"Kau sudah siap?" Ucap Jimin mencoba bersikap biasa saja. Ia menatap Taehyungie untuk terakhir kalinya. Dalam hatinya, mulai detik ini, Ia akan melupakan sahabatnya dan melupakan perasaan cinta itu selamanya.
Taehyungie mengangguk, "Gomawo, Jimin-ah"
Jimin menggeleng, "Aniyo" ucapnya singkat, "gomawo sudah percaya padaku sekali lagi"
"..." Taehyungie terdiam sejenak, "Dia adalah segalanya bagiku. Tolong lakukan yang terbaik"
Jimin tersenyum tipis, mengelus bahu kanan sahabatnya, "Aku masih tetap akan minta maaf padamu"
"..."
"Kuharap kau berhasil, Taehyung-ah..." Ucapnya lirih, "Soal Jungkookie.. aku akan minta maaf lagi padanya"
"Kau sudah melakukan yang terbaik"
Jimin tersenyum lagi. Ia terdiam beberapa saat lalu berkata, "Pergilah siapkan beberapa makanan dan api unggun. Aku akan memanggilnya 15 menit lagi"
Taehyungie mengangguk patuh. Kali ini Ia masih mempercayai Jimin. Jimin adalah sahabatnya, dan dia bukan orang yang tidak baik. Perasaan cintanya memang membuat masalah besar dalam hubungannya dengan Jungkookie. Tapi Taehyungie tahu, Jimin tak pernah bermaksud demikian. Setelah ini, Jimin pasti akan lebih menutup dirinya dan berhati-hati, sepanjang tahun, entah berapa lama.. Ia akan dibayangi rasa bersalah.
Taehyungie menghela nafas sekali lagi sambil melihat Jimin berjalan menjauh dari tenda tepi danau. Ia merenung sejenak. Siang ini Ia sama sekali tak bicara dengan Jungkookie kecuali saat syuting saja. Jimin juga begitu, sepertinya.
Jimin pada akhirnya mengajak beruang musim dingin itu bicara lagi. Ia sudah menjelaskan apa yang Ia katakan pada Jungkookie semalam. Dan meskipun belum mendapat maaf dari Jungkookie, anak itu tidak menyerah. Setidaknya saat ini, walaupun Ia harus menjaga jarak, Jimin tetap setia dan menjadi teman baik.
Mungkin Ia akan menghindar beberapa waktu sampai entah kapan, Ia hanya ingin menutupi wajahnya dari dirinya dan Jungkookie. Dan langkahnya untuk membuatnya bertemu dengan Jungkookie adalah pertimbangan yang besar. Jimin tahu Ia sudah kehilangan harga dirinya. Ini adalah langkah terakhirnya untuk berharap keadaan kembali ke semula.
Sementara itu, Jimin berjalan ke rumah utama dengan ragu-ragu. Saat ini kamera masih menyoroti rumah utama karena hyungline masih disana. Jungkookie tak akan menolak bicara padanya disaat seperti ini.
Namun seketika Jimin terhenti. Jantungnya berdebar makin kencang saat langkahnya tinggal beberapa meter lagi dari rumah utama. Ia masih berdiri di balik bayangan yang selangkah lagi dapat masuk dalam garis cahaya kuning dari lampu rumah. Ia menghela nafas berat, kembali meyakinkan dirinya bahwa Jungkook dan Taehyung akan baik-baik saja, dan dengan begini Jungkookie akan memaafkannya.
Jimin menadahkan satu telapak tangannya ke langit, memeriksa apa hari ini gerimis. Walau bulan tak nampak indah karena terhalang sisa mendung kelabu malam hari.
Dilihatnya anak kelinci itu masih duduk di kursi panjang teras depan, di dekat kulkas minuman kaleng sambil memasang perban di tangan kanannya. Ia bersiap untuk berlatih boxing lagi.
"Jungkook-ah" panggil Jimin lembut, mendekati Jungkookie hati-hati.
Jungkookie menoleh. Tatapannya melunak, tak seperti malam sebelumnya saat Ia marah dan memaki-maki Jimin karena mereka bertengkar. Mungkin Jungkookie sudah banyak merenung hari ini, mungkin juga Ia tak bisa menghindari Jimin karena kamera masih menyorot.
"Oh" jawabnya tipis hampir tak terdengar.
"Kamarmu kebanjiran" kata Jimin dengan nada setengah memburu

KAMU SEDANG MEMBACA
My You
RomanceKeputusan apa yang akan diambil Taehyung dan Jungkookie setelah mengalami badai besar pada 2017-2018? Mengingat banyak hal telah menentang cinta mereka, Taehyung tak bisa membiarkan orang-orang membenci dirinya dan Jungkookie, maka berpisah adalah k...