Author Pov
Sekitar jam 8 malam Almeera pamit untuk pulang. Arfan, Arhan dan Hana juga terlihat lelah dan mengantuk. Bi Minah juga udah khawatir ninggalin Mang Kardi sendirian di rumah.
"Besok ke sini lagi ya tante ajak adek-adek" Pinta Lea.
Kebetulan Nisa dan Ira sudah pulang duluan dijemput Nanda. Arumi juga sudah ditungguin Bagas. Lea dan Rahma memang ikut menginap karena dibujuk pulang mereka tidak mau.
"Insyaallah ya kak kalau tante gak banyak kerjaan tante ajak adek-adek ke sini lagi" Ucap Almeera ke Lea.
"Pamit ya kak, mba. Semoga mba lekas pulih dan pulang ke rumah, ntar kalo di rumah tiap hari deh aku samperin" Almeera.
"Aamiin, awas aja ya gak tiap hari" Ancam Arumi ke Almeera.
Mereka tertawa sebentar kemudian Almeera pamit untuk pulang.
Almeera, Arfan, Arhan, Bi Minah dan Hana sudah dipertengahan perjalanan. Tiba-tiba saja mereka menerima telepon dari Arumi.
"Assalamualaikum kenapa mba?" Almeera sedikit mencondongkan kepalanya ke arah hp yang dipegang Bi Minah.
"Waalaikumussalam, udah jauh kamu Ra? Udah sampe mana?" Tanya Arumi.
"Udah di lampu merah kedua mba, kenapa mba? Ada yang ketinggalan ya?" Tanya Almeera penasaran.
"Ini anak kamu satu ketinggalan disini" Suara Bagas sedikit berteriak.
"Hah! Anak aku? Lengkap kak" Jawab Almeera melihat ke kursi belakang.
"Ini si Lea nangis mau ikut nginep, bisa putar balik gak Ra? Atau gak kalau kamu udah deket rumah gak papa Mas Bagas aja anter ke sana" Arumi.
Rupanya si Lea yang merengek minta ikut, kenapa juga tadi gak ngomong aja mau ikut nginep gitu.
"Aku puter balik aja mba ke sana gak papa, kalau Kak Bagas yang antar nanti mba sendirian di sana. Bentar ya aku mutar balik" Almeera.
Almeera memang sangat menyayangi semua anak-anak dari Arumi dan Nisa. Dia menganggap mereka seperti anaknya sendiri. Dulu sebelum si kembar lahir, anak-anak itulah yang menjadi penghibur Almeera.
"Kenapa gak tadi sih dek bilangnya, kasian tante Ara bolak-balik jadinya" Rahma.
"Mama" Lea merengek mengadu ke Arumi.
"Aduh udah ya pusing mama" Jawab Arumi.
"Udah jangan gituin adeknya kak, kakak juga mau ikut nginap apa nginap di sini sama papa?" Tanya Bagas ke putri sulungnya.
"Kakak disini aja pa nanti mama butuh apa-apa biar kakak bantuin" Jawab Rahma.
"Ya udah papa ke bawah dulu ke lobby mau nunggu Tante Ara. Titip mama sama adek bayi ya" Bagas.
Bagas dan Lea berjalan keluar dari kamar menuju lobby. Bagas juga kadang heran ke anak keduanya ini. Kalau dia sudah bertemu Almeera pasti nempel banget. Kadang lebih nempel ke Almeera daripada ke mamanya sendiri.
Arumi Pov
Alhamdulillah anak ketigaku sudah lahir. Alhamdulillah juga aku mendapatkan anak laki-laki yang sehat. Anak laki-laki sesuai dengan keinginan ku. Aku bersyukur karena Allah sudah menganugerahkan dan menitipkan anak ini padaku.
"Adek bangun ya ma?" Rahma selalu setia menemaniku.
"Gak bangun kak, udah kakak tidur aja duluan biar besok seger badannya" Suruhku.
Rahma dari tadi terlihat sudah mengantuk, dia menguap beberapa kali. Ku biarkan saja dia tertidur di kasur lipat yang dibawa Mas Bagas.
"Assalamualaikum" Tak lama Rahma tidur Mas Bagas kembali.
"Waalaikumussalam mas, udah dijemput sama Ara?" Tanyaku.
"Iya udah pulang mereka, anak kamu ada-ada aja pakek segala mau ikut Ara. Benar-benar nempel banget sama si Ara. Gimana nanti pas Hana gede pasti iri dia" Ucap Mas Bagas.
Dia meraih handuknya dan berjalan ke kamar mandi. Sepertinya dia mau bersih-bersih badan sebelum tidur.
Aku menatap ke dalam tempat tidur bayi disampingku. Bayi itu tertidur pulas karena sudah kenyang menyusu. Aku masih tidak percaya diusiaku yang sudah tidak muda lagi masih bisa melahirkannya dengan selamat.
"Terima kasih ya nak udah berjuang bersama mama, Farish" Ucapku pelan.
Nama anak ketigaku yaitu Farish Akbar Putra Wijaya. Mas Bagas yang memberi nama ini. Nama yang memang sudah sejak dulu dia persiapkan untuk anak laki-lakinya.
Bayi mungil itu tak terganggu sedikit pun tidurnya, padahal lumayan berisik karena hp Rahma bunyi. Aku matikan tapi jauh ditempatnya tidur.
"Hp siapa sih ma?" Mas Bagas keluar kamar mandi sambil menggosok rambutnya dengan handuk.
"Hp kakak, tolong matiin pa" Pintaku.
Mas Bagas mendekat ke Rahma dan mengambil hpnya. Dia mematikan bunyi hpnya dan kembali mendekat ke ranjangku.
"Siapa telepon mas?" Tanyaku.
"Alarm dia bunyi ma. Kenapa ya Rahma nge alarm jam segini?" Tanya Mas Bagas padaku.
"Jam berapa ini mas?" Tanyaku.
"Jam 10 ma" Jawabnya.
"Bangunin aja tanya mas siapa tau memang dia ada yang mau dikerjain" Ucapku ke Mas Bagas.
"Kasian ma kalau dibangunin" Jawab Mas Bagas.
Iya kasian sebenarnya kalau dibangunin tapi kalau tidak dibangun takutnya dia ada hal penting yang harus dikerjakan.
"Iya tapi bangunin tanyain mau ngapain alarmnya idup" Suruhku lagi.
"Iya deh bentar" Mas Bagas berjalan membangunkan Rahma.
Rahma tipe yang mudah dibangunkan, jadi sebentar saja langsung bangun.
"Kenapa pa?" Tanya nya.
"Alarm kakak bunyi tadi papa matiin, kakak kenapa ngidupin alarm? Ada yang mau dikerjain?" Tanya Mas Bagas ke Rahma.
"Kakak mau hapalan pa" Dia bangun dan langsung ke kamar mandi.
"Hapalan apa ma?" Tanya Mas Bagas padaku.
"Surah mas, dia kan pengen banget masuk pesantren jadi mulai ngapal mulai sekarang. Katanya biar masuk pesantren nanti modal hapalannya udah banyak" Jawabku.
Rahma memang anak yang gigih kalau menginginkan sesuatu. Setiap hari aku taunya memang dia menghapal. Tapi biasanya sore hari dia menghapal.
"Kakak kenapa baru malam mau menghapalnya nak? Kan bisa besok aja, udah malam ini loh" Tanyaku ke Rahma ketika dia keluar kamar mandi.
"Kakak tadi sore kan gak hapalan ma, kakak takut hapalan kakak ilang dan gak nambah kalau gak rutin" Jawabnya.
Terharu? Pasti! Aku saja yang sudah seumur ini tidak pernah terpikir untuk menambah hapalan. Dia yang masih muda sudah semangat sekali menambah hapalannya.
"Mama kok nangis sih?" Rahma mendekatiku.
"Gak papa kak" Jawabku.
"Kakak tuh rajin menghapal biar nanti bisa ngehadiain mahkota buat mama di surga. Kakak juga mau jadi anak yang berbakti dan mau kumpul lagi sama mama, papa dan adik-adik di surga" Dia memelukku.
"Udah ah nangis-nangis nya itu Farish bangun mau nenen" Mas Bagas mengganggu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anakku Bukan Anakmu
General FictionMenceritakan seorang istri yang diusir karena tidak bisa memberikan anak untuk suaminya. Tetapi setelah diusir dia baru mengetahui kalau dia hamil.
