Jimin beranjak dari studio dimana Ia meninggalkan Taehyung dan Jungkook. Tak seperti yang Ia katakan bahwa Ia terburu-buru ke studio Suga, Ia justru malah pergi, menyusuri lorong sepi menemukan sudut gelap di balik beberapa kotak penyimpanan. Di sanalah ia meraih sebotol vodka dari saku jaketnya, pilihan yang dibuatnya untuk melupakan sejenak segala yang menyakitkan.
"Semoga ini membantu," bisiknya, lalu membuka tutup botol dan meneguknya dengan rakus. Rasa hangat menyebar di tenggorokannya, mengaburkan batas antara kenyataan dan pelarian. Setiap tetes vodka membawa ingatan akan tawa dan senyuman yang kini terasa jauh, seolah menjauh darinya.
Akhir-akhir ini dia merasa amat stress hingga tak bisa membendungnya, saran dari terapis psikologisnya juga tak Ia dengarkan, karena Ia merasa tak berguna, apa yang Ia rasakan seolah hanya bisa diselesaikan oleh dirinya sendiri dan orang yang bersangkutan
Ia tak berencana mabuk karena Ia tahu, besok adalah comeback dan Ia tak bisa bertindak sembarangan. Ia hanya meneguk beberapa agar dapat menghilangkan rasa sakit di hatinya, memberinya sedikit tenang dan dopamine. Ia tak akan mabuk.
Jimin terdiam beberapa saat, Ia menutup kembali botol vodka miliknya, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku jaketnya.
Sesaat lagi, Ia akan pergi ke studio Suga Hyung, tak ingin langsung pulang.
--
--
"Kau baru sampai?" tanya Suga sesaat setelah Jimin datang ke studionya, menaruh tasnya sembarang lalu langsung merebahkan dirinya di sofa berwarna hitam milik Suga. Sementara pemiliknya masih duduk di kursi putar di depan komputernya
"Bukankah kau berencana membatalkan latihanmu malam ini?" tanya Suga sekali lagi
Jimin mendesah, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang dikelilingi alat musik dan peralatan studio. "Punggungku seperti mau patah rasanya." Suaranya lemah, mengekspresikan rasa letih yang sudah menggerogoti dirinya.
Suga terkekeh lembut, jawaban Jimin yang tampak mengada-ada itu membuyarkan fokusnya dari ratusan tuts nada di papan partitur virtual yang sedang digarapnya. Ia tak menjawab, tak menanggapi Jimin juga. Suga tahu, kadang Jimin hanya butuh waktu untuk mengeluarkan keluh kesahnya tanpa harus mendapat respons yang berarti.
"Apa kau punya patch panas?" tanya Jimin, berharap ada sedikit perhatian yang bisa membuatnya merasa lebih baik.
"Di bawah meja," jawab Suga singkat.
Jimin meraih patch panas itu dan segera menempelkannya di punggungnya yang pegal. Dia menutup matanya sejenak, membaringkan tubuhnya di sofa single panjang itu, lalu merasakan kehangatan yang mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. Suasana di studio terasa tenang, hanya terdengar suara ketikan Suga di keyboard dan lagu yang sedang digarapnya.
"Kadang aku merasa lebih baik jika aku bisa hanya terbaring seperti ini," Jimin mengeluh sambil membuka matanya. Dia menoleh, menatap Suga, yang tampak sangat fokus. "Tapi sepertinya kau tidak akan berhenti bekerja sampai pagi, ya?"
Suga mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Ada deadline yang harus dipenuhi," ujarnya.
Jimin menghela napas. Dia tahu Suga terlalu keras pada dirinya sendiri. "Kau tahu kau akan kelelahan kan?"
"Kalau kau merasa lelah, lebih baik istirahat saja. Aku tidak mau mendengar keluhanmu nanti," Suga menjawab dengan nada yang lebih tajam dari yang dia maksudkan. Seolah mengabaikan kehadiran Jimin dan perasaannya.
"Ya, aku mengerti," balasnya pelan. Ia tahu, kepada Suga Ia tak akan pernah mendapatkan reaksi yang Ia harapkan, Suga akan selalu mengabaikan perasaanya. Jimin terkekeh tipis menahan rasa kecewanya, hampir menyesal karena melepaskan rasa lelahnya di tempat yang dirasa tak tepat.

KAMU SEDANG MEMBACA
My You
RomanceKeputusan apa yang akan diambil Taehyung dan Jungkookie setelah mengalami badai besar pada 2017-2018? Mengingat banyak hal telah menentang cinta mereka, Taehyung tak bisa membiarkan orang-orang membenci dirinya dan Jungkookie, maka berpisah adalah k...