---
"Bagaimana keadaannya ?"
"Keadaan siapa yang kau maksud ?"Chanyeol malah balik bertanya, menggantung snelinya di gantungan baju lalu menggulung kedua lengan kemejanya. Menatap sang istri dengan sebelah alisnya yang naik.
"Hoseok, siapa lagi ? Jangan membohongiku lagi, Chan. Kau tahu seberapa sayangnya aku pada anak itu, aku---"
"Jika kau menyayanginya, kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan sekarang padanya."ujar Chanyeol sebelum melenggang masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan sang istri yang kini terpekur ditempatnya. Dia menangis tersedu, merutuki diri. Dia paham betul apa yang dimaksud suaminya itu, tetapi bagaimana caranya ?
"Aku harus menemui Jungmyeon dan Sunny secepatnya."
.
.
Baekhyun akhirnya menemui Sunny, berbincang santai disalah satu kafe miliknya yang ada ditengah kota ditemani secangkir teh lemon dan panacota sebagai pendamping.
"Tumben sekali kau mengajakku bertemu di kafe, kan kau bisa berkunjung ke rumahku. Bukankah kita tetangga ?"tanya Sunny sembari menyuap kudapan manis dihadapannya, Baekhyun menghela nafas.
"Aku ingin bicara serius denganmu dan tidak ingin ada orang lain yang mencampurinya."
"Apa itu ?"sebelah alis Sunny terangkat, merasa penasaran. Lagi, Baekhyun menghela nafas yang kali ini terasa begitu berat.
"Ini tentang anakmu."ujarnya pelan membuat dahi Sunny mengerut."Yoongi ? Ada apa dengan dia ?"
Baekhyun tersenyum kecut, dia sudah menduganya, Sunny pasti akan bereaksi seperti itu."bukan. Ini tentang putra bungsumu."
Lihat, sekarang wanita cantik itu membeku ditempat. Wajahnya terlihat tak senang.
"Siapa maksudmu ? Putraku hanya satu---"
"Kau tahu siapa yang ku maksud, Sunny. Jangan mengelak lagi."
Meremat sebelah tangan wanita itu dan menatapnya dengan tatapan penuh permohonan."aku mohon, temui dia. Dia begitu membutuhkanmu dan Jungmyeon. Dia butuh dukungan moril dari orangtuanya."
Sunny memejamkan matanya sesaat lalu menggeleng, beranjak dari duduknya."maafkan aku, aku harus pergi. Banyak hal yang harus kuurus. Sampai nanti, Baek."
Dia melenggang pergi, bersiap membuka pintu kafe untuk keluar dari sana namun ucapan terakhir Baekhyun membuatnya tertahan disana.
"Pikirkan lagi sebelum kau dan suamimu menyesalinya. Aku hanya memberikan peringatan pada kalian satu kali, Sun. Sampai jumpa lain waktu, semoga harimu menyenangkan."
Baekhyun ikut bangkit dari duduknya menuju ruang kerjanya, dia sudah benar-benar muak dengan kekeraskepalaan sahabatnya itu. Dia seorang ibu, kan ? Kalau iya, dimana hati nuraninya ? Baekhyun jadi ingin menangis. Tak henti-hentinya merasa iba pada sosok rapuh yang masih terlelap di ruang intensif. Kondisinya semakin memburuk dari hari ke hari, seolah sudah siap menerima vonis terakhir dari Tuhan.
"Maafkan aku, Hoseok. Aku tidak bisa berbuat banyak untukmu. Maafkan aku..."
.
.
"Bunda melamun ?"
"Eh, tidak. Kau sudah pulang ? Dimana kakakmu, sayang ?"tanya Baekhyun kala hanya mendapati anak bungsunya yang kini menghampirinya sesampainya dia dirumah, anak laki-lakinya itu menggeleng.
"Tae tidak tahu, bun. Tadi saat keluar kelas, Minjae hanya memberitahuku kalau Chim sudah pulang lebih dulu. Katanya sih bersama kak Yoongi jadi Tae pulang sendiri."jelasnya, Baekhyun menganggukkan kepalanya. Hah, anak itu selalu saja seperti itu. Bukannya pulang kerumah, malah asyik main dirumah tetangga.
