Almeera Pov
Aku hanya bisa memandangi Hana dari luar kaca. Dia sudah ditangani dan sekarang sedang tertidur karena efek obat. Tubuh mungil kecil itu dipenuhi kabel-kabel yang membantunya bertahan.
"Maaf orang tua pasien?" Tanya seorang perawat padaku.
"Iya saya ibunya, kenapa mba?" Tanyaku.
"Orang tua pasien ditunggu dokter di ruangannya Bu. Mari saya antar" Aku yang memang sudah bisa berjalan sedikit-sedikit mengikuti perawat tadi dan perawatnya juga membantuku berjalan.
"Permisi dok ini orang tua pasien anak atas nama Hana" Perawat itu membawaku masuk ke ruangan dokter.
Jangan kalian tanya ke mana Mas Alfandy, mama, papa, Bagas, Nanda atau Nisa. Mereka semua ada kegiatan masing-masing dan memang aku yang masih dirawat jadi sendiri dulu. Tapi ada Sisi yang tadi datang sebentar sebelum dia berangkat sekolah.
"Silakan duduk Bu" Aku duduk dan perawat tadi meninggalkan aku dan dokter ini berdua.
Si dokter mulai membuka map yang ada di mejanya dan menulis beberapa kata.
"Maaf Bu Almeera ya, saya mau menjelaskan tentang kondisi terkini anak anda" Ucap si dokter.
"Anak saya gak papa kan dok? Ada kemungkinan sembuh kan?" Tanyaku penasaran.
"Saya memohon maaf sebelumnya ke Bu Almeera. Saya sudah melakukan 2x pemeriksaan ke tubuh anak ibu. Hasilnya kebocoran jantung sudah lumayan parah dan ususnya juga lumayan bermasalah. Untuk kondisi selanjutnya juga anak ibu ternyata hanya memiliki 1 ginjal yang menunjang kehidupannya. Itupun 1 ginjal itu tidak berfungsi dengan baik. Mungkin sewaktu ibu mengandung ibu kurang meminum vitamin dan memeriksakan kandungan. Pemeriksaan kandungan dan minum vitamin sangat berdampak untuk tumbuh kembang si anak. Sekarang kita tidak bisa berbuat banyak. Kalau kita obati jantung maka ginjalnya rusak, begitupun sebaliknya. Sekarang saya hanya bisa membantu memperbaiki sistem pencernaan ususnya. Selebihnya saya serahkan ke tuhan yang maha pemberi kesembuhan serta mukjizat" Jelas dokter dengan rinci.
Aku tidak bisa berkata apa-apa, lidahku terasa keluh dan kaku untuk menjawabnya. Aku ingin memarahi Erin rasanya karena tidak menjaga Hana dengan baik selama dikandungnya.
"Saya juga mau sampaikan kalau menurut perkiraan hitungan media usia anak ibu tidak akan bertahan lebih lama. Kurang dari 3 bulan ini jika tidak ada mukjizat maka kita harus merelakannya" Ucap si dokter.
Aku tak menjawab lagi tapi air mataku sudah mengalir dengan tak permisi.
"Bu Almeera, maaf Bu" Dokter ini menggerakkan tangannya ke depanku untuk menyadarkan.
"Kita harus berdoa dan bersabar, semoga ada mukjizat untuk anak ibu" Dia kembali berbicara.
"Sus!" Panggilnya karena aku tak kunjung merespon.
Aku bukan hilang kesadaran tapi aku tidak tau mau berkata apa lagi. Aku langsung teringat akan mimpiku kalau Erin akan menjemput Hana.
"Iya dokter?" Perawat yang lain masuk.
"Bantu ibu ini kembali ke kamarnya ya" Ucap dokter.
Perawat itu membantuku berdiri dan memapahku kembali ke kamar.
"Al! Kamu kenapa?" Di lorong kami bertemu dengan Mas Alfandy.
"Biar saya aja sus, terima kasih" Mas Alfandy mengambil badanku dan menggendongnya.
Dia terus bertanya sepanjang jalan menuju kamarku tapi aku juga diam sepanjang jalan itu. Air mataku juga rasanya sudah kering karena nangis tak bersuara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anakku Bukan Anakmu
Narrativa generaleMenceritakan seorang istri yang diusir karena tidak bisa memberikan anak untuk suaminya. Tetapi setelah diusir dia baru mengetahui kalau dia hamil.
