Didalam pabrik, Wahyu menyapa Naya dan Prima seperti orang tak berdosa.
"Ooo jadi ini yang namanya Wahyu" ucap Prima tak suka.
"Prima kamu harus dengerin mba dulu, kamu jangan percaya sama dia"
"Gimana Prima mau percaya kalau sudah begini" sulit bagi Prima untuk mempercayainya.
"Sudahlah Naya, lebih baik kamu terus terang saja kalau kita memang punya hubungan"
"STOOP..., JANGAN PERNAH KAMU TUNJUKKAN MUKA KAMU DI HADAPANKU..."
Amarah Naya sudah berada di ubun-ubun.
Prima pergi menahan kecewa.
"PRIMA..., KAMU JANGAN PERCAYA BEGITU AJA SAMA DIA" Teriak Naya ingin mengejarnya, tapi tangan Wahyu menarik lengannya. "Ternyata tangan kamu masih halus seperti dulu"
"PAAK..." Tangan Naya melayang menamparnya dengan keras. "SECURITY..." Teriaknya memanggil.
Dari luar security cepat menghampiri. "Iya Bu"
"Kamu usir dia dari sini"
Security membawa Wahyu keluar dengan secara paksa.
"LEPASIN SAYA..." Wahyu terus memberontak. "NAYA...AKU DATANG KESINI HANYA UNTUK KAMU NAYA..."
Naya mengikutinya sampai didepan pintu gerbang.
"Tolong kamu catat baik-baik, jangan biarkan orang ini berani datang kemari" tegasnya pada security yang memegangi Wahyu.
"Baik Bu"
Naya pergi menggunakan mobil.Ammar beserta rombongan baru saja shalat Maghrib didekat pantai dengan beralaskan seadanya. Setelah itu Ammar meminta mereka untuk mendirikan tenda masing-masing untuk beristirahat, karena sebelum fajar menyingsing mereka harus kembali.
"Auu sakit..." Rintih Febby saat Verrel memasang tenda.
"Ya Allah sayang..." Verrel lalu menggendongnya masuk tenda itu. "Apa udah mau...?" Kata-katanya terputus.
"Belum kok, ini cuma sakit aja"
"Cuma sakit aja gimana? Aku khawatir tau nggak"
"Nggak apa-apa sih, ini mungkin karena mereka terlalu aktif kali ya, makanya perut aku kayak diaduk-aduk gitu"
Verrel tiba-tiba sedih karena tidak tega. Lantas ia menyentuh wajah istrinya itu dengan tatapan penuh cinta. Rasa sayangnya semakin besar sejak diperut Febby ada si kembar. "Imam, Yusuf, Almeera..., kalian jangan nakal dong...kasian sama bundanya..." Sembari mendekatkan telinga diperut Febby, tapi yang ada Febby geli mendengar kata-kata itu.
Saat ia menyeka keringat di dahi Febby, masuklah Ammar dan Bella.
"Eh kak Ammar sama kak Bella..." Mereka jadi malu-malu.
Untung nggak lagi beradegan yang lebih ekstrim hihi.
"Tadi kakak dengar Febby kayak kesakitan gitu" ternyata Bella sangat menghawatirkan kondisinya.
"Udah nggak apa-apa kok, tadi baby-nya lagi aktif-aktifnya sih jadi memang agak sakit"
"Kalian beruntung banget ya, nggak seperti kakak, yang nggak bisa mengandung seperti perempuan pada umumnya" tak terasa Bella meneteskan air mata.
"Sayang..., Buat saya, sayang adalah wanita yang sempurna" Ammar merangkul bahunya.
"Kakak jangan sedih, nanti juga kalau baby-nya udah lahir, pasti kak Bella juga kok yang ngasuhnya" tambah Verrel sembari mencolek tangan Febby.
Sontak saja Febby tercekat. "Mmm iya kak" antara bingung dan kaku.
"Beneran?" Bella tampak sumringah tapi juga ragu.
"Iya kak"
Bella memeluk Febby dengan erat sambil mengelus-elus perutnya.
Sementara itu, mata Livia menangkap Wira yang berdiri ditepi pantai. Hatinya terdorong ingin mendekatinya, tapi entah kenapa tiba-tiba langkahnya kembali ke tempat duduk semula bersama yang lain.
"Pasti lo mau nyamperin dia kan?" Tanya Aldo sambil memegang jagung bakar.
Sedangkan Reno, Astra dan Firli membuat api unggun. Nasya membagikan jagung bakar kepada yang lain. Untuk menghibur para jomblo yang galau, Verrel memetikkan gitar bersenandung ria diikuti oleh mereka.Malamnya Mawar menuju meja makan, namun ia melongo saat membuka tudung nasi tidak ada apa-apa kecuali buah-buahan saja.
"BIBIIIK..." Lengkingan suaranya menggetarkan hati si bibik yang lagi tidur-tiduran di kursi depan televisi.
Bibik lari pontang-panting menghampirinya.
"Ada apa non?"
"Kenapa bisa kosong begini? Kamu nggak masak?"
"Ya gimana mau masak kalau di kulkas nggak ada apa-apa"
"Ya kamu beli dong gimana sih? Masak aku yang harus beli?"
"Tadi saya minta uang mau ke pasar tapi non malah marah-marah, giliran nggak ada lauk sekarang marah-marah juga, saya kan jadi sedih non" si Bibik mulai berakting sedih agar tidak kembali kena semprot.
"Nih" sembari memberikan uang. "Sekarang kamu ke pasar"
"Ya ampun non ini udah malem bukan pagi lagi"
Mawar melihat jam di pergelangan tangan. Ternyata sudah menunjukkan pukul 7.
"Ya udah kamu beli apaan kek diluar, awas jangan lama-lama"
"Beli apaan non? Nasi goreng atau martabak?"
"Terserah mau beli apa aja yang penting cepat, inget, jangan lama..."
"Siap non"
Si bibik meluncur keluar dengan terburu-buru mencari pedagang yang sering nangkring didepan komplek perumahan

KAMU SEDANG MEMBACA
Suara Hati
Genel KurguApakah dibenak kalian pernah terpikir, bahwa didunia ini ada seorang Dosen tampan yang killer dan tegas takluk dengan seorang gadis yang berhijab dan berpenampilan sederhana? Mereka adalah Ammar dan Bella. Bella sering datang ke kampus, karena Bella...