Aku merenung komputer sambil melihat nombor dan dokumen. Usai kelamaan, aku rasa lenguh satu badan. Aku pejamkan mata, barangkali patut rehatkan mata dari melihat skrin.
Tatkala aku terpandang ke pintu ruangan kerja peribadi, Ryan melihat aku di muka pintu dengan sengihan, bunga dan kopi. Aku usap mata dua tiga kali untuk membezakan antara realiti dan fantasi. Barangkali aku salah tengok. Tapi tidak. Sengihan Ryan makin melebar dan dia terus masuk ke ruangan kerja aku.
Nasib baik ruangan aku tak boleh nampak dari luar.
"Why are you here?" Soalku.
Dia hulurkan bunga dan secawan kopi hazelnut latte kepadaku.
"Shouldnt you thank me first for the coffee and bouquet?" Soalnya.
"Thank you...but why arent you at work?" Soalku.
"Im here to see Kak Ngah," katanya.
"But she's not here,"
"Yet," balasnya acuh tak acuh.
"You tak de appointment ke?" Aku kerutkan dahi.
"I do have. But, I datang awal," katanya.
"And she's not here yet," katanya.
Aku diam melihat bunga ros merah itu. Aku mengambil kopi dan menghirup aroma hazelnut latte yang wangi itu.
"Kejap lagi kita balik sekali. It's been a while since kita last balik sama-sama," katanya. Aku terdiam seketika.
"What about my car?" Soalku.
"I'll ask someone to pick it up," katanya.
"But, I'm gonna be late a little bit. Is that okay with you?" Soalku. Dia angguk.
Aku kemudian kembali memandang komputer. Ryan cakap sesuatu tapi aku tak dengar sebab aku lihat macam ada yang tak kena dengan plan yang dihantar ke softcopy emel aku.
"Yell," panggilnya.
Aku tak menyahut sebaliknya aku cuma "hmm" kan sahaja.
"Princess," panggilnya.
"Ye," balasku perlahan, masih menatap komputer riba.
"Yellena Suh," panggilnya tegas. Aku terus pandang muka Ryan yang memandang aku tak berkelip.
"When we talk, please look at each other," pesannya. Aku gigit bibir dan angguk kepala.
Ryan marah aku kan?
***
Ryan mengetuk pintu bilik Natasha. Natasha yang masih sibuk dengan fail-fail menyuruhnya masuk. Disangka setiausaha tetapi Ryan yang muncul.
"What you want?" Soalnya pantas, tak bertapis.
"How could you say yes to Isabella's bullshit?" Soal Ryan kepada Natasha. Natasha merengus.
"You pun turunkan sign kan? Besides, my department store dengan Chia Group dah pisah entiti. I have no rights to say anything regard the foundation," keluhnya.
"The one yang saying yes to her bullshit is you and abang long," tanbah Natasha.
"Also ayah, but who cares," katanya lagi. Ryan menarik kerusi dan duduk di hadapan Natasha.
"So what do we do now? Let her handle the foundation?" Soal Ryan pesimis. Natasha menjeling Ryan.
"Biarkan je lah dia, what else could we do? Our daddy trust her" kata Natasha, dia masih sibuk dengan kerjanya.
"You know Isabelle never handle company let alone foundation like that! Are we just gonna sit back and relax?" Soal Ryan.
Natasha meletakkan tangan ke sisi dan merengus. Dia sudah tak ada mood nak menatap komputer.
Dia berpeluk tubuh dan tersenyum sinis.
"Isn't the foundation turns out well akan jadi something good for you? I mean, Isabella is your mother," ujarnya.
"Isabella is your mom. Her shares, mean it's your shares," kata Natasha.
ANDA SEDANG MEMBACA
My Traitor Bestie (BM)
Storie d'amoreAtas nama persahabatan, Yellena mengalah dengan perasaan. Cintanya terkubur begitu sahaja. Mana taknya, Yellena jatuh hati dengan kekasih hati rakan baik sendiri. Bagi Yellena...jika tak dapat berdiri di sisi, cukuplah dia berada di tepi sebagai pem...
