Chap.3
"Kamu bisa antarkan ini ke rumah sakit kan? Terus kalau bisa temani Jeongguk, ya. Sepertinya mamanya akan kesana sore hari. Engga apa kan, Tae?"
Taehyung baru saja hendak mengajukan protes tapi kakaknya sudah menggiringnya keluar rumah dengan jinjingan di tangannya yang ia tebak adalah makanan yang akan mereka berikan pada si bungsu Jeon. Ini sudah seminggu lamanya dan sang bubun tidak pernah absen mengirimkan makanan untuk Jeongguk dan selalu Taehyung yang mengantarkannya. Dan lagi-lagi ia di minta untuk menemani Jeongguk di rumah sakit karena mamanya begitu sibuk di kantor. Jadi, dengan alasan kemanusiaan dengan berat hati Taehyung mengiyakannya. Berjalan malas mengekori sang kakak yang berjalan jauh di depan sana. Ia benar-benar malas hari ini. Ingin berleyeh-leyeh di kamar saja seharian mumpung akhir pekan. Namun, nampaknya tidak ada satupun anggota keluarganya yang mendukung dan lagi-lagi alasan utamanya karena si bungsu Jeon. Benar-benar menjengkelkan.
"Lo masuk duluan sana. Gue mau ke kamar kecil dulu. Tampungan gue udah penuh nih."kata Namjoon seraya mendorong pelan punggung Taehyung agar segera beranjak masuk. Taehyung mencebik namun tetap menurutinya. Membuka pintu kamar inap itu perlahan. Oh, iya, Jeongguk sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa karena masa kritisnya sudah lewat walaupun kondisinya masih naik turun. Taehyung menarik nafas pelan sebelum akhirnya melangkah memasuki ruang rawat itu. Jeongguk duduk bersandar di ranjangnya dengan sebuah buku tebal di tangan. Sepertinya itu novel dengan bahasa asing. Bacaan kesukaan si bungsu Jeon.
"Eh, Taehyungie? Selamat datang..."sapanya ramah dan Taehyung hanya berdeham singkat sebagai balasan. Jeongguk memakluminya."kamu sendirian?"
Taehyung menaruh barang bawaannya di atas meja dan menarik kursi yang akan di tempatinya, ia menggeleng."engga. Dianter sama abang."
Jeongguk mengedarkan pandang, mencari sosok yang tak ada disana."abang Joonienya mana?"Taehyung mengedikkan bahu,"ke toilet. Kebelet katanya."
Jeongguk mengernyit,"disini kan juga ada. Kenapa cari yang jauh?"Taehyung mengedikkan bahunya lagi. Kakaknya memang seaneh itu jadi Taehyung maklum. Hm.
"Oh, iya. Ini aku bawain makanan lagi."katanya yang langsung di tanggapi binar antusias oleh si bungsu Jeon,"oh, iya? Wah, makasih ya."Taehyung mengangguk, beranjak dari duduknya untuk mengambil kotak makanan itu dan menyalinnya ke piring yang tersedia di sudut lainnya. Ada rak piring mini disana yang menjadi rak penyimpanan alat makan. Bersiap menyuapi si bungsu walaupun Jeongguk tampak enggan karenanya.
"Taehyung, biar aku sendiri aja..."
"Udah, engga apa. Biar aku aja. Buka mulutnya, aaaahm, pinter."katanya dengan nada geli, Jeongguk terlihat lucu jika sudah seperti itu. Taehyung merasa tengah menjadi pengasuh seorang bocah balita bukan remaja lelaki. Ia menyuapinya dengan telaten hingga suapan terakhir. Ia bahkan membantu Jeongguk minum dan meminum obatnya. Merapikan bekas makannya dan di taruhnya di atas rak piring. Biar nanti petugas kebersihan saja yang membereskannya. Taehyung kembali duduk di kursinya, memainkan ponsel sembari menunggu Namjoon yang tak kunjung kembali dari toilet. Mungkin sang kakak buang air besar di Jimbabwe makanya lama sekali. Hh, Taehyung benar-benar kesal dengan kakaknya yang satu itu. Awas saja nanti sampai di rumah. Sungutnya dalam hati.
Jeongguk memperhatikannya dalam diam. Memandang aneh kearah Taehyung yang tampak kesal. Apakah ia membuat gadis itu marah lagi?
"Tae, kalau kamu mau pulang gapapa aku udah biasa sendiri kok. Lagipula kan ada suster jaga--"
"Engga masalah. Aku udah janji sama bubun buat jagain kamu sampai mama kamu kesini. Aku lagi kesel aja sama abang Joonie yang ninggalin aku sendirian. Kalau engga mau ikut temani yaudah, engga usah bohong. Aku paling engga suka di bohongi."katanya lagi, nada terdengar tertahan membuat Jeongguk hanya bisa mengangguk penuh pengertian,"mungkin abang Joonie ada urusan mendadak."Taehyung melengos.
"Ck, palingan juga ke rumah kak Hoseok buat pedekate sama kakaknya."decak Taehyung dengan pandangannya terfokus pada layar ponselnya. Bibirnya mengerucut dan itu sangat mengemaskan hingga Jeongguk sampai tidak sadar sudah meraih ponselnya yang sejak tadi ia anggurkan dan tergeletak begitu saja di nakas, mengaktifkan mode kamera dan memastikan kalau lampunya tidak menyala. Membidik objek dan voila, Jeongguk mendapatkan satu moment disana. Dan Jeongguk akan menyimpannya baik-baik. Segera menyembunyikan ponselnya lagi kala Taehyung menaruh atensi kearahnya dan memicing curiga. Dia hanya mengulas cengiran tanpa dosanya membuat gadis itu berdecih. Kembali sibuk dengan ponselnya membuat Jeongguk menghela nafas leganya. Hampir saja ketahuan. Bathinnya.
"Tae, dari pada bosan. Kita main gim yuk. Aku punya stok gim di ponselku. Gimana?"tawar Jeongguk yang mampu mengalihkan atensi Taehyung mengarah sepenuhnya padanya. Gadis itu mengangguk cepat dan langsung mendudukkan dirinya di sisi ranjang Jeongguk yang kosong setelah sang empu ranjang menggeser sedikit tubuhnya. Keduanya tampak asik dengan gim yang mereka mainkan sampai tidak sadar kalau keempat pasang mata memperhatikan interaksi kelewat manis itu dari balik celah kecil pintu. Ide yang di cetuskan Namjoon sekembalinya dari urusannya di kamar mandi. Ternyata dia memang kesana karena sakit perut.
Awalnya, ia ingin masuk namun langsung ia urungkan kala tak sengaja mencuri dengar perbincangan ringan kedua remaja itu. Jadi, ia memutuskan untuk mengintip saja. Tak lama setelah itu, anggota keluarga Jeon yang lain datang dan berakhirlah mereka mengintip berjama'ah di luar. Tak mau mengganggu interaksi manis itu. Ah, akhirnya mereka bisa akur juga.
"Senang ya melihatnya. Jadi ingat waktu kita muda dulu ya, pa. Itu loh waktu papa sering banget godain mama setiap mama pulang dari bimbel."kata nyonya Jeon yang tiba-tiba saja terkenang masa lalu, tuan Jeon membenarkan lalu keduanya sibuk dengan kenangan masa muda mereka. Si sulung mendengus melihatnya sedangkan Namjoon menahan diri untuk tidak tertawa nista.
"Ya, begitulah nyokap bokap gue, Joonie."
"Ah, sama aja mas. Bubun sama ayah juga suka gitu. Suka lupa kalau anaknya udah ngerasa geli kalau di pertontonkan kisah romansa klasik mereka."lalu keduanya cekikikan seraya melanjutkan obrolan secara random. Banyak hal yang mereka obrolkan hingga jam besuk habis dan ajakan Taehyung yang memintanya untuk segera pulang. Lupa kalau ada PR matematika yang belum sempat ia kerjakan. Setelah pamit pada kedua orang tua Jeongguk, keduanya langsung bergegas menuju parkiran. Menikmati perjalanan pulang dalam diam.
"Bang, si aneh-ehem maksud aku Jeongguk itu sebenarnya sakit apa sih?"
Namjoon tersentak, nyaris menabrak bahu jalan jika tidak langsung menginjak rem dan menepi. Pandangannya menelisik sang adik yang tampak memandangnya dengan tatapan penuh keingintahuan. Namjoon menarik nafas panjang sebelum menjawab dengan gamang,"nanti juga kamu tahu."
Taehyung mencebik. Selalu jawaban itu.
.
.
Bersambung
