"Jin hyung, kenapa kau sudah berkemas?" tanya Hobi yang berdiri di ambang pintu kamarnya dan kamar Jin hyung. Tatapannya terpaku pada punggung hyungnya yang terduduk sambil memasukkan beberapa barang ke dalam kotak pengemasan. Hobi bahkan mengabaikan kopi amerikano di tangan kanannya.
Seokjin menoleh sekilas, "oh, Hoba, aku sedang mengepak barang-barangku. Ada begitu banyak, aku akan mengirimnya pulang sebelum kita berpisah" ucapnya.
Hobi yang masih berdiri, senyumnya semakin pudar, tatapannya layu dan sedih. Setelah menghabiskan waktu beberapa hari di tepi danau, kini semuanya kembali seperti semula. Kenyataan bahwa mereka akan disband sebentar lagi.
"Tidak, hyung. Itukan masih lama, kita bahkan belum menandatangani kontrak sama sekali" ucap Hobi mencoba menahan hyungnya dan berjalan mendekat perlahan.
Seokjinnie mendesah, "tapi keputusan sudah dibuat" ucapnya tipis, "Meskipun begitu Hoba, ini semua tetaplah bukan akhir"
"Setidaknya kau harus menunggu paling tidak sebulan lagi" tawar Hobi
Seokjinnie belum menjawab, Ia menarik resleting terakhir kopernya lalu berdiri, menoleh pada Hoba, "Sudahlah, Hoba. Oh ya, aku membuat reservasi di sebuah restoran mewah di Seoul. Sebelum berpisah, ayo kita makan malam untuk terakhir kali"
Hobi tak menjawab. Tangannya mengerat, kopi di genggamannya mulai dingin.
Sementara Seokjin hanya menatapnya tanpa berniat membahas hal itu lagi. "Dimana Yoongi?" tanyanya sambil menepuk bahu kiri Hobi, mengaburkannya dari kesedihan.
"Di bawah" jawabnya.
"Namjoonie?"
"Pergi ke Gangnam" jawab Hobi tanpa nada
"Namjoonie ke Gangnam? Kenapa?"
"Aku tak tahu"
Seokjinnie terdiam sejenak, "hm, kalau begitu, ayo kita pergi ke dapur dan makan sesuatu" ucap Seokjinnie lagi sambil berjalan keluar dari kamarnya, "aku sudah lapar"
Sementara itu, Namjoonie masih berada di Gangnam. Sudah lama sejak jadwal grup dan dirinya sibuk, Ia tak pernah pergi ke Gangnam. Hanya kali ini setelah kemungkinan besar grup akan disband jadwalnya agak berkurang. Tak ada tempat lain yang Ia kunjungi selain studio milik rekan sesama produsernya.
Ia duduk di sofa tepi studio sambil menggenggam sekaleng cola dingin di tangannya. Kakinya duduk menyilang sementara tatapan matanya kosong. Ia tak bisa mengelak pada dirinya sendiri bahwa Ia sedih. Walaupun Ia bukan menjadi member paling favorit dalam grupnya. Tapi bulletproof telah membentuknya sampai jadi seperti ini. Walaupun banyak penderitaan, walaupun Ia tak begitu menyukai tingkah kekanak-kanakan maknae line atau kecanggungannya pada Hyungline. Tapi dalam dunia musik yang terasa seperti neraka ini, Ia tumbuh bersama mereka. Tak ada yang lebih mengerti dibanding member dan bahkan dirinya sendiri.
Berjalan di neraka ini seorang diri, itu bahkan akan lebih buruk lagi.
"Namjoon-ah" sebuah suara memanggilnya, membuat Namjoonie memecah lamunannya
"Ah" desahnya, "gwenchana" jawabnya
"Kau tak mengatakan apa-apa sejak tadi dan hanya duduk. Kau baik-baik saja, bro?" tanya rekannya lagi,
Dalam keadaan grupnya di ujung tanduk seperti ini, bagaimana Ia bisa merasa baik-baik saja. Jika harus menjawab jujur, Ia mungkin tak sanggup.
"Aku baik-baik saja" jawabnya
"Ah" jawab temannya, "Kami mau pesan maccas, apa kau mau juga?"
"Tidak" jawab Namjoonie lalu meletakkan kaleng cola dinginnya di atas meja lalu meraih tas slempangnya yang tak jauh dari sofa, "Aku mau pulang saja"
KAMU SEDANG MEMBACA
My You
RomanceKeputusan apa yang akan diambil Taehyung dan Jungkookie setelah mengalami badai besar pada 2017-2018? Mengingat banyak hal telah menentang cinta mereka, Taehyung tak bisa membiarkan orang-orang membenci dirinya dan Jungkookie, maka berpisah adalah k...
