Almeera Pov
Kondisi tulang lengan kanan Mas Alfandy patah dan membutuhkan beberapa waktu agar kembali normal. Tapi dia sudah diperbolehkan untuk pulang. Dasar memang dia tidak bisa diam, jadi pas aja baru sampai rumah tuh tangan kepentok meja kamar. Untungnya cuma kepentok pelan, kalau kenceng alamat nginep rumah sakit lagi.
"Masih sakit gak?" Tanyaku padanya yang sedang main hp.
Masih sakit juga sempat-sempatnya main game.
"Udah gak ma, itu bawa apa?" Tanyanya.
Aku meletakkan buah apel dan pepaya yang sudah ku potong ke atas meja.
"Buah, mau?" Tawarku.
Mas Alfandy punya toko buah tapi dia tidak terlalu menyukai buah-buahan. Hanya buah tertentu yang dia suka dan mau untuk memakannya.
"Pepaya? Iw" Ucapnya sambil menengok ke dalam piring yang ku letak di atas meja.
"Iw iw, makan pepaya kamu tuh biar bab lancar gak kayak orang melahirkan mulu tiap bab" Ucapku sekenanya.
"Is kamu mah suami lagi sakit gini diomongin yang gak-gak. Nanti aku gak sembuh-sembuh gimana loh" Balasnya.
"Kalau kamu gak sembuh-sembuh ya udah aku bisa bebas dong cari brondong di luar sana" Candaku padanya.
Dia langsung menatapku seperti ingin melahapku. Matanya membesar dan mulutnya komat-kamit seperti ngedumel. Aku tak terlalu perduli dan duduk di sofa. Kalau duduk di kursi samping dia tidak enak, bikin sakit pinggang.
"Dedeknya rewel ya?" Tanya nya.
Mungkin karena melihatku sedikit grasak-grusuk duduk untuk mencari tempat nyaman.
"Gak kok mas, ini cuma nyari posisi enak aja" Jawabku.
Setelah mendapatkan posisi enak aku sedikit memejamkan mata menikmati kesunyian. Belum sampai 5 menit pintu sudah diketuk.
"Selamat pagi pak, Bu. Kita periksa tensi dan kondisinya bapak ya" Ucap seorang dokter yang masuk bersama 2 anak koas sepertinya.
Aku hanya tersenyum mengangguk karena tidak berniat berdiri lagi. Susah nanti mencari posisi enak untuk sandaran gini.
"Maaf Bu Almeera" Aku yang tadinya baru mau merem langsung reflek menjelit.
"Iya dokter?" Jawabku.
"Kondisi bapak sudah stabil, tekanan darah normal dan sudah bisa pulang siang ini. Tapi untuk kondisi tulang masih sangat berbahaya jika terpentok lagi. Saya sarankan bapak berisitirahat di rumah dengan tenang agar tidak terjadi lagi kejadian tadi pagi" Ucap dokter.
Tadi pagi dokter ini pun tau kejadian Mas Alfandy kepentok, karena dia kebetulan sedang visit pagi-pagi.
"Dengerin tuh mas, dokter kasih tau dia aja dah daripada ke saya. Dia gak denger kalau saya bilangin" Aduku ke dokternya.
"Ya bukan gak ku dengerin, wong kamu tuh ngomel bukan ngomong baik-baik. Siapa yang mau denger omelan, ya kan dok ya" Dia mencari teman menyudutkanku.
Si dokter hanya geleng-geleng kepala saja sedangkan kedua anak koas dari tadi memandangku dan Mas Alfandy bergantian.
Setelah dokter dan kedua koas keluar aku langsung merapikan baju-baju dan peralatan Mas Alfandy. Karena kan katanya sudah boleh pulang jadi aku tinggal beberes terus otw deh pulang.
Arumi Pov
Sore kemaren baru saja Anisa adikku datang ke rumah dan menceritakan semua keluhnya. Aku sedih sekali mendengar cerita Anisa, selama ini dia terlihat baik-baik saja tapi ternyata ada problematika sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anakku Bukan Anakmu
Fiksi UmumMenceritakan seorang istri yang diusir karena tidak bisa memberikan anak untuk suaminya. Tetapi setelah diusir dia baru mengetahui kalau dia hamil.
