Part 15

5.1K 143 1
                                        

Almeera Pov

Sudah berjalan 6 bulan pernikahan ini, tapi sikap dan sifat Mas Alfandy padaku tetap sama. Dia juga masih tetap berhubungan dengan Erin.

"Aku dinas malam, nanti kunci aja pintu terus cabut soalnya aku bawa kunci cadangan" Ucapnya padaku yang sedang menyapu halaman.

Aku hanya mengangguk saja tanpa berniat menjawab. Beginilah aku tidak akan berbicara dengannya kalau tidak penting.

Untuk kalian yang berpikir hubungan kami harmonis setelah dia menjamah tubuhku, itu tidak akan terjadi. Dia hanya menjadikanku tempat pelarian nafsunya saja.

"Ya udah aku berangkat" Dia berdiri dan hendak pergi.

Ku lepaskan sapu yang ku pegang dan berjalan ke arahnya. Ku ambil tangannya dan ku cium.

Dia hanya diam dan memang sudah terbiasa seperti ini.

Setelah dia pergi aku lanjutkan menyapu dan kemudian masuk ke dalam untuk mandi dan bersih-bersih.

Aku tidak heran kalau dia sering bilang kerja atau dinas dan padahal dia pergi bersama Erin. Aku bukan wanita yang bodoh-bodoh amat. Masa dinas malam berangkat dari pagi buta. Aku juga tau jadwal dinas dia itu tidak begitu, tapi ya sudahlah mungkin dia mau bermesraan dengan pacarnya.

"Assalamualaikum!" Terdengar suara orang didepan.

"Waalaikumussalam, bentar" Aku keluar melihatnya.

"Tante!" 2 bocil langsung datang memeluk ku.

"Eh ngucapin salam dulu baru teriak" Tegur si mama.

"Gak papa mba, mari mba masuk" Aku mempersilakan Mba Arumi masuk.

"Al mana Ra?" Tanya nya.

"Dinas mba" Jawabku.

Sengaja tak ku bilang dinas malam, nanti takut Mba Arumi akan bertanya lagi ke mana Mas Alfandy sepagi ini.

"Mba sama anak-anak udah sarapan belum? Kalau belum ayok kita sarapan dulu" Ajak ku.

"Rahma belum sarapan tapi tadi udah makan jajan" Jawab anak sulungnya.

"Lea juga udah makan jajan" Sambung si bungsu.

"Ya udah ayok sarapan nasi dulu yok" Ajak ku.

Mba Arumi hanya mengikuti kami bertiga.

Selesai kami sarapan Mba Arumi membantuku membereskan meja makan dan mencuci piring.

"Kamu gak papa kan Ra?" Tanya Mba Arumi tiba-tiba.

"Gak papa mba, emangnya ada apa mba?" Tanyaku.

"Muka kamu pucat banget kayak orang sakit tapi kamu aktif gak lemes makanya mba tanya" Jawabnya.

"Haha ini karena belum make up aja mba" Jawabku.

Mba Arumi tiba-tiba meletakkan tangannya diatas perutku.

"Kamu hamil?" Tanya nya.

"Eh gak mba" Kagetku.

Karena memang aku sedang tidak hamil dan juga tidak merasa sedang hamil.

"Mba ini dokter kandungan Ara kamu gak bisa bohong. Testpack gih" Suruhnya padaku.

Aku menurut saja dan mengambil testpack yang memang aku sediakan di rumah. Karena tiap bulan biasanya aku tes, takut kalau hamil. Bukan aku tidak mau tapi aku kasihan nanti anak ku tidak mendapat kasih sayang ayahnya.

Sengaja ku ambil beberapa dan langsung masuk ke kamar mandi.

Mba Arumi menunggu di depan kamar mandi, aku gugup saat melihat hasilnya. 2 garis merah terang disana, aku langsung meraba perutku. Apa benar sudah ada nyawa didalam perut ini? Batinku.

Anakku Bukan AnakmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang