Part 144

851 58 6
                                        

Author Pov

Hari terakhir ujian akhir semester. Itu artinya anak-anak dari Almeera, Arumi dan Anisa akan pindah ke kelas berikutnya.

Suasana pagi di rumah Arumi cukup riuh karena Rahma yang kehilangan nomor ujiannya, Lea yang telat bangun dan pastinya si Farish mereog di pagi hari.

"Kakak taruh di mana?" Tanya Arumi ke anaknya.

"Kakak taruh dalam tas ma, kakak gak keluarin" Jawab Rahma.

Rahma ingat sekali kalau dia meletakkan nomor ujiannya di dalam tasnya.

"Kak Lea ada buka tas kakak gak?" Tanya Arumi ke Lea.

"Mana ada ma, nomor ujian aku aja ini aku gantungin" Lea menunjukkan nomor ujiannya yang tergantung rapi di dalam name tag gantung.

"Nah kenapa kakak gak diginiin" Gerutu Arumi.

Arumi benar-benar pusing dengan tingkah masing-masing anaknya. Kadang menyejukkan hati tapi kadang menguji kesabaran.

"Maaf pak, Bu itu Dek Farish ngerobekin kertas kayaknya nomor ujiannya Kak Rahma" Ucap bibi.

Arumi dan Rahma langsung menuju ke tempat dimana Farish sedang merobek-robek kertas.

"Astaghfirullah! Adek!" Pekik Rahma.

Farish yang kaget langsung nangis. Dia berlari keluar kamar meninggalkan potongan kertas yang sudah jadi hancur.

"Ini nomor kakak" Tangis Rahma.

"Udah ini dipungutin, nanti mama ke sekolah jelasin ke guru kakak" Arumi keluar dari ruangan itu mencari Farish.

Walaupun dia masih 4 tahun tapi dia harus belajar bertanggungjawab dengan perbuatannya.

Sedangkan di ruangan itu Rahma masih menangis karena nomor ujiannya telah robek.

"Kenapa kakak?" Tanya Bagas ke Lea yang melihat Rahma menangis.

"Farish robekin nomor ujian kakak pa" Jawab Lea.

"Mana dia sekarang?" Tanya Bagas.

"Di kamarnya tadi disusul mama" Jawab Lea.

Lea melanjutkan sarapannya sedangkan Bagas menyusul Arumi ke kamar Farish.

Di kamarnya Farish sudah dinasehati Arumi dan Arumi menyuruh Farish untuk meminta maaf ke Rahma. Dasar memang anak bungsu dan laki-laki satu-satunya, jadi dia sedikit keras.

"Minta maaf sana ke kakak" Suara Bagas menginterupsi Arumi.

"Itu tangan lancar banget ngerobekin barang orang" Ucap Bagas lagi.

"Siapa yang ngajarin lancang ambil dan rusakin barang orang?" Bagas mendekati Farish.

Farish yang di dekati ingin beringsut ke arah Arumi. Tapi Arumi justru menjauh dan memberi ruang untuk Bagas memarahinya.

Arumi memang sengaja begitu agar Farish menyadari kesalahannya dan tak mengulangi. Kalau dia membela, maka Farish akan mengulangi perbuatannya karena pikirnya akan ada yang membela kalaupun dia berbuat nakal.

"Mama" Tangis Farish sudah banjir.

"Tanggungjawab dengan perbuatan sendiri" Ucap Arumi kemudian keluar dari kamarnya.

Bagas mendekat dan memasang wajah datar. Farish bergerak lari keluar kamarnya.

"Minta maaf ya kak, aku salah aku robekin punya kakak" Rupanya Farish langsung menemui Rahma dan meminta maaf.

Rahma tidak menjawab ataupun membalas ucapan Farish. Dia diam sambil memasang sepatunya.

"Itu adeknya minta maaf dijawab" Ucap Bagas.

Anakku Bukan AnakmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang