Still With You

86 7 2
                                        

---

Chapter. 04

.

.

Jungkook dan Hoseok baru saja sampai di rumah sakit dengan si bungsu yang langsung melesat cepat ke bagian resepsionis, menanyakan dimana pasien yang bernama Kim Taehyung kini berada, meninggalkan Hoseok yang cukup kepayahan menyamai laju larinya yang cepat. Salah satu petugas berkata kalau Taehyung kini tengah di tangani di ruang IGD yang ada di lantai 7. Setelah mendapatkan informasi itu, keduanya langsung bergegas kesana. Menghampiri ketiga member lainnya yang terduduk cemas di ruang tunggu. Namjoon yang pertama menyadari presensi keduanya dan langsung menghampiri. Merangkul Jungkook dan menempatkannya di sebelah Seokjin. Jungkook bisa melihat noda darah Taehyung yang mengering di kaus putih polos yang di kenakan sang leader membuat dadanya terasa sesak, seperti di remas dengan kuat. Lidahnya kelu. Tak kuasa melontarkan sepatah kata pun sekali pun ia ingin. Rasa cemas dan ketakutannya benar-benar menguasainya. Bagaimana jika Taehyung dan si kembar memilih menyerah dan meninggalkannya? Bagaimana nasibnya nanti. Kenapa rasa bahagia itu hanya bisa ia cecap sekejapan mata saja? Kenapa Tuhan begitu tidak adil?

Si bungsu kesayangan Bangtan hanya bisa terduduk dalam kebisuan. Sesekali merapal doa dalam hatinya, mencoba meminta belas kasih dari sang pemilik hidup. Jika pun mereka harus menanggung dosa atas apa yang ia dan Taehyung lakukan, biarlah ia yang menanggungnya semua. Jangan Taehyung, jangan si kembar yang bahkan tidak tahu apa-apa. Jungkook rela. Jungkook rela menanggung segalanya dan menukar dengan apapun juga, terutama nyawa jika itu memang di perlukan. Asalkan Taehyung selamat. Asalkan si kembar tetap bertahan dan lahir kedua dengan keadaan sehat. Hanya itu.

Para Hyungdeul yang melihatnya menjadi iba. Mereka pun ikut andil dalam kejadian ini. Andai saja mereka tidak langsung menghakimi mereka dan mencegah Jimin melampiaskan segala emosinya, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Taehyung dan bayinya tidak akan berada di situasi bahaya seperti sekarang. Mereka semua menyesalinya. Mereka begitu merasa bersalah. Jika sampai Taehyung ataupun si kembar tidak selamat, maka mereka akan menghukum diri mereka seumur hidup mereka. Tapi, jika pun mereka bisa meminta, mereka hanya meminta keselamatan ketiganya. Hanya itu. Mereka tidak mau salah satu dari ketiganya pergi. Mereka harus selamat dan hidup bahagia, sesuai harapan Jungkook yang nampak bersungguh-sungguh untuk bertanggung jawab. Kedua adik mereka nyatanya bahkan sudah lebih dewasa dari yang mereka pikirkan. Bahkan Jungkook sudah bisa mengikrarkan sebuah janji pada sosok yang menurutnya layak untuk ia perjuangkan dan tidak segan untuk mengorbankan segala yang ia punya, termasuk nama besarnya sebagai seorang Idol yang kini mendunia. Pemuda itu tidak peduli. Baginya, asalkan Taehyung dan si kembar bahagia, ia pun bahagia. Cinta yang sederhana, dan siapa pun pasti akan setuju kalau semua itu adalah bukti bahwa Jeon Jungkook memang seorang gentleman sejati.

Jungkook maupun Taehyung berhak merengkuh bahagia mereka bersama, dan Seokjin, Yoongi, Hoseok maupun Seokjin berjanji pada diri mereka masing-masing, akan mendukung apapun yang menjadi keputusan keduanya. Siap memasang badan untuk membela mereka jika orang-orang sekitar menentang atau menghujat mereka. Banyak cara untuk bahagia, dan Jungkook sudah menemukan kebahagiaannya dengan menjadikan Taehyung teman hidupnya dan menghabiskan sisa hidupnya bersama ketiga kesayangannya.

Mereka benar-benar turut bahagia. Mereka merestui hubungan keduanya.

.

Pintu ruang IGD yang sedari tadi tertutup rapat kini terbuka dan menampilkan dua orang dewasa berbalut pakaian khusus beranjak keluar dari sana membuat Namjoon bergerak lebih dulu untuk menghampiri keduanya, bertanya beberapa hal mengenai kondisi Taehyung dan si kembar. Kedua dokter tersebut langsung memberikan tanggapan dengan nada tenang bahkan menawari sang leader untuk berbincang sejenak di salah satu ruangan kerja mereka, seorang wanita cantik berkacamata yang mengaku kalau selama ini dirinyalah yang di percayakan Kim Taehyung untuk memeriksa keadaannya dan si kembar, dan Namjoon bersyukur untuk itu. Setidaknya, ia bisa menggali lebih dalam akan informasi tentang kondisi Taehyung sebenarnya. Ia harus memastikan sesuatu yang mungkin saja salah.

Karena, entah kenapa, ia merasa ganjal. Kehamilan pria itu masih amat tabu baginya dan membuatnya memiliki spekulasi lain kalau seorang Kim Taehyung bukanlah seorang pria melainkan perempuan yang sedang menyamar. Astaga, bukankah itu lebih konyol?

"Dokter Jang, bisakah aku melihat rekam medis milik adikku?"

.

.

"Untungnya, benturannya tidak terlalu keras dan pendarahan yang di alaminya tidak terlalu parah. Dokter Jang pun mengatakan kalau kondisi Taehyung dan si kembar dalam keadaan stabil. Mereka sudah melewati masa sulit itu dengan baik. Mereka benar-benar hebat. Bukan begitu, ayah Kookie?"kata Namjoon seraya merangkul Jungkook yang masih saja mengatup bibirnya rapat. Tatapannya mengarah lurus kearah Taehyung yang masih menutup rapat keduanya matanya, belum siuman sejak semalam sekali pun sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa. Wajahnya tampak begitu damai walaupun pucat membuat rasa sesak yang merajai rongga dadanya tak kunjung menghilang dan membuatnya ingin meraung keras. Padahal, ia sudah mendengarnya sendiri kalau Taehyung dan si kembar sudah dalam keadaan baik-baik saja sekarang. Tapi, tetap saja, ia belum puas kalau belum mendengar dari belah bibir ranum Taehyung yang kini memucat dan mengatakan dengan jelas kalau mereka sudah baik-baik saja.

Ia sangat merindukan suara Taehyungnya...

Jungkook akhirnya menangis. Pertahanannya runtuh kala kelopak mata Taehyung bergerak acak sebelum membukanya secara perlahan, memandangi yang ada di ruangan itu dengan pandangan samar dan langsung melengkungkan senyuman kala menangkap wajah Jungkook yang kini di hiasi bulir air mata. Kekehan parau tertangkap indera pendengaran mereka. Taehyung tertawa lirih seraya menatap lurus kearah Jungkook yang sibuk menangis sebelum akhirnya melontarkan kata penuh ejekan pada si bungsu,"dasar cengeng. Begitu saja menangis. Ayah payah!"

Jungkook tidak marah. Sama sekali tidak. Ia malah ikut terkekeh di sela isakannya yang tak kunjung mereda. Mencondongkan tubuhnya kearah Taehyung sebelum akhirnya mendekap tubuh lemah itu ke dalam dekapan. Kembali menangis kala punggungnya di beri usapan lembut oleh sosok luar biasa itu. Sosok yang kini begitu berharga dalam hidupnya. Dan membuatnya yakin, kalau pilihannya kali ini adalah benar. Jungkook memang benar-benar menginginkan Taehyung dalam hidupnya. Membutuhkan sang kakak untuk terus berada di sisinya. Tak peduli, bagaimana dunia akan menentang keputusannya dengan keras atau bahkan menggunakan cara yang kejam. Ia sudah tidak perduli lagi. Bukankah, semua orang berhak bahagia. Begitupun dirinya dan Taehyung. Ia ingin merengkuh kebahagiaan dengan Taehyung, selama yang ia bisa.

Jungkook tidak tahu ini benar atau salah, tapi yang jelas ia begitu menyayangi ibu dari si kembar hingga tidak bisa menahan diri untuk mencuri kecupan di belah bibir ranum itu. Manik basahnya menatap Taehyung dalam. Belah bibir tipisnya mengucap rentetan kata yang membuat seorang Kim Taehyung menangis karena bahagia.

"Saranghae, Taehyungie...,"

.

.

Udah ya. Saya sudah tidak kuat. Mau jadi buih dulu. Mereka terlalu uwu. Huhu

Dan selamat akhir pekan untuk kalian, chingu-nim kesayangan. Jangan lupa bahagia, ya (:

BANGTAN COOKIESCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang