---
(03)
Yeonjun di jemput oleh orang asing dan mengaku teman dekat dari ayahnya. Pria itu bernama Kim Mingyu. Bocah itu terus memandang curiga kearah Mingyu yang ada di kursi kemudi. Katanya akan membawanya ke tempat bunda dan adik bayi. Saat ia bertanya dimana ayahnya, pria itu mengatakan kalau ayahnya akan menyusul setelah urusannya di kantor selesai. Yeonjun menganggukkan kepala walaupun tidak memahaminya. Ternyata ia dibawa ke tempat yang sama dengan paman Jiminnya. Kata paman Jimin, tempat itu bernama rumah sakit. Bundanya ada disana karena habis mengeluarkan adik bayi. Entah itu benar atau tidak, Yeonjun tidak begitu peduli. Yang penting sekarang, ia bisa bertemu dengan bundanya dan juga adik bayi. Ia ingin melihatnya. Seperti apakah wujud dari adik bayi itu? Kata Changbin, salah seorang teman di taman kanak-kanak bilang kalau adik bayi itu adalah makhluk mungil menyebalkan. Namun, Yeonjun tidak mempercayainya. Mana mungkin adiknya bisa menyebalkan sedangkan Yeonjun saja tidak pernah berbuat nakal layaknya Changbin yang sering kali menjahili anak perempuan di kelas mereka dan memalak uang saku teman laki-laki mereka yang terlihat lemah. Ayah dan bundanya tidak pernah mengajarkannya berbuat begitu. Itu tidak baik, begitulah nasihat yang selalu diucapkan ayah dan bundanya pada Yeonjun. Yeonjun selalu mengingatnya dengan baik.
Sekarang dia sudah berada di salah satu ruangan seperti kamar. Kata pria di sampingnya, itu namanya kamar inap. Dan Yeonjun lagi-lagi hanya bisa menganggukkan kepalannya, sok mengerti. Berlari kecil menuju kearah Taehyung yang sibuk mengancingi kancing bajunya setelah meletakkan sebuah buntalan seukuran guling d kamarnya ke sebuah tempat tidur mini. Mingyu yang terkesiap langsung berbalik dan beranjak keluar dengan kepala tertunduk walaupun Taehyung tahu kalau pria itu tidak sempat melihat apapun karena memang saat Mingyu masuk dia sudah hampir selesai mengkancingkan kancing bajunya. Pria itu kembali masuk kala ia memanggilnya lalu terduduk kaku di atas sofa di ruangannya membuat Taehyung menahan tawa gelinya. Beralih menatap Yeonjun yang kini sibuk memaku pandangannya pada makhluk mungil yang di balut oleh kain berwarna biru yang tertidur damai di ranjang mungilnya membuat Taehyung gemas melihatnya.
"Itu adik Yeonjunie. Dia laki-laki seperti Yeonjuni dan namanya Soobin, Jeon Soobin."kata Taehyung dengan seulas senyum lembutnya menarik atensi Yeonjun yang kini mengerjapkan matanya lucu seraya memiringkan sedikit kepalanya membuat Taehyung menahan dirinya agar tidak memekik gemas dan mengganggu tidur malaikat kecilnya.
"Adik Yeonjunie? Benarkah?"Taehyung mengangguk, memberi gesture agar bocah itu mendekat kearahnya dan nyaris mengangkat tubuh gembul itu karena kasihan melihat putranya kesulitan untuk menaiki ranjang rawatnya. Mingyu dengan cepat menghentikannya dan mengambil alih, mengangkat tubuh Yeonjun dan mendudukkannya di samping Taehyung. Taehyung mengucapkan terimakasih. Mingyu mengangguk dan kembali duduk ke tempatnya. Memilih bermain ponsel sembari menunggu Jeongguk datang. Pria itu bilang, dia akan sampai dalam waktu 20 menit.
Jeongguk datang setelahnya, membawa beberapa jinjingan di tangannya. Itu kantung berisi makanan dan kudapan manis untuk Yeonjun. Mingyu pamit setelahnya karena harus mengerjakan beberapa hal penting. Jeongguk dan Taehyung mempersilahkan. Keduanya bergantian membersihkan noda saus yang ada di pipi serta sudut bibir Yeonjun yang masih saja belepotan ketika makan. Ceroboh seperti bundanya, bathin Jeongguk. Tidak berani mengatakannya secara gamblang. Masih sayang nyawa. Manik bulatnya beralih ke sisi lain dan menangkap sebuah ranjang mini di samping ranjang Taehyung membuatnya berdecih dalam hati. Bayi itu telah di pindahkan ke ruang rawat yang sama dengan Taehyung rupanya. Kenapa dia baru mengetahuinya?
"Kenapa dia ada disini? Biarkan saja di ruang bayi. Itu tempat yang cocok untuknya."kata Jeongguk dengan nada datar membuat Taehyung menyernyit tak suka, tidak menyangka sang suami bisa berkata seperti itu."apa maksudmu berkata seperti itu? Dia memiliki hak utuh untuk berada di sisiku. Dia putraku, Jeongguk. Putra kita, jika kau lupa."Jeongguk membuang pandangannya membuat Taehyung menarik nafas panjang. Matanya memanas dan dadanya terasa nyeri. Ia masih tidak habis pikir dengan Jeongguk. Kenapa suaminya bisa setega itu. Apa salah bayi kecilnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
BANGTAN COOKIES
Fiksi PenggemarKumpulan kisah manis para Bangtan yang juga manis~
