Alfandy Pov
Ancaman Mba Arumi tidak bisa ku abaikan begitu saja. Mba Arumi kalau sudah berbicara pasti dia lakukan. Aku sebenarnya agak kesal dengan wanita ini, kenapa juga dia pake acara ngetok kamar segala dan keliatan Mba Arumi.
"Ngapain kamu masih berdiri disitu?" Ucapku padanya yang berdiri seperti orang bodoh.
"Maaf" Dia langsung berjalan menuju kamar mandi.
"Ngapain ke kamar mandi? Mau tidur disana kamu?" Tanya ku.
Dia langsung berhenti dan menatapku. Tak lama dia menunduk mungkin karena ku tatap balik.
"Tidur!" Bentak ku.
Dia diam tak bergeming sama sekali.
"Tidur saya bilang!" Sekali lagi ku bentak dia.
"Maaf disini tidak ada sofa jadi saya mau tidur dimana?" Dia bertanya pelan, bahkan aku nyaris tidak mendengarkannya.
"Noh! Disana ada karpet tidur sana! Jangan harap ya bisa seranjang sama saya. Kamu bukan level dan tipe saya" Ucapku padanya.
Dia diam tapi berjalan ke arah karpet yang terbentang samping jendela kamarku. Dia tidak meminta bantal ataupun selimut dan langsung duduk menyandar.
Aku juga tidak terlalu memperdulikan dia. Mau dia mati sekalipun aku gak perduli.
Aku kembali ke atas kasur empukku dan melanjutkan mimpi indah yang tertunda tadi.
Tak tau jam berapa ini, tapi aku mendengar suara rintihan orang menangis. Ku fokuskan pendengaranku ke sekitar. Mataku langsung tertuju ke wanita yang tidur sambil duduk itu.
Matanya terpejam, akan tetapi mulutnya masih merintih seperti kesakitan dan kedinginan. Aku yang memang tidak perduli langsung mengabaikannya. Ku pakai penutup telingaku dan ku lanjutkan tidur.
Almeera Pov
Aku memiliki riwayat alergi dingin dan debu. Sekarang aku malah tidur disebuah karpet tipis dan dengan kondisi tidak menggunakan selimut. AC di kamar ini juga terlalu dingin bagiku, ingin aku kecilkan tapi takutnya Al akan memarahiku. Ku tahan saja dingin ini, toh ku lirik jam sudah mau jam 3 pagi, sebentar lagi matahari pagi akan datang.
Tak sadar tiba-tiba sudah adzan subuh. Aku bangun dengan perlahan, badanku terasa kaku karena tidur sambil duduk dan kedinginan.
Ku langkahkan pelan kaki ku menuju kamar mandi untuk wudhu dan sholat subuh.
Baru saja menyentuh keran air, tanganku dihadang oleh tangan seseorang.
"Jangan gunakan air hangatku, pake air dibak aja jangan manja mau segala wudhu pake air hangat" Aku yang mendengarnya tak banyak jawaban dan langsung menuju ke arah bak mandi.
Airnya sangat dingin bagiku, terlebih lagi aku yang semalaman tidur tidak menggunakan selimut dan ini paginya wudhu dengan air yang dingin seperti es.
Selesai wudhu aku ke kamar lagi, kebetulan kemanapun aku pergi selalu membawa mukenah. Karena disamping tidak mau pinjam-meminjam mukenah orang, biar juga lebih mudah kalau mau ibadah dimana saja.
"Saya ke masjid, awas kamu cerita macem-macem ya!" Ancamnya sebelum dia pergi ke masjid.
Aku hanya diam tak menjawab ucapannya. Langsung saja ku gelar sajadah dan sholat.
Selesai sholat rencananya aku mau langsung turun ke lantai bawah membantu pekerjaan rumah.
Sekarang aku sudah mulai memakai hijab, aku memakainya karena sudah tergerak dari hatiku sendiri. Aku ingin menjaga papaku dan suamiku dari api neraka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anakku Bukan Anakmu
General FictionMenceritakan seorang istri yang diusir karena tidak bisa memberikan anak untuk suaminya. Tetapi setelah diusir dia baru mengetahui kalau dia hamil.
