part 27

219 13 0
                                    

"sial, kenapa harus ada Verrel juga sih?" Gerutu Bima ketika melihat Febby bersama Verrel sedang duduk berhadapan.
Febby sepertinya sudah tidak tahan lagi ingin menyantap spaghetti kesukaannya yang diantar oleh pelayan barusan.
"Mari kita makan" seru Febby.
Verrel menelan ludah melihat Febby yang begitu lahapnya. Disaat itu juga Febby menyodorkan satu sendok spaghetti kearahnya.
"Mmm ini buat aku?" Tanya Verrel agak ragu, Febby mengangguk.
Langsung saja Verrel menyambar suapan tersebut. Verrel sebenarnya ingin sekali menyuapi Febby, tapi ia malu untuk melakukannya. Dengan penuh pengertian, Febby memberikan sendok itu.
"Iya..." Meskipun agak kaku, tapi Verrel memberikan suapan pertamanya untuk sang kekasih.
Ia begitu bahagia melihat Febby tersenyum riang menerima suapannya.
"Aku ke toilet sebentar ya" ucap Verrel.
"Nggak pakek lama" sahutnya.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Bima untuk mendekatinya sambil menggenggam ponsel.
"Hai..." Sapa Bima duduk disampingnya, tapi Febby tak menjawab.
Dengan cepat Bima mendekatkan wajahnya sambil mengambil foto menggunakan ponsel yang ada ditangannya. Lalu ia pergi begitu saja. "Apaan sih maksudnya?" Gerutu Febby kesal.

Berhubung team Aldo dan Livia yang mendapatkan ikan berwarna merah. Wahyu memanggil mereka ke kantor untuk penyerahan hadiahnya.
"Ini hadiahnya" namun Wahyu bingung ingin menyerahkan ke siapa, karena dua-duanya sangat berantusias ingin menyomot amplop tersebut.
"Kasih ke saya aja pak" pinta Aldo.
"Jangan pak, lebih baik ke saya aja" Livia tidak mau kalah.
"Kalian ini mau hadiah atau mau ribut?" Wahyu memberi pilihan.
"Hadiah pak" jawab mereka cepat.
"Ya kalau mau hadiah jangan rebutan dong"
"Iya pak"
Mereka agak menunduk. Wahyu akhirnya memberikan amplop itu kepada Livia.
"Terimakasih pak"
"Permisi"
Setelah keluar dari ruangan, Livia dan Aldo melompat kegirangan.
"Ya nggak bisa gitu dong harus bagi-bagi" celetuk Wira dari belakang.
“tenang, ntar gue traktir makan aja yak hihi...” canda Aldo.
“pelit banget sih lo, ya udah deh nggak apa-apa” cerca Wira.

Didalam mobil, Bella meminta Ammar untuk membuktikan siapa wanita yang ada dalam videonya, tapi Ammar hanya terdiam tidak bisa menjawab.
“kenapa diam?” Bella mendesaknya.
Terpaksa Ammar menghentikan mobil, kemudian menatapnya dalam-dalam.
“kenapa sayang tidak percaya sama saya?” kali ini Ammar yang bertanya.
“gimana saya mau percaya kalau kamu tidak bisa membuktikannya”
“oke kasih saya waktu” setelah Ammar berpikir sejenak. “karena saya harus menemukan perempuan itu, karena saya tidak tau dimana tempatnya”
Ammar kemudian melanjutkan lagi menyetir sambil sesekali melirik Bella yang sepertinya tidak mempercayainya.
“saya menginginkan Ammar mempunyai keuturunan dari perempuan lain, tapi kenapa hati ini tidak terima begitu dia sama perempuan lain” lirih Bella didalam hati.

Pulang ke rumah, ternyata Febby sudah ditunggu Naya. Naya meminta Febby duduk.
“ada apa ma?” tanya Febby.
“lebih baik kamu jujur sama mama” tegas Naya.
“jujur..., Febby harus jujur tentang apa?” Febby nampak bingung.
“kamu masih nggak mau bilang tentang kebohongan kamu? Sejak kapan mama ngajarin kamu untuk berbohong?” Naya seperti mengintrogasinya.
“tapi memang nggak ada yang Febby sembunyiin dari mama” sangkal Febby.
“jangan kamu pikir mama nggak pernah nonton televisi ya” tegas Naya lagi.
“oo ow..., jadi mama udah lihat Febby di televisi?” sahut Febby setelah mengingat.
“harus berapa kali mama ingatkan supaya kamu nurut?”
“ma...” Febby menggenggam tangannya. “sebenarnya Febby nggak mau main sinetron, tapi Febby kasihan sama Verrel, Verrel diusir sama om Wahyu dari rumah, bahkan biaya kuliah juga dicabut, kalau Verrel cuma kerja sebagai supir, Verrel pasti dikeluarin dari kampus ma” jelas Febby dengan panjang lebar.
“Wahyu sampai tega memutuskan biaya kuliah anaknya sendiri?” gumam Naya.
“iya ma..., hampir aja Verrel putus kuliah, tapi untung semua temen-temen ngedukung Verrel untuk menerima tawaran dari pak Roland” lanjut Febby menjelaskan.
“terus apa hubungannya sama kamu? Kenapa kamu juga ikut-ikutan?”
“karena pak Roland menginginkan kita berdua yang menjadi peran utamanya”
Naya menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin berusaha mengerti, tapi tetap saja hatinya khawatir kalau mereka berhubungan dengan Wahyu. Karena Wahyu bisa melakukan apa saja untuk memenuhi keinginannya. Apalagi Wahyu adalah rekan kerjanya pak Roland.
“oia Febby lupa, Febby harus pergi sekarang”
“mau kemana lagi?”
“Febby ada janji sama temen-temen ma, boleh ya...” Febby merayu.
Walau berat, tapi Naya mengizinkannya. Febby pun berpamitan pergi menggunakan mobil andalannya.

Suara HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang