Oke, kita lanjut dengan Aish yang masih menikmati spa di jacuzzi at Fairmont hotel. Pijatan pijatan lembut dari pelayan hotel membuat tubuh mereka lebih terasa enteng. Selama ini Bella tidak pernah bersantai-santai meregangkan otot, jadi Bella benar-benar menikmati suasana tersebut. Setelah selesai dan di tinggalkan pelayan, Aish kembali berendam membersihkan tubuh. Lalu berdiri berhadapan saling menatap.
"Gimana? Apa rasa penatnya sudah hilang?" Tanya Ammar.
"Ya" Bella mengangguk senyum. "semua beban terasa hilang"
Diam-diam Ammar mengangkat Bella sampai ke tengah. Sama-sama menenggelamkan diri, berenang kesana kemari. Sesekali Bella memainkan air itu dan mencipratkannya ke wajah sang suami. Rona kebahagiaan mereka sangat terpancar. Sampai tak henti-hentinya saling jahil diselingi tawa.
"Saya jadi ingat dengan mama" Celetuk Bella duduk ditepi jacuzzi sambil menjuntaikan kedua kaki ke dalam air.
"Tapi itu masalah rumah tangga mereka"
"Iya saya tau, tapi sepertinya ada masalah lain yang ditutupi mama, tapi saya tidak tau apa"
"Sebaiknya sayang ketemu mama disaat papa Rifki sudah berangkat kerja, supaya tidak mengganggu"
"Iya juga ya mas"
Disisi lain, Alan tengah mengantar Mawar menuju mobil yang terparkir. Secara tak sengaja sepatu Mawar menginjak batu bulat, sehingga hampir tergelincir. Untung Alan berada di sampingnya, jadi Alan bisa menahan tubuh yang sedang mengandung tersebut.
"Kamu tidak apa-apa?" Tatapan Alan begitu dalam.
"Ss saya tidak apa-apa" Tampak Mawar menjawab dengan gugup, namun tubuhnya masih ditopang oleh tangan Alan.
"Menurut aku, kamu tidak perlu melakukan kejahatan terhadap Bella"
Mawar tercekat segera berdiri. "Apa maksud kamu?"
"Kalau kamu berbuat jahat sama Bella, otomatis Ammar akan membenci kamu, bahkan selamanya"
"Benar juga apa kata Alan, pasti Ammar akan semakin membenciku" Mawar membatin sambil menatapnya, lalu lekas mengeluarkan kunci mobil.
"Aku duluan" Pamitnya.
"Aku tidak mau kamu mencelakakan Bella, apapun caranya, aku harus membuat kamu untuk tidak melakukannya" Gumam Alan setelah Mawar masuk ke mobil.Melihat ada mobil bak yang membawa berbagai macam bunga hias dan sebagainya, Verrel berteriak dari atas motor memintanya berhenti.
"APA...?" Si supir bukannya berhenti malah bertanya balik.
"BERHENTI SEBENTAR, SAYA MAU BELI BUNGA SAMA POTNYA..." Verrel kembali berteriak.
Akhirnya sang supir menepikan mobilnya. Verrel langsung menghampiri dan melihat-lihat bunga aster dan anggrek. Bunga itu tampak cantik-cantik dan anggung. Jenis warnanya juga berbeda-beda, tapi si supir bilang kalau bunga-bunga itu tidak dijual.
"Saya mohon pak, bunganya dijual ya, soalnya istri saya sangat menginginkan bunga ini pak" Mohon Verrel menunjuk bunga aster berwarna orange. "Ayolah pak, saya sudah cari kemana-mana nggak ada yang bunga ini"
"Ya udah deh, untuk menyenangkan istrinya kan?"
"Iya pak"
Setelah dibayar, si supir menaruhnya didalam plastik. Sebenarnya Verrel susah sekali membawanya. Disisi lain harus memegang stang motor mengendarainya, disisi lain juga ia harus memegangi si pot bunga tersebut. Terpaksa ia sangat berhati-hati dan pelan sekali membawa motor. Bukan karena takut kecelakaan, tapi takut kalau bunganya rusak.
"Hehehe, akhirnya aku bisa menemukan bunga ini juga, ya walaupun bunganya berbeda, tapi mudah-mudahan Febby suka"
Butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke rumahnya, namun Verrel sengaja mematikan mesin motor agar tidak didengar oleh orang rumah, ketika memasuki halaman. Motornya ditempatkan disamping dekat tiang papan basket. Lalu ia mengangkat bunga itu setelah dikeluarkan dari plastik, pelan-pelan mendekati pintu.
"Tok tok tok..." Tanpa mengucapkan salam Verrel mengetuk pintu.
Karena bu Rahmi lagi sibuk ngepel di dapur, Febby yang membukakan pintu.
"Siapa ya?" Matanya celingak celinguk karena tidak ada siapa-siapa, namun ia terkesima dengan bunga aster yang terletak di lantai. "Wah cantik banget bunganya..., tapi ini punya siapa?" Febby mengamatinya dengan seksama sambil menghirup aromanya.
"Apa bunda suka?" Dari balik tembok Verrel menghampirinya.
"Ini Ayah yang beli?"
"Hmm..." Sembari mengangguk.
Febby spontan mau memeluknya, namun ditahan Verrel, karena di tangannya masih memegangi pot bunga itu. Verrel lalu mengambil alih bunga itu dan meletakkannya kembali.
"Makasih ya sayang..." Ucap Febby memeluk tubuh Verrel sembari mendongak kearahnya.
Verrel pun menunduk, menatap keindahan wajah Febby yang menyunggingkan senyuman manis.
"Cup..." Tiba-tiba bibir Febby mengecup dagu Verrel, sebagai ungkapan terimakasih, sementara jemari Verrel mengelus kening sekaligus rambut panjangnya. "Masuk yuk"

KAMU SEDANG MEMBACA
Suara Hati
General FictionApakah dibenak kalian pernah terpikir, bahwa didunia ini ada seorang Dosen tampan yang killer dan tegas takluk dengan seorang gadis yang berhijab dan berpenampilan sederhana? Mereka adalah Ammar dan Bella. Bella sering datang ke kampus, karena Bella...