Kehidupan ibu rumah tangga dengan 5 anak begitu syulit rupanya. Anak tertua baru saja berumur 9 tahun dan tentu belum bisa membantu merawat adik-adiknya.
Aku masih hanya mempekerjakan 1 babysitter, yaitu Anggun. Aku tidak percaya dengan mana-mana babysitter karena aku takut anakku disakiti mereka. Berita di tv banyak sekali yang menayangkan itu.
"Adek tidur ma?" Arfan mendatangi kamar.
Ya beginilah aktivitasku yang sekarang kebanyakan di kamar saja. Rasanya malas dan lelah sekali kalau harus turun naik tangga untuk keluar kamar.
"Baru mau tidur bang, abang gak pergi ngaji?" Tanyaku.
"Abang izin ya ma hari ini" Dia mengambil posisi tiduran.
"Abang kenapa?" Aku yang menggendong Najwa mendekatinya.
Ku pegang kepalanya dan badannya, kepala dan badannya hangat. Dia juga terlihat lesu dan bibirnya pun kering.
"Astaghfirullah abang demam nak" Ku taruh pelan-pelan Najwa di ranjangnya.
Aku mengambil obat yang biasa disediakan Mas Alfandy di lemari obat. Langsung ku minumkan ke mulutnya. Alhamdulillah Arfan tidak menolak minum obat.
"Abang tiduran di sini aja dulu, mama ambil kompres ya" Pesanku ke Arfan.
Aku menuju dapur membuatkan kompres dan juga bubur untuk Arfan. Entah mengapa kalau sakit itu identik dengan bubur. Akupun gak tau kenapa bisa reflek membuatkan bubur.
"Eh Nak Ara buat apa?" Tanya bibi yang masuk sambil menenteng pakaian.
"Permisi Bi, Anggun mau lewat" Rupanya juga ada Anggun dibelakang bibi yang membantu mengangkat pakaian.
"Lagi buat bubur Arfan bi, demam" Jawabku.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kok pake blezer gitu Bu?" Tanya Anggun.
"Saya bukan ibu kamu Gun" Jawabku.
Padahal sudah ku bilang panggil mba saja daripada ibu. Umurku dan dia juga cocokan aku dipanggil mba olehnya.
"Hehe iya mba, mba kenapa masih pake blezer gitu masaknya?" Tanya nya lagi.
Anggun dan bibi sudah menaruh cucian yang mereka bawa tadi ke kamar setrika.
"Oh ini tadi lagi meeting sama klien florist terus pas mau ganti si Najwa nangis langsung deh gendong dia lupa ganti dan Arfan barusan masuk demam, jadinya makin lupa buat ganti" Jelasku.
Aku memang sedang cuti melahirkan tapi aku tetap harus memantau florist dan cafe. Terlebih lagi cafe karena aku dan Ria sama-sama habis melahirkan.
"Kamu ada kerjaan gak Gun? Atau ada kelas?" Tanyaku ke Anggun yang membantuku merapikan bumbu-bumbu dapur.
"Gak ada mba, aku udah kelar ujian akhir semester jadi udah libur" Jawabnya.
"Lah kalau udah libur kenapa gak minta cuti aja. Kamu gak mau pulang kampung?" Tanyaku.
"Pulang ke kampung mana mbaku sayang, pan aku gak punya family lagi di sana juga" Jawabnya.
Astaghfirullah aku baru ingat kalau Anggun itu sama denganku. Dia yatim piatu yang dibuang keluarganya setelah orang tuanya meninggal.
"Jadi mau liburan di sini aja nih? Apa gak mau ke mana gitu biar berasa liburan beneran, kasian kamu capek kuliah" Tanyaku.
"Gak ah mba aku di sini aja, lagian aku gak pengen juga kemana-mana. Mba juga sekarang lagi repot gini masa aku enak-enakan liburan. Mending di sini kan bantu mba jagain anak-anak" Jawabnya.
Anggun memang sangat baik padaku dan anak-anak. Anak-anak juga merasa nyaman bermain dan dijaga olehnya. Sebenarnya dia bisa saja minta liburan beberapa hari untuk refreshing, tapi dia memilih membantuku.
"Makasih ya Gun kamu mau membantu mba" Ucapku.
Bubur yang ku masakpun sudah matang dan aku memindahkan sedikit ke mangkok.
"Titip anak-anak ya Gun, jangan suruh mereka masuk kamar takutnya ribut. Kasian Arfan baru istirahat dan juga Najwa baru tidur" Pesanku ke Anggun.
"Oke mba, semoga Arfan cepat sehat ya mba" Jawabnya.
Aku tersenyum membawakan mangkok bubur menuju ke kamar. Ku buka pintu kamar dan mendapati Arfan tengah disamping box Najwa.
"Kenapa bangun bang? Tiduran aja sini" Suruhku.
"Adek bangun ma" Jawabnya.
Memang Najwa di sana sudah bangun, tapi dia tidak menangis sama sekali. Mungkin dia paham keadaan kalau abangnya sedang tidak enak badan.
"Udah sekarang abang duduk sandaran sini mama suapin" Suruhku.
Sebenarnya salah sih tadi langsung kasih obat sebelum makan. Tapi aku sudah kepalang panik ya ku beri saja.
"Abang makan sendiri aja ma" Dia ingin mengambil mangkok dari tanganku.
"Mama suapin aja" Jawabku pelan.
Dia menurut dan makan bubur yang aku suapkan. Dia sama sekali tidak membantah saat aku menyuapkan sendok demi sendok bubur itu.
"Udah?" Tanyaku.
Dia mengangguk dan aku memberikan minum. Setelahnya aku tidurkan dia.
Aku tidur menyamping dan membawa dia mendekat ke dadaku. Ku gosok-gosok punggungnya agar dia nyaman.
Lama kelamaan terdengar bunyi napasnya yang pelan dan teratur. Aku melihat dan ternyata dia sudah tidur. Aku bangun dan membawa kembali mangkok kotor ke dapur.
Najwa juga sudah tertidur kembali, aku sangat bersyukur dia pengertian. Biasanya kalau dia kebangun akan rewel dan menangis. Tapi sekarang seperti tau kakaknya sedang butuh mamanya jadi dia tenang.
"Waalaikumussalam iya Ri" Ternyata Ria yang menelepon.
"Aku mau ngundang kamu sama Alfandy ke syukuran 40 hari Rafisqy. Insyaallah acaranya besok sore jam 4 habis ashar. Aku tau kamu belum bisa kemana-mana tapi aku tetep ngundang kalian, kali aja Alfandy bisa datang. Ajak anak-anak ya kalau Alfandy datang" Ria rupanya mengundang ke acara syukuran anaknya.
"Terima kasih ya Ri undangannya nanti aku sampaikan ke Mas Al, insyaallah besok Mas Al Dateng kalau dia gak dinas malam ya. Gak bisa janji juga soalnya dia kan kadang berubah jadwal" Jawabku.
Sengaja tak ku beritahu keadaan Arfan yang sedang sakit karena kalau Ria tau pasti dia nekad datang ke sini menengok. Arfan dan Arhan adalah ponakan kesayangannya, tapi bukan berarti Nayla, Naysa dan Najwa tidak. Akan tetapi dia lebih sayang ke Arfan Arhan karena dia dulu bersama mereka sedari bayi.
"Oke Ra aku tunggu ya besok, salam ke Alfandy dan anak-anak. Oh iya mama papa kamu udah ditelpon Mas Rio sama juga keluarga Mba Arumi sama keluarga Mba Nisa udah aku telpon juga" Ucapnya.
"Iya Ri terima kasih ya udah ngundang keluarga aku" Jawabku.
Setelah berbincang sedikit mengenai cafe, Ria berpamitan mematikan telepon karena akan memandikan anaknya. Aku juga melihat ke jam dinding sudah pukul 5 lewat. Aku harus memandikan Najwa dulu baru nanti anak-anak yang lain.
"Ssttt! Astaghfirullah! Kok nyeri ya Allah!" Keluhku saat hendak bangun dari duduk.
Bagian bawah perutku terasa ngilu dan nyeri sekali, persis rasanya seperti mau melahirkan.
"Astaghfirullah!" Aku berpegangan ke box Najwa.
Sekitar 5 menitan sakit itu datang dan menghilang begitu saja. Aku kemudian bangun dan mengangkat Najwa membangunkannya untuk mandi.