---
Happy Reading, Chingu :)
"Baunya harum sekali. Ibu baru tahu kalau kamu pandai memasak, Tae."
Taehyung berjengit, untung saja panci sup yang tengah di pegangnya tidak tumpah. Menoleh kearah sang ibu seraya mencebik membuat nyonya Kim terkekeh kecil,"maaf, Tae. Kau terkejut ya?"
Taehyung semakin mencebik, memilih memindahkan isi supnya ke dalam mangkuk besar sebelum akhirnya di bawa ke meja makan untuk di hidangkan. Ia sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan semua ini. Ia juga berencana membawa masakan buatannya ke asrama Bangtan, karena kebetulan untuk sementara waktu ia dan sekeluarga tinggal di rumah yang ada di Seoul. Mungkin, ia akan sering-sering berkunjung ke tempat mereka. Lagipula, pihak agency tidak sekali pun melarang. Mereka malah senang dan sudah cukup membuat Taehyung bersyukur. Setidaknya, ia bisa melepas rindunya walau pun hanya sebentar.
Setelah semua makanan telah siap, sang ibu memanggil ayahnya untuk ikut bergabung dan mereka siap untuk menyantap hidangan yang di buat khusus oleh putri semata wayang mereka.
"Wah, masakan buatanmu tak kalah enak dengan masakan ibu. Kau mempunyai bakat alami menjadi istri idaman, Tae."celetuk sang ayah seraya menyendok kembali nasi dan sup buatan Taehyung yang cukup sedap menurutnya itu, Taehyung mencebik dengan pipinya yang terasa panas,"ayah apa-apaan sih. Aku kan hanya memasak sup miso dengan tahu dan menggoreng ikan saja."rengeknya, sang ayah dan ibunya malah tertawa geli melihatnya membuatnya semakin sebal. Ia tidak suka di goda hal-hal seperti itu. Memangnya, dia sudah cocok membina sebuah rumah tangga apa? Dia saja masih melajang hingga sekarang, hks.
"Aku bahkan tidak pernah berkencan, yah."rajuknya, bibir plumnya mengerucut."ya, makanya mulai sekarang kau harus mencarinya. Atau kau pacari saja salah satu dari member Bangtan. Ah, Jimin saja, bagaimana?"
"Ayah, Jimin itu sahabatku! Pantang bagiku berkencan dengan teman sendiri."sanggahnya cepat seraya membuat tanda silang di dada. Kepalanya menggeleng ribut dan sang ayah hanya terkikik."kalau begitu dengan nak Jungkook saja. Dia sepertinya menyukaimu, iya kan, yah?"keduanya saling berhigh five ria membuat Taehyung menganga lalu menelungkupkan kepalanya frustasi di atas meja. Ayah dan ibunya kembali terkekeh gemas. Ah, ternyata menggoda putrinya masih terasa menyenangkan seperti dulu.
"Sudah, jangan merajuk begitu. Kami kan hanya bercanda sayang."hibur sang ibu seraya mengusap pucuk kepala Taehyung dengan sayang, Taehyung hanya menatap sang ibu,"tapi kalau memang salah satu di antara mereka ada yang berjodoh denganmu, ibu dan ayah tidak keberatan sama sekali. Lumayan, Tae untuk memperbaiki keturunan kita hihi."
"Ibu!"
Lagi-lagi keduanya tergelak. Taehyung benar-benar tidak habis pikir. Oh, ayolah, masa iya, ia akan berjodoh dengan salah satu dari mereka?
Yang benar saja?!
.
.
"Ini tidak beracun, kan?"celetuk Yoongi sesaat Jimin mulai menata makanan yang sengaja di bawa Taehyung dari rumahnya setelah gadis itu dengan bangga menyatakan kalau semua itu buatannya sendiri, mendengarnya Taehyung langsung memberengut seraya memberi cubitan kesal di salah satu lengan Yoongi membuat pemuda berkulit pucat itu meringis, mengusap brutal kulit lengannya yang terasa terkelupas seraya melayangkan tatapan tajam nan mematikannya pada Taehyung yang menanggapinya dengan menjulurkan lidahnya. Seokjin yang kembali dengan peralatan makan yang di bawa dari dapur, di bantu oleh Jungkook hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakkan adik-adiknya itu. Meminta tolong pada Jungkook sekalian menata meja makannya sedangkan Hoseok bertugas menyeret Namjoon yang sejak kemarin terus menerus mengurung diri di studionya. Untung saja, sang leader masih ingat makan. Kalau tidak sudah terkena omelan cuma-cuma dari Seokjin maupun manager mereka, Sejin.
