Namjoon dan Jin : 5 - Hyung

130 11 2
                                    

Hari sudah menjelang pagi dan Seokjin bangun paling awal, setelah Jimin pergi, Ia hanya duduk di meja dapur sambil menuang segelas susu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari sudah menjelang pagi dan Seokjin bangun paling awal, setelah Jimin pergi, Ia hanya duduk di meja dapur sambil menuang segelas susu. Sejak kepulangannya dari Amerika dan apa yang telah Ia dengar dari Namjoon dan Manager-nim, Seokjin terus memikirkannya. 

Keputusan Taehyungie untuk mengakhiri kontrak dengan HYBE pasti sebuah pukulan besar untuk grupnya, karena tanpa satu orang saja anggota grup, maka grup ini bukan BTS lagi. Mereka hanya akan hidup sebagai solo.

Bagi hyung tertua itu, grup adalah hal yang sangat berharga, tak hanya sebatas rekan kerja bertahun-tahun, anggota yang semuanya lebih muda darinya adalah keluarganya, sahabatnya, teman-temannya yang setia. 

Terlalu sakit hati baginya jika grup ini harus disband. 

Seokjin kembali teringat pada tahun 2016 lalu saat Dispatch mendatangi grup, mendatangi kedua adik kecilnya dan menuduh bahwa mereka adalah pasangan gay lalu mengancam akan menghancurkan grup jika tak menyetujui perjanjian-perjanjian itu.

Ditambah masalah internal yang amat membabi buta, Ia tak akan bisa menyalahkan Taehyungie jika memang anak itu tak kuat lagi untuk bertahan, karena sejujurnya dirinya pun begitu, baginya bekerja disini hanyalah sebuah alasan untuk tetap mempertahankan persahabatan dan sejarah. Jika grup benar-benar disband, Ia tak hanya akan keluar dari grup tapi juga tak akan pernah ingin muncul di depan kamera seumur hidupnya lagi.

Ia mengira tahun 2018 adalah tahun yang paling berat baginya dan bagi semua member yang hampir memutuskan untuk berpisah. Sebelum malam penghargaan MMA itu, beberapa bulan saat Taehyungie mencoba membunuh dirinya di toilet, saat tak ada lagi harapan untuk membuat album lagi, Ia kira harapannya telah pupus.

Tapi bukankah pada kenyataannya tidak? tahun itu semua member telah sepakat untuk tetap berjuang, menata kepingan hati itu dari awal lagi, menyelesaikan masalah internal satu demi satu.

Hingga hari ini, tahun 2020, member harus memutuskan apakah akan memperpanjang kontrak atau berhenti.

"Jin hyung?" sebuah suara memanggilnya, memecah lamunan dari kekacauan pikirannya. Seokjin menoleh ke asal suara

"Oh, Namjoon-ah"

Namjoon duduk di sebelah Hyungnya

"Kau sudah rapi pagi ini, apa kau mau pergi?" tanya Seokjin langsung setelah memperhatikan setelan yang dipakai Namjoon pagi ini

"Hari ini aku harus kembali ke studio untuk melanjutkan proyek dan bertemu PD-nim"

"tapi ini terlalu pagi"

"yah.." jawab Namjoon tak melanjutkan kalimatnya, Ia mengalihkan pembicaraan, "Lalu Seokjin hyung, apa yang sedang kau pikirkan?" 

Seokjin tersenyum getir, Ia meminum susu dari gelas yang sudah Ia siapkan, setegak demi setegak lalu menjawab, "aku masih mengantuk" jawabnya bohong

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seokjin tersenyum getir, Ia meminum susu dari gelas yang sudah Ia siapkan, setegak demi setegak lalu menjawab, "aku masih mengantuk" jawabnya bohong

"Kau bisa tetap tidur, hari ini kita bisa istirahat"

Seokjin mengangguk dingin

"Apa hyung benar-benar tidak memikirkan apapun? Hyung bisa mengatakan apapun padaku"

Seokjin belum menjawab, Ia membuang wajahnya dari Namjoonie, menatap lurus ke depan sesekali menunduk melihat genangan susu di dalam gelas, "Kapan kita akan bicara tentang kontrak?"

Namjoon tertegus terdiam mendengar pertanyaan dari Hyung tertuanya, Ia sudah menduga, mungkin itulah yang dipikirkan Jin hyung

Namjoon menggeleng lemah, "Aku akan bicara padanya secepatnya, jika Taehyungie sudah memutuskan, setidaknya kita tahu apa alasannya, Jin hyung"

"hm yah" desah Jin hyung kecewa

"Seokjin hyung.. apapun yang terjadi, ada atau tidaknya grup, orang-orang ini sama"

"..."

"Jika pada akhirnya kita akan berakhir solo-"

"Aku tak memikirkannya" tukas Seokjin langsung memotong perkataan Namjoon

"... Kau belum memberitahu alasannya"

Seokjin terdiam sejenak mengambil jeda waktu hingga akhirnya menjawab, "Yah... apa aku terlalu naif jika mengatakan aku mencintai member dan grup?"

Namjoon menggeleng, "tentu saja tidak"

"Di dunia musik yang kejam ini, tak ada yang bisa menghancurkan motivasiku selain apa yang paling berharga menurutku"

"..."

"Grup adalah alasanku terus bernyanyi, kau tau Namjoon-ah, aku adalah yang paling lambat dari semuanya, aku tak bisa membuat musik sepertimu atau menari lebih baik seperti Hobi atau punya bakat suara lain seperti Jungkookie"

"Jin hyung jangan berkata seperti itu"

"tidak.. itulah yang kurasakan, maka jika grup disband, maka aku tak akan bertahan sebagai solo"

"Jin hyung, meskipun kita akan berlanjut sebagai solo tapi kau punya aku, Suga hyung dan Hobi hyung, kami pasti akan terus membantumu sampai kapanpun, setidaknya aku.. bisa membantumu kapanpun kau ingin membuat musik, kau tau"

Seokjin terkekeh lembut, "kau tidak mengerti, Namjoon-ah?"

"..."

"Aku bukan kehilangan alat untuk membuat musik aku hanya.. kehilangan motivasi"

Namjoon terdiam, Ia baru tahu apa yang Seokjin hyung masuk pagi ini, mungkin bagi dirinya, sejarah grup dan kenangan mereka amatlah berharga hingga tak ingin menumpuk memori itu dengan hal hal yang tak ingin Ia lakukan tanpa grup. Seokjin hyung adalah orang yang sangat setia.

"Mianhaeyo" kata Namjoon pelan

"Aniyo"

"Namjoon-ah, aku sangat berharap Taehyungie bisa melanjutkan kontraknya, tapi jika apa yang Ia rasakan begitu berat, aku tak akan menyalahkannya. Dia berhak memilih hidupnya sendiri"

"..."

"dan kau.. aku mempercayaimu atas segala negosiasi"

Namjoon mengangguk, "Jangan khawatir Jin hyung, aku tahu apa yang Taehyungie pikirkan, aku hanya tidak tahu apa yang telah Ia alami. Aku akan.. bicara dengan sebaik-baiknya"

Jin hyung tak menjawab, hanya mengangguk mengerti.

"Mari jangan pikirkan dulu dan kembali beristirahat, Jin hyung"

"Aku ingin begini sementara"

Namjoon menghela nafas, "baiklah, jika Hyung butuh sesuatu, kau bisa mengatakan padaku juga"

"..."

Namjoon tak melanjutkan kalimatnya, hanya.. masih ingin tetap menemani Jin hyungnya, masalah ini pasti amat serius bagi Seokjin hyung juga.

"Sebelum pergi ke perusahaan hari ini, aku akan pergi ke Ilsan, apa hyung mau ikut?"

"Ada apa di Ilsan?"

"Bersantai di Lake Park Ilsan sambil menulis lirik"

Seokjin tersenyum tipis, "apa cukup aman?"

"kuharap"

"Kau sudah lama tak pergi jalan-jalan"

Seokjin berpikir sejenak, "hm ya, itu ide yang bagus kurasa"

"Ayo pergi kesana"

"hm" jawab Seokjin singkat, senyum tipisnya merekah lagi menyetujui perkataan Namjoon. Mungkin Namjoon benar, sesekali Ia harus pergi keluar untuk melihat seperti apa rupa dunia. Tapi apakah cukup aman? Tapi Namjoon bilang itu aman, maka itu akan aman.

---

My YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang