Part 151

909 61 5
                                        

Alfandy Pov

Aku pulang sudah mendapati rumah kosong. Hanya ada Mang Kardi, Asep dan Bi Minah. Almeera dan anak-anak tidak tau di mana, bahkan pakaian mereka pun tidak ada di lemarinya.

"Bi! Almeera dan anak-anak ke mana?" Tanyaku panik.

"Maaf tuan, nyonya Almeera pergi dari kemaren sore. Anak-anak semua dibawa" Jawab Bi Minah.

"Astaghfirullah! Almeera!" Aku meremas frustasi rambutku.

Aku tidak jadi masuk ke dalam rumah dan langsung keluar lagi mencarinya. Aku tidak bisa membiarkan Almeera pergi dariku. Ini semua kesalahan yang tak ku sengaja.

Arfan Pov

Apartemen tempat kami tinggal ini tidak begitu luas. Hanya ada beberapa ruangan saja. Kamar utama, kamar kedua, ruang tamu, dapur, kamar mandi dan ada sedikit balkon.

Mama menyewa apartemen di lantai satu, alasannya karena takut kami nakal turun naik lewat lift.

Mama menyewa apartemen di lantai satu, alasannya karena takut kami nakal turun naik lewat lift

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Abang!" Naysa menghampiri ku.

"Kenapa dek?" Tanyaku.

"Itu liat mama melamun" Dia menunjuk ke arah luar jendela.

Terlihat mama duduk sambil melamun di sana, mama tampak sangat sedih.

"Kalian tunggu sini ya biar abang yang tanya mama" Pesanku.

Aku tidak mau adik-adikku banyak tanya ke mama yang akan bikin mama makin pusing.

"Mama" Panggilku pelan.

Mama menoleh dan langsung tersenyum padaku. Raut sedihnya tadi seketika hilang entah ke mana. Mama memang sangat pintar menyembunyikan perasaannya.

"Kenapa bang?" Tanya mama.

"Kenapa mama melamun? Mama mikirin papa?" Tanyaku.

"Enggak" Jawab Mama singkat.

"Masuk yuk ma di sini agak panas nanti mama pusing" Ajakku.

Mama diam sebentar kemudian ikut masuk bersamaku. Badan Mama sedikit agak hangat, aku rasa mama demam.

"Mama boleh minum obat gak?" Tanyaku padanya saat kami masuk ke kamar.

"Boleh bang asal resepnya dari dokter" Jawab mama.

"Oh oke" Jawabku.

"Kenapa bang?" Tanya mama.

"Mama hangat badannya, abang takut mama sakit" Ucapku.

Mama malah tersenyum dan mengusap pundakku.

"Terima kasih ya bang udah jadi anak laki-laki pertama mama dan menjadi kakak pertama yang melindungi adik-adiknya" Jawab mama.

Aku menikmati elusan tangan mama, hingga aku tak sadar sudah tertidur pulas.

Almeera Pov

Tidak tau kenapa badanku tiba-tiba hangat dan kayaknya mau demam. Semua sendi juga rasanya ngilu dan pegal-pegal.

Anakku Bukan AnakmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang