafe itu.
"Ini sih instragamable banget tau nggak, kalau gue sih oke" Shinta juga tak mau kalah memuji tempat itu.
"Lo sendiri gimana do? Oke nggak?" Tanya Verrel pada Aldo yang melemparkan pandangan ke area parkiran.
"Keren sih, tapi gimana dengan budgetnya bisa dijangkau nggak?"
"Kebetulan yang punya cafe ini mau pindah keluar kota, dia juga ngasih harga yang sesuai sih, tapi gue belum ngasih keputusan" Jawabnya.
"Kenapa belum ngasih keputusan kalau udah setuju?" Tanya Aldo lagi, sementara yang lain malah asyik foto-foto buat upload di sosmed.
Secara tidak sadar Livia memamerkan status foto foto itu dengan mengatakan bahwa itu cafe baru mereka. Tentu saja Andin yang melihat status itu langsung bereaksi bak cacing yang kena air panas.
"Gue belum ngasih tau sama Febby" Jawab Verrel.
"Ya udah, lo ambil video aja, biar nanti Febby bisa liat"
"Bener juga kata lo"
Verrel kemudian mengeluarkan ponsel merekam seluruh cafe, baik didalam maupun di sekitarnya. Tiba-tiba si pemilik cafe menghampiri.
"Bagaimana? Apa kamu setuju dengan cafe ini? Menurut saya ini tempat yang sangat strategis, jadi kamu tidak akan menyesal, apalagi ini juga temanya anak muda banget, asyik buat nongkrong sambil menikmati hidangan"
"Saya sih setuju banget pak, tapi saya harus izin dulu sama istri saya"
"Oo jadi kamu sudah punya istri?"
"Udah pak, anak saya juga alhamdulillah kembar tiga"
"Oke kalau gitu, saya akan kasih kamu waktu berpikir sampai besok, tapi kalau besok tidak ada keputusan, maka saya akan menawarkannya kembali kepada orang lain"
"Baik pak, besok akan saya kabari secepatnya"
"Oke saya tinggal dulu ya" Sembari menyalami dirinya dan juga Aldo. Wira, Livia dan Shinta pun menghampiri.
"Eh gimana wir sama Nasya, dia kan nembak lo" Dengan sengaja Aldo mengatakan itu didepan Livia.
Sontak semua kaget, terlebih lagi dengan Livia tapi Livia berupaya menunjukkan reaksi yang biasa-biasa saja.
"Apa ucapan Aldo itu benar?" Batin Livia bertanya-tanya sambil melirik Wira sekilas.
"Apaan sih lo do" Cerca Wira tak suka.
"Gue sama Shinta duluan" Pamit Livia tiba-tiba menarik tangan Shinta menuju motornya.
"Ikut gue lo" Wira menarik Aldo menuju motornya, namun Livia dan Shinta sudah keluar meninggalkan parkiran.

KAMU SEDANG MEMBACA
Suara Hati
Ficção GeralApakah dibenak kalian pernah terpikir, bahwa didunia ini ada seorang Dosen tampan yang killer dan tegas takluk dengan seorang gadis yang berhijab dan berpenampilan sederhana? Mereka adalah Ammar dan Bella. Bella sering datang ke kampus, karena Bella...