Bella bangkit dan meletakkan sebuah foto pernikahannya di sisi ranjang, yang diambilnya dari dalam laci. Kemudian bergerak ke dapur. Ketika Ammar meletakkan baju kemeja dan celana bahannya diatas tempat tidur untuk dipakainya besok, ia terkejut kenapa ada sebuah foto jatuh ke lantai? Mungkin tak sengaja tersenggol oleh pakaiannya. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 10 malam, tapi ia sudah mempersiapkannya. Ia seolah-olah mengira kalau ini sudah pagi.
Ammar lalu memungut foto pernikahannya tersebut, memperhatikannya dengan seksama. Barulah ia menyadari kalau Bella memang benar istrinya.
"Kenapa mas?" Tegur Bella pura-pura tidak tahu apa yang sedang di pegangnya.
"Oh, ini kok ada foto disini?"
"Oia, tadi rencananya mau saya pajang di kamar, tapi saya lupa beli bingkainya"
"Oo begitu, ya udah, nanti saya pasang"
"Besok saja mas, kan bingkainya belum dibeli, lagipula ini masih malam"
Ammar menghela nafas dalam-dalam, mengiyakan perkataan Bella.
Sementara dari dalam kamar Febby, terdengar ada suara seseorang mengucap salam sambil mengetuk pintu. Cepat-cepat ia membuka pintu. Ternyata pesanan pizzanya datang.
"SIAPA BUNDA...?" Dari dalam Verrel lekas keluar ingin mengetahui siapa yang mengetuk pintu, namun ia hampir menubruk Febby yang membawa pizza.
"Cepet kan..., makanya harus sabar, nggak boleh emosi nggak boleh cepet marah..."
"Aku nggak marah sama bunda kok"
"Tadi ngomel-ngomel hayo..."
"Iya, jangan bawel Ayah udah laper" Verrel ingin mengambil pizza dari tangan Febby, namun Febby menjauhkannya.
"Harus sama-sama dong nggak boleh duluan"
Tapi setelah dibuka tangan Verrel lebih dulu sampai menyentuhnya.
"Aduuh..." Tangan Verrel disentil Febby.
Akhirnya Verrel mengalah, menunggu Febby yang menuang minuman lemon yang dibuatnya sendiri, baik untuk Verrel dan juga untuk dirinya.
"Oia, gimana dengan lokasi cafenya? Katanya udah dapet" Tanya Febby disela makannya.
"Sebentar" Verrel kemudian ke kamar ngambil ponsel. "Bunda harus lihat rekaman ini" Ia memperlihatkan rekaman area cafe yang akan disewanya.
"Bunda sih setuju banget yah, tempatnya juga oke, tapi, biayanya mahal nggak?"
"Standar kok, kita bisa sewa tempat itu"
"Ya udah yah, bunda setuju"
"Oke, kalau gitu besok Ayah akan telepon pemiliknya"
Dari dalam kamar, Vani menghubungi Rifki, namun suara nada dering milik Rifki begitu dekat terdengar. Lantas Vani mencari arah suara telepon itu. Ternyata ponsel Rifki ada didalam laci lemari pakaian.
"Kok bisa ada disini sih? Terus gimana caranya aku ngehubungi mas Rifki kalau hp nya ketinggalan, apa aku telpon ke kantornya aja? Siapa tau masih di kantor"
Vani menelpon ke kantor, namun tidak ada yang mengangkat.
"TING TONG TING TONG..."
Mendengar suara bel Vani lekas membuka pintu.
"Assalamuallaikum" Rifki mengucapkan salam.
"Wallaikumsalam"
Rifki terlihat begitu lelah memasuki rumah tanpa membawa tas kantor seperti biasa.
"Oia tasnya mana mas? Kok tumben mas nggak bawa tas?" Tanya Vani mengikutinya sampai ke kamar.
"Ketinggalan di kantor aku lupa"
Disisi lain disaat Bella terlelap tidur, Ammar membuka layar ponselnya. Melihat semua foto-foto pernikahannya dengan Bella dan juga foto-fotonya bersama Febby. Ia terus mencoba mengingat, tapi sayang tak ada satu memori pun yang ada dalam ingatannya. Itu membuatnya kesal dan menampar wajahnya sendiri sebagai pelampiasan.
"Aaagh..." Teriakannya tertahan berharap Bella tidak mendengar.
"Kenapa mas?" Bella mendengar juga.
"Tidak apa-apa, saya cuma mimpi buruk saja"
"Istighfar mas, baca doa" Bella mengusap-usap lengan Ammar agar lebih tenang.
"Astaghfirullahaladzim..., astaghfirullahaladzim..."
Keesokan paginya, Verrel siap-siap ingin mengajak si kembar jalan-jalan, untuk menghirup udara pagi. Dari dalam stroller si kembar juga tampak senang menghadapi cuaca pagi. Namun saat bu Rahmi ke depan mau membuang sampah, ia keceplosan kalau Imam kemarin jatuh dari ranjang. Tentu saja Verrel kaget. Verrel memeriksa sekujur tubuh Imam, namun sepertinya tidak ada bekas luka atau memar sedikitpun.
"Tapi nggak ada yang luka bu" Protes Verrel.
"Mungkin karena jatuhnya kemarin diatas bantal, jadinya nggak kenapa-napa"
"Ibu tunggu disini jagain mereka" Verrel lekas masuk memanggil Febby dengan berteriak, namun Febby sibuk mengiris bawang sambil terisak-isak karena perih.
"Aduh..." bu Rahmi baru sadar kalau ia sudah melanggar janji untuk tidak mengatakannya kepada Verrel. "Kenapa saya bisa keceplosan sih? Gimana ini, pasti non Febby marah besar"
"Oh disini rupanya aku panggil-panggil nggak denger" Ucap Verrel dari belakang Febby.
Namun terlihat Febby masih mengiris bawang sambil mengeluarkan air mata. Febby yang mengetahui gelagat Verrel mau marah itu langsung beracting tersedu-sedu, sehingga Verrel hanya melepaskan nafas kasar.
"Kenapa Imam kemarin bisa jatuh dari ranjang? Memangnya di tinggalin gitu aja apa? Udah tau mereka udah belajar merangkak, kenapa di tarok di ranjang? Seharusnya di tempat tidurnya, kalau disana kan mereka belum bisa naik-naik" Dengan panjang lebar Verrel mencecarnya, sampai-sampai Febby tidak tau mana yang harus di jawabnya lebih dulu. "Kok nggak jawab sih?"
"Gimana bunda mau jawab kalau pertanyaannya banyak banget"
Kini Febby meletakkan pisaunya, kemudian memberanikan diri menatap kemarahan suaminya.
"Kenapa Imam bisa jatuh? Terus bunda nggak ngasih tau Ayah lagi"
"Kemarin mereka tidur, terus bunda tinggalin sebentar ke dapur, sebentar aja, tapi, ya gitu..." Sembari menahan gugup dan takut Febby menjelaskannya. "Bunda minta maaf, bunda bukannya nggak mau ngasih tau, tapi bunda takut kalau Ayah marah"
"Tapi Ayah akan lebih marah lagi kalau taunya dari orang lain"
"Maaf..."
"Kita ini udah jadi suami istri, jadi nggak ada yang harus di tutup-tutupin, apapun permasalahannya harus tau, harus saling jujur"
Febby meraih kedua tangan Verrel. Meremasnya perlahan, meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
"Lain kali nggak boleh kayak gitu lagi" Ucap Verrel kemudian, Febby mengangguk menatap kedua mata bulat suaminya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suara Hati
General FictionApakah dibenak kalian pernah terpikir, bahwa didunia ini ada seorang Dosen tampan yang killer dan tegas takluk dengan seorang gadis yang berhijab dan berpenampilan sederhana? Mereka adalah Ammar dan Bella. Bella sering datang ke kampus, karena Bella...
