Part 118

1.3K 75 5
                                        

Almeera Pov

Akhirnya bulan suci ramadhan yang ditunggu-tunggu datang juga. Malam ini adalah malam pertama melakukan sholat teraweh. Aku bersiap mengajak Mas Alfandy dan anak-anak.

"Nanti kalian sholat baik-baik dan khusyuk di samping papa. Jangan ngacir kemana-mana, mama dapat nanti laporan dari orang-orang masjid kalian nakal besok-besok mama kurung aja di rumah gak boleh ikut lagi. Paham?" Tanyaku ke Arfan Arhan.

Karena ini adalah tahun pertama mereka ikut teraweh, jadi harus dikasih tau terus.

"Oke mama, abang gak nakal" Jawab Arfan.

Aku melirik ke Arhan, karena dia lebih bandel dari Arfan dan dia tidak ikut menjawab.

"Arhan" Tegurku.

Dia nyengir dan menjawab.

"Iya mama yang cerewet" Jawabnya.

Aku harus bersabar menghadapi anak-anak karena mereka lagi fase susah-susahnya diatur.

"Yuk berangkat" Ajak Mas Alfandy.

Alhamdulillah juga tangan Mas Alfandy sudah sembuh, walaupun belum sembuh total tapi setidaknya sudah bisa bergerak lumayan bebas.

"Pakek mobil?" Tanya Arhan.

"Jalan kaki dong bang, kan masjid deket sini loh bukan masjid di deket rumah nenek" Jawab Mas Alfandy.

Kebetulan di dalam komplek memang ada masjid. Jadi untuk apa ke masjid lain jika di sini ada masjid.

Kami berangkat dan sebelum itu aku berpesan ke Mang Kardi, Bi Minah dan Asep untuk menjaga rumah.

"Gak berat ini ma?" Arfan memegang perutku sambil kami berjalan.

"Alhamdulillah gak bang" Jawabku.

"Adek nanti cewek apa cowok ma?" Sambung Arhan yang digandeng Mas Alfandy.

"Belum tau bang, mama belum cek" Jawabku.

Memang aku belum usg untuk mengetahui jenis kelamin bayi ku. Rencananya nanti setelah masuk pertengahan puasa baru mau usg.

"Abang mau adek cewek" Ucap Arfan.

"Aamiin" Jawab Mas Alfandy.

Aku melihat ke wajahnya, dia senyum menatapku. Sepertinya dia memang sangat ingin memiliki anak perempuan. Semoga Allah mengabulkan keinginannya.

"Kalau abang mau adek cowok aja" Jawab Arfan lesu.

"Eh kok lesu gitu?" Tanyaku.

"Kalau adek cewek nanti pergi lagi kayak adek Hana" Aku, Mas Alfandy dan Arhan langsung berhenti.

"Abang kok ngomong gitu sih nak?" Aku berjongkok di depannya.

"Abang gak mau liat mama nangis lagi, abang sedih juga kalau adek pergi lagi. Makanya adek cowok aja biar gak pergi-pergi lagi" Jawabnya.

"Arfan sini liat papa" Mas Alfandy ikut berjongkok.

"Adek Hana itu pergi karena udah takdirnya dan waktunya di dunia sudah cukup. Bukan berarti jika abang dapat adek perempuan lagi akan ikut pergi. Kita doa yang baik-baik untuk mama dan adek bayi. Doakan mama sehat terus, doakan adek bayinya juga sehat terus. Abang gak boleh mikir kalau adek perempuan pasti pergi. Ngerti nak?" Tanya Mas Alfandy.

Arfan mengangguk sambil memeluknya. Ku pikir aku yang akan dipeluk.

"Abang aja peluk mama" Rupanya Arhan tau kalau aku kecewa tak dipeluk Arfan.

"Ih anak manja mama, terima kasih ya nak" Ku cium pipinya.

"Udah yuk kita lanjut jalan lagi, sebentar lagi mau isya nanti telat" Ajak Mas Alfandy.

Anakku Bukan AnakmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang