Almeera Pov
Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Aku kembali ke aktivitasku yaitu mengurus anak-anak, florist dan cafe. Ria kehamilannya sudah lumayan besar jadi agak sulit ke mana-mana. Kasian juga kalau dia masih ngurusin cafe.
"Assalamualaikum mama" Kedua anak kembarku membuka pintu ruangan.
"Waalaikumussalam sayang, sini masuk nak" Mereka langsung masuk dan tak lupa menutup pintunya.
"Abang mau makan" Ucap Arhan.
"Abang juga ma, lapel" Sahut Arfan.
Kebetulan kami sedang di cafe ku dan jadi aku hanya tinggal turun ke lantai bawah mengambil makanan.
"Tunggu di sini bagus-bagus mama turun ambil makannya" Ucapku.
Anak-anak menurut dan duduk dengan tenang. Tak lupa aku hidupkan tv agar mereka menonton.
"Dim tolong buatin nasi goreng ayam 2 ya, porsi kecil aja buat anak-anak kayak biasa" Ucapku ke salah satu koki.
"Baik Bu nanti saya antar ke atas" Jawabnya.
"Gak usah diantar saya tunggu aja di depan ya" Ucapku.
Aku berjalan menuju kursi pelanggan dan duduk seperti pelanggan yang menunggu pesanan.
"Eh ada mantan kamu nih" Ucap seorang perempuan.
Aku menoleh ke sumber suara, aku kaget rupanya ada Mas Alfandy dan Erin sedang makan di cafe ku.
Mas Alfandy menatapku sedangkan Erin kembali lanjut makan makanannya.
"Bu maaf minumnya mau apa ya?" Tanya seorang karyawanku.
"Gak usah di atas ada minumnya. Udah jadi belum makanannya?" Tanyaku.
Jujur aku mulai tidak nyaman sekarang karena ada Mas Alfandy dan Erin disini.
"Belum Bu sebentar ya kita lagi buatin yang pelanggan lain juga" Jawabnya.
Ya aku memaklumi itu karena memang kan pelanggan harus didahulukan.
"Mana anak-anak?" Tiba-tiba Mas Alfandy sudah di depan mejaku.
"Untuk apa kamu tanya anak-anakku?" Tanyaku balik.
"Itu anak aku juga Almeera jangan egois" Jawabnya.
Bisa-bisanya dia bilang aku egois sedangkan dulu dia yang tak mengakui anaknya ini.
"Aku yang egois atau kamu yang egois? Selagi aku hamil kamu menikah lagi dengan Erin dan selagi aku hamil kamu melakukan itu kasar denganku, aku sampai pendarahan dan masuk rumah sakitpun kamu tidak tau kan. Aku perjuangin anak-anak sendirian tanpa bantuan kamu. Kamu sendiri juga yang pernah bilang kalau aku hamil kamu suruh gugurkan" Aku mengatakan semua itu tepat didepan wajahnya, tapi sengaja aku pelankan suara agar tidak menggangu pelanggan yang lain.
"Kamu yang tidak memberitahu ku tentang anak-anak itu. Kalau kamu kasih tau dari awal aku tidak akan berpikiran kalau kamu hamil dengan laki-laki lain" Jawabnya.
"Aku gak sehina itu mas, aku hanya melakukan hal itu dengan kamu. Aku melakukan itu dengan kamu pun karena aku terpaksa dan sadar posisi kalau saat itu aku istri kamu yang berkewajiban melayani kamu" Jawabku lagi.
"Udahlah kita jangan bahas masa lalu, sekarang aku minta sama kamu jangan halangi aku bertemu anak-anak. Bagaimanapun mereka anak-anak aku kan? Aku juga ingin mendapat kasih sayang dari mereka dan aku yakin mereka juga ingin mendapat kasih sayang dariku" Ucapnya.
Ya memang anak-anak sering menanyakannya padaku. Tapi aku rasa sekarang anak-anak sudah tidak akan perduli lagi akan hal itu.
"Satu lagi yang harus kamu tau ya mas, aku tidak pernah mengajarkan anak-anak membenci kamu. Aku selalu bilang ke anak-anak kalau kamu kerja keluar kota dan lama pulang. Kalau aku jahat aku sudah bilang kamu mati mas, biar sekalian anak-anak gak nanyain kamu" Bentak ku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anakku Bukan Anakmu
General FictionMenceritakan seorang istri yang diusir karena tidak bisa memberikan anak untuk suaminya. Tetapi setelah diusir dia baru mengetahui kalau dia hamil.
