Didepan toilet Rumah Sakit, Ammar bersandar ditembok sambil memeluk kedua tangan. Sesekali ia melihat jam di pergelangan tangan. Sedangkan Mawar yang ada didalam toilet itu kebingungan tidak bisa mendapatkan ide.
"Gimana kalau seandainya terbukti kalau aku nggak hamil? Ammar pasti marah banget, bisa-bisa dia nggak percaya lagi sama aku, aduuh gimana ini!" Ia nampak bulak balik dalam toilet itu.
"Mawar..."
Terdengar suara Ammar memanggilnya. Terpaksa ia keluar dengan pasrah.
"Ngapain didalam? Tidur?" Cerca Ammar.
"Namanya juga lagi sakit perut, ya wajar dong kalau lama"
"Udah ayo cepat, kita harus periksa kehamilan kamu" Ammar menarik tangannya menemui Dokter kandungan.
"Kenapa nggak besok-besok aja sih? Ini udah malam"
"Sudah tidak usah membantah, lagipula besok-besok saya sibuk"
Mawar tampak gemetar berada di pembaringan ranjang pasien saat Dokter ingin memeriksanya, sedangkan mata Ammar tak lepas memperhatikan gerak-gerik ekspresinya yang gelisah tersebut. Namun setelah diperiksa, ternyata Mawar positif hamil.
"Haah..." Antara percaya dan tidak mata Mawar dan Ammar terbelalak.
"Kenapa kaget? Bukannya itu yang ditunggu-tunggu bagi pasangan suami-istri?"
"Mmm bukan begitu dok, coba dicek lagi, mungkin ada kesalahan atau apa gitu" pinta Ammar.
Dan hasil USG menunjukkan kalau Mawar tengah hamil, namun masih belum terlalu jelas, karena diprediksi usia kandungannya baru beberapa hari. Jelas itu sangat mengejutkan bagi keduanya. Mawar yang awalnya berpura-pura hamil, ternyata hamil sungguhan. Barulah Mawar merasakan mual-mual ingin muntah.
"Tolong kandungannya dijaga ya, karena ini masih rentan" ucap si Dokter.
"Iya dok" sahut Ammar melirik Mawar turun dari ranjang pasien.
"Terimakasih dok, kami permisi"
Ammar mengajak Mawar pulang.Malam semakin larut. Febby yang tidur disebelah Verrel tampak pulas sekali, sedangkan dirinya sendiri gelisah tak bisa memejamkan mata. Ia terus kepikiran dengan masalah yang dihadapi di bengkel. Selain membayar hutang mamanya, ia juga harus bertanggungjawab atas hilangnya mobil pak Buyung, sedangkan tabungannya tinggal sedikit. Otomatis tidak mencukupi semuanya. Ia lantas bangun dan berwudhu melaksanakan shalat malam.
"Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosaku dan juga istriku, bimbinglah keluarga kami ke jalan yang benar, bukakanlah pintu rezeki kami, dan tunjukkanlah jalan, agar aku bisa menyelesaikan permasalahanku ya Allah..., Amin ya rabbal Al Amin..."
Saat ia khusuk memohon doa, Febby perlahan-lahan membuka mata.
"Owek owek owek..."
Baby Imam dan Yusuf menangis. Febby beranjak mengecek popok mereka, namun popoknya masih kering. Mumpung Verrel masih khusuk dengan tasbih ditangan, Febby buru-buru menyusui salah satunya dengan membelakangi Verrel. Entah kenapa ia masih malu kalau sampai Verrel tau. Padahal kalau dipikir-pikir Verrel kan sudah melihat semuanya. Namun ternyata mereka masih saja menangis.
"Udah dong jangan nangis, Bunda bingung kalau kalian nangis terus kayak gini..."
Dibujuk malah tangisannya semakin keras. " Kok nangis terus sih, udah dong sayang..." Febby malah ikut menangis.
Verrel cepat menyelesaikan dzikirnya, lalu menenangkan kedua bayi laki-lakinya itu dengan digendong sambil melantunkan shalawat Nariyah dan shalawat Nabi. Mereka berhenti menangis, bahkan tertidur bak mendengarkan negeri dongeng. Febby heran, kenapa dengan mudahnya Verrel bisa menenangkan mereka.
"Kalau mereka nangis, Bunda jangan panik, kalau Bunda panik yang ada mereka tambah nangis..." Ucap Verrel setelah mereka meletakkan baby itu ke tempat tidurnya.
Verrel kemudian menyeka air mata Febby yang masih membekas di pipi.
"Senyum dong jangan cemberut..." bujuknya saat wajah istrinya itu masih menunjukkan kesedihan.
Febby melebarkan pipinya pakai tangan agar terlihat tersenyum lebar. Dengan gemas Verrel mencium pipi istrinya yang tembem itu. Febby tertegun menatap tingkah Verrel yang meninggalkannya tidur begitu saja usai mencium pipinya.Dalam perjalanan, Dino bertemu dengan Lisa mamanya Andin yang lagi mencari seseorang. Lantas ia menghentikan kendaraannya dan menghampiri Lisa. Tapi Dino justru dituduh menculik Andin oleh Lisa, sehingga orang-orang disekitarnya langsung memukuli Dino tanpa ampun.
"GEDEBAK GEDEBUK..."
Wira tampak babak belur sebelum menjelaskan apa-apa.
"Kita bawa aja ke kantor polisi pak" ucap Lisa.
Andin yang hendak melintas ditempat itu, terkejut melihat ada kerumunan dan mamanya.
"BERHENTI..." Teriak Andin saat melihat Dino sudah tak berdaya.
"Andin..., Kamu kok ada disini?" Gumam Lisa kaget.
"Kita harus bawa dia ke kantor polisi, dia sudah menculik anak Ibu ini" ucap salah satu dari mereka.
"KALIAN YANG SEHARUSNYA DIBAWA KE KANTOR POLISI, KARENA KALIAN SUDAH MAIN HAKIM SENDIRI..." Teriak Andin segera menolong Dino.
"Mmm mama pikir dia yang nyulik kamu, maaf ya Bapak-bapak ini salah paham"
"HUU..."
"MAKANYA BU JANGAN ASAL NUDUH DULU..."
"HARUS TANGGUNGJAWAB TUH SAMA ANAK ORANG..."
Berbagai macam reaksi kesal mereka terhadap Lisa. Andin membantu Dino masuk ke mobil.

KAMU SEDANG MEMBACA
Suara Hati
General FictionApakah dibenak kalian pernah terpikir, bahwa didunia ini ada seorang Dosen tampan yang killer dan tegas takluk dengan seorang gadis yang berhijab dan berpenampilan sederhana? Mereka adalah Ammar dan Bella. Bella sering datang ke kampus, karena Bella...