Part 19

5K 154 3
                                        

Alfandy Pov

Tidak tahu kemana perginya Almeera. Pagi-pagi aku bangun dia sudah tidak ada, apa mungkin dia marah karena aku kembali meminta hak ku atau mungkin marah karena aku tadi sempat menelepon Erin? Entahlah aku pusing kalau mikirnya.

"Berangkat Al?" Tanya mama.

"Iya ma masuk pagi ini" Jawabku.

"Gak nyari istrimu?" Tanya mama lagi.

"Emang Almeera pamit ke mama?" Tanyaku.

"Gak pamit dia mama juga gak tau ke mama, tadi Mba Arumi lagi nanyain" Jawab mama.

Aku tidak terlalu pusing mau kemana dia nanti juga pasti balik lagi. Mau kemana lagi dia kalau gak pulang ke rumah kami.

"Ya udah Al berangkat ya ma. Assalamualaikum" Pamitku ke mama.

Sebelum pergi tadi aku sudah memastikan barang-barang ku dan Almeera ku bereskan dan masukan ke dalam bagasi. Biar nanti gak repot harus ke rumah mama lagi ngambilnya.

"Ya Rin" Erin pagi-pagi buta sudah menelpon.

"Kamu kerja hari ini? Masuk apa?" Tanya nya.

"Iya kerja, ini lagi dijalan. Ada apa?" Tanya ku.

"Aku minta uang dong mau shopping sama adek aku. Sekalian mau belikan dia tas sama sepatu baru soalnya yang lama udah jelek" Ucapnya.

Perasaan sebelum aku nginap rumah mama juga udah aku transfer dia yang masa sekarang minta lagi. Almeera saja hanya sebulan sekali aku kasih uang dan kalau gak aku kasih dia gak pernah nanya.

"Yaya nanti aku transfer, udah dulu aku lagi nyetir" Aku langsung mematikan telepon biar dia tidak minta yang macam-macam lagi.

Erin Pov

"Gimana?" Tanya mamaku.

"Di tf ma nanti katanya" Jawabku.

"Bagus, uang dia tuh gak berseri kamu mintain tiap hari juga gak bakal habis" Jawab mama.

"Iya memang uangnya gak berseri ma, tapi masalahnya tuh dia belum mau ngasih aku pegang kartu kreditnya. Mama tau gak dia juga punya beberapa toko buah, tapi si istri bodohnya itu cuma taunya dia punya 1 toko aja. Jadi kesempatan kita buat nguasain yang lainnya" Mama ikut tersenyum bersamaku.

Tujuan utamaku mendekati dan menikahi Alfandy selain memang aku suka dia tapi hartanya jauh lebih ku suka.

"Kalian ngomongin apa sih?" Adik pertama ku menghampiri.

"Mau uang ga?" Tanyaku.

"Mau lah siapa yang gak mau, mana" Dia menampung tangannya.

"Yee gak sekarang juga, kamu makanya bantuin aku minta uang ke kakak iparmu. Oke!" Dia mengangguk setuju.

Author Pov

Erin dan keluarganya memang licik, mereka sengaja mau saja anaknya dinikahi sirih asal mereka dapat uang dari Alfandy. Akan tetapi salah satu adik dari Erin, Sisi namanya. Sisi adik kedua Erin dan dia masih duduk di bangku SMA. Sedangkan adik pertamanya Siska yang juga SMA hanya berbeda 2 tahun dengan Sisi.

Sekarang Almeera sudah lumayan membaik, kondisi kedua janinnya juga makin berkembang baik. Mungkin anak-anaknya tau kalau ibunya berjuang dan mereka ikut membantu.

"Assalamualaikum bestiee!!" Ria, teman kerja Almeera masuk bersama beberapa orang lainnya.

"Waalaikumussalam eh kok ini Bang Ari, Bang Oki dan yang lain kok bisa tau aku di sini?" Tanya Almeera heran.

Yup, siapa lagi yang memberikan informasi kalau bukan teman embernya si Ria.

"Ri aku kan udah bilang jangan kasih tau siapa-siapa, nanti keluarga suamiku tau aku di sini" Ucap Almeera ke Ria.

"Sorry" Jawab Ria cengengesan.

"Tenang Ra kita gak akan kasih tau keluarga suami kamu kok. Oh iya ini ada titipan dari bos" Ari menyerahkan bingkisan yang mereka bawa.

"Beneran kan bang kalian gak bakal kasih tau?" Almeera menekankan.

"Santai aja kita keluarga kan ya, gak mungkin kita ember Ra" Sahut Oki.

Almeera Pov

Inilah yang aku agak wanti-wanti dari Ria, mulut lemesnya gak bisa diajak kompromi. Katanya gak bakal kasih tau siapa-siapa eh ini tau-tau anak toko dah pada di sini.

"Cepat sembuh ya kamu Ra, gak enak di toko penglihatan cuma si Ria ini bosen" Sahut salah satu temanku.

"Heh elu ya" Omel Ria.

"Doain ya aku cepet sembuh dan bisa masuk kerja lagi" Jawabku.

"Yakin mau kerja lagi? Anak-anak kamu gimana? Nanti ikut kerja kecapekan" Sahut Bang Oki.

"Gak papa bang, lagian aku dah biasa kerja jadi kalau gak kerja bosen. Insyaallah juga mereka paham nanti" Jawabku.

"Jangan capek-capek aja kamunya, jangan angkat yang berat-berat lagi. Gak usah ikut manggang roti lagi biar yang lain aja berat adonannya. Kamu stay dibagian depan aja nanti ya" Jawabnya lagi.

Aku mengangguk tersenyum karena beruntung memiliki teman-teman sebaik mereka.

Skip 3 bulan kemudian

Alfandy Pov

Aku melihat beberapa bulan ini gelagat Almeera aneh. Dia juga selalu tidak mau jika aku sentuh, bahkan di rumah dia tidak pernah lagi memakai pakaian terbuka di depanku.

Apa dia menghindari ku dan sudah tidak mau aku sentuh? Apa dia juga sudah tau aku menikah dengan Erin?

"Kamu mau ke mana?" Tanya ku saat dia baru saja keluar dari kamar.

"Kerja mas" Jawabnya.

"Aku mau bicara sini" Aku duduk di kursi depan kamar. Kebetulan kamar kami dilantai 2 dan memang ada kursi untuk duduk-duduk disini.

"Ada apa mas?" Dia duduk di depanku.

"Kamu menghindar dariku?" Tanyaku.

"Gak mas" Jawabnya.

"Kenapa akhir-akhir ini aku merasa kamu menjauhiku? Aku ingin meminta hak ku sebagai suami kamu juga selalu menghindar" Tanyaku lagi.

"Aku gak menghindar mas, aku hanya lagi banyak kerjaan di toko jadi capek dan cepat tidur" Jawabnya lagi.

"Kamu kenapa? Jujur!" Aku berdiri di depannya.

Dia ikut berdiri di depanku. Aku tarik tangannya dan badan kami saling mendekat. Ada sesuatu yang mengganjal dan itu perut Almeera.

"Ini apa?" Ku sibakkan baju yang dia pakai.

Terlihat perutnya yang membuncit dan sudah lumayan besar. Ini bukan buncit biasa.

"Maaf mas" Dia menurunkan bajunya dan menghindari ku.

"Kamu hamil?" Tanyaku sedikit emosi.

Dia diam tak menjawab dan menunduk.

"Kamu hamil?!" Aku tanya lagi.

Dia mundur beberapa langkah karena kaget aku bentak.

"Anak siapa ini Almeera! Anak siapa!" Ku bentak dia agak kuat agar dia mau menjawab.

"Anak aku" Jawabnya.

"Iya aku tau itu anak kamu, aku tanya itu anak kamu dengan siapa! Jawab jujur Almeera!" Bentak ku lagi.

Wajar aku emosi karena aku selalu memakai pengaman jika melakukan dengannya. Dia juga meminum obat penunda kehamilan kalau berhubungan denganku. Lalu kenapa dia bisa hamil.

"Jawab Almeera!" Ku bentak lagi dia dan dia berlari menuruni tangga.

"Almeera!" Panggilku.

Dia tidak menghiraukan ku dan terus berlari menuruni anak tangga.

Aku kembali terduduk di kursi tadi sambil memegangi kepalaku yang sakit. Almeera keterlaluan, aku pikir dia wanita baik-baik ternyata dia bermain dibelakang ku.

Anakku Bukan AnakmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang