Badai Matahari

273 28 23
                                    

Warning!
Sad Part!

Option
a. baca setelah next bab rilis
b. tetap baca, resiko ditanggung pembaca

Rekomendasi option a

.

.

. 

Krieeet!!
Suara pintu berderit ketika Taehyungie baru saja sampai di kamarnya dan Jimin. Ia berjalan dengan langkah gontai dan sedih. Jungkookie sedang marah padanya. Ia tak mendapat sedetikpun untuk bisa bermesraan dengan kekasihnya hari ini.

Sejenak Ia merenung. Sejak awal Ia memang salah. Ia terlalu meromantisasi perasaan Jimin padanya. Bahkan setelah Ia tahu Jimin menyukainya, perlakuannya juga berubah. Ia bahkan memberi telur paskah tanda 'cinta terbalas' pada Jimin yang seharusnya tak perlu. Jungkookie lebih berhak menerima itu.

Belakangan, Jimin juga sering mengganggu pikirannya. Entah karena Ia tak bisa menolak Jimin, atau karena Ia tak ingin menyakiti Jimin yang sudah memberikan banyak ketulusan padanya. Saat Ia sulit atau senang, Jimin adalah sahabat satu-satunya yang mendukungnya. Ia hanya tak ingin Jimin kecewa. Ia tak ingin menyakiti Jimin.

Andai saja..
Jika dalam alam semesta ini.. 
Andai saja.. tali merah miliknya bukan kepada Jungkookie. tali merah itu, pastilah milik Jimin. Pesona Jimin dan hati tulusnya telah meluluhkan hati Taehyungie yang dingin, sampai Ia lupa Jungkookie adalah kekasih sejatinya.

Sejujurnya, sekali waktu, Ia mencoba membayangkan jika Ia berjalan bersama Jiminie. Mencintainya sebagai kekasih. Apa dia benar-benar akan bahagia?

Tapi sepanjang hidupnya ini, tak ada yang lebih Ia cintai selain Jungkookie. Taehyungie bukan tipe orang yang mudah melupakan masa lalu. 

Dulu, saat mereka masih remaja dan dalam masa training. Jungkookie adalah satu-satunya temannya. Walaupun Jungkookie selalu berkata bahwa Taehyungie yang membuatnya percaya diri dan menariknya dari rasa keraguan. Tapi sejujurnya, Jungkookielah yang membuat Taehyungie.. berani untuk melanjutkan hidup diatas silau gedung yang panas ini. Melintasi dunia dengan anak itu. Sampai cinta itu tumbuh.

Semua orang mencaci mereka saat tahu bahwa cinta mereka nyata. Tapi Jungkookie, sedikitpun tak pernah putus asa. Bahkan setelah Ia mencampakkannya. Sepanjang tahun, tak ada satu alasanpun yang bisa membohongi dirinya sendiri bahwa satu-satunya yang ingin Ia selamatkan adalah Jungkookie. Walaupun dia harus mati.

Taehyungie masih berdiri di ambang pintu sampai akhirnya melihat Jimin duduk di tempat tidur. Ia tak membaca Norwegian Wood lagi, tapi hanya duduk bermain ponsel dengan kaki selonjor. Ia melihat Jimin sekali lagi untuk memastikan perasaanya.

"Taehyung-ah" panggil Jimin setelah menyadari sahabatnya hanya berdiri di ambang pintu, "ada apa denganmu?"

"..." Taehyungie belum menjawab, Ia hanya melangkah menuju kasur mereka.

"Kau kenapa?"

"Jungkookie sudah melihatnya" ucap Taehyungie langsung.

Jimin terdiam, "melihat apa?" tanya Jimin kemudian

"Rekaman itu"

Seketika suasana menjadi hening. Jimin tak tahu harus bilang apa atau harus bagaimana. Mendengar Jungkookie sudah marah, pasti masalah rekaman itu bukan hal yang sederhana bagi Taehyung dan Jungkookie.

"Em.." Jimin bergumam ragu, masih melihat Taehyungie yang putus asa dan sedih, "mianhaeyo, Taehyung-ah" ucap Jimin

Taehyungie mendesah, "bukan salahmu" jawabnya lembut

"Kau tak bisa menyembunyikannya lagi dari Jungkookie kan? Kau harus segera mengatakannya" tambah Jimin lagi

"Dia tidak mau mendengarkanku"

My YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang