***
"Kookie, kak Jin pulang!"
"Ssst, kak Jin jangan teriak nak. Kookie baru saja tidur."Jin hanya menggaruk tengkuknya kikuk membuat sang ibu menggelengkan kepalanya.
"Yasudah sana ganti baju seragammu dulu, setelah itu makan ya. Ibu panaskan dulu makanannya."Jin memangguk patuh, bergegas kekamarnya yang bersebelahan dengan adik bungsunya yang baru berumur 7 bulan. Mengganti bajunya dan bergegas menuju meja makan, manik cokelatnya berbinar mendapati masakan kesukaannya tersaji disana dan memakannya lahap.
"Makan yang banyak ya, biar cepat besar."bocah berumur tujuh tahun itu hanya mengangguk lucu dengan pipi mengembung terisi penuh oleh makanannya membuat sang ibu tersenyum gemas.
**
"Jijiji."
"Iya Kookie, sebentar ya. Kak Jin selesaikan PR kakak dulu setelah itu kita main."ujar Jin tanpa menoleh kearah si bungsu yang duduk dikarpet berbulu diruang tengah rumah mereka dan membuang bebek karet kesukaannya sembarang arah, mulai bosan. Merangkak mendekat kearah Jin yang sibuk sendiri membuatnya kesal dan memukul sang kakak dengan kotak pensilnya membuat si bocah yang baru duduk dikelas dua sekolah dasar itu mengaduh.
"Okay, satu soal lagi. Kookie sabar ya."ujar Jin mencoba memberi pengertian pada Kookie yang kini berusaha menaiki badan kakaknya yang duduk bersila didepan sofa, menjambak rambut cokelat pendek sang kakak keras membuat Jin menahan tangis karena sakit.
"Huuuua Kookie lepas, sakit..."
"Huuuuuweeeeee...."Jin panik, si bayi berpopok itu menangis karena terkejut mendengar suara cempreng nan kerasnya, wajahnya merah penuh air mata dengan tangan mungilnya masih setia menggenggam erat rambutnya membuatnya tak bisa berbuat banyak. Menunggu sang ibu yang sedang pergi ke minimarket diujung gang komplek rumah mereka untuk membeli stok popok si bungsu yang mulai menipis dan kebutuhan rumah lainnya dan itu masih cukup lama membuatnya meringis, Jin harus eottoke?
"Ibu pulang---Ya ampun, Jin kenapa Kookie menangis sampai seperti itu ? Dia jatuh ? Uuuh sayangnya ibu, sudah ya jangan menangis. Ayo mimi sama ibu."ujar sang ibu yang baru saja pulang, terkesiap melihat si bungsu sudah menangis kencang sampai airmatanya berderai lalu membawanya dalam gendongannya menuju kamar si bungsu meninggalkan Jin yang sudah terisak, ibunya tak tahu jika ia harus menahan perih dikepalanya karena dijambak kuat si bayi montok bertenaga gajah liar itu dan ia bersumpah demi apapun melihat beberapa helai rambutnya ikut tercabut dan tergenggam erat tangan mungil nan gemuk itu.
"Huuuuaaa Jin engga mau punya adik lagi..."
**
"Jijijiji."
"Jin, kok makannya dekat ayah ? Biasanya juga dekat Kookie. Tuh Kookie mau makan didekatmu."tanya si ibu heran melihat si sulung makan didekat sang ayah yang sibuk dengan cumi asam manis kesukaannya, Jin menggeleng pelan sembari menatap tak acuh si bungsu yang sibuk merengek sembari meraih udara, ingin mendekat kearahnya yang berada diseberang meja. Berhadapan.
"Jin, pindah saja. Kookie akan rewel jika tidak dituruti."
"Tapi..."
"Jin kan sudah besar, katanya akan sayang adik. Pindah dekat Kookie ya."Jin menatap sang ayah yang tersenyum lembut kearahnya membuatnya mengembungkan pipinya kesal, pindah kesebelah si bungsu yang berlonjak girang. Berceloteh sembari mengayun kakinya yang diatas kursi bayinya sembari sesekali menyemburkan bubur bayinya membuat celemeknya kotor. Jin menahan senyum, menahan diri untuk tidak mencubiti gemas kedua pipi gembul itu.
"Jijijiji."
"Iya, Kook. Sudah makan saja, kak Jin tak marah lagi kok."Jin tersenyum lebar diikuti si bungsu yang kini memperlihatkan gigi susunya yang masih sebiji membuat si ibu memekik gemas.
