Author Pov
Alfandy sudah berhasil menemukan pengasuh atau babysitter tambahan untuk membantu Almeera menjaga anak-anak mereka. Sekarang tugas Almeera juga jauh lebih mudah dan ringan.
"Besok mama ulang tahun kan pa?" Tanya Arfan kepada Alfandy yang tengah sibuk membantu Arhan merakit legonya.
"Eh iya besok kan mama birthday, kalian ada rencana besok mau kasih kejutan apa?" Tanya Alfandy balik ke anak-anaknya.
"Mama suka seblak pa, bikinin aja seblak" Celetuk Arhan sambil nyengir.
"Eh gak ada apaan seblak-seblak, gak sehat itu bang" Jawab Alfandy.
"Gak sehat tapi mama hampir tiap minggunya pasti beli seblak" Gumam Arhan yang masih terdengar oleh Arfan.
"Beneran mama sering makan seblak?" Arfandy mengkonfirmasi kebenaran dengan menengok ke arah Arfan.
Dia tau kalau Arfan tidak mungkin berbohong beda dengan Arhan yang kadang berbohong.
"Iya pa mama lumayan sering makan seblak" Ucapnya.
Alfandy seketika menjadi agak emosi, dia merasa Almeera tidak mengindahkan ucapannya dengan tidak memakan seblak. Bukan karena Alfandy merasa makanan itu tidak higienis, tapi karena makanan itu pedas jadi dia melarang Almeera kebanyakan mengkonsumsinya.
"Eh bentar papa jadi punya ide" Ucap Alfandy kemudian.
"Apa pa?" Arhan yang tadi masih sibuk merakit lego langsung meletakkan legonya.
"Tapi kalian berdua harus bantu papa, dan juga kalian berdua harus siap diomel mama. Gimana? Setuju gak?" Tanya Alfandy ke kedua anaknya.
"Emang rencana papa apa? Kok sampai kita harus siap diomel mama?" Tanya Arfan.
"Kan mama sering tuh makan seblak, padahal papa gak ngebolehin mama sering makan seblak. Nah dari ntar malam papa ngomelin mama karena kalian ngadu, makanya itu papa bilang siap diomel karena pasti mama akan ngomelin kalian sebab ngadu ke papa. Terus pas udah papa omelin papa diemin mama sampe besok malamnya lagi, sudah itu baru deh malamnya kita kasih kejutan ke mama dan ajak mama makan malam sama-sama. Gimana? Papa tau mama gak suka pesta ulang tahun jadi papa ganti makan malam keluarga aja" Jelas Alfandy ke kedua anaknya.
Kedua anak ini memang sudah pandai dan sudah bisa diajak kompromi. Diusia mereka yang sebentar lagi memasuki 10 tahun ini mereka memiliki kemampuan berpikir yang cukup baik dibanding teman seusianya.
"Oke! Abang setuju! Gak papa sih diomel mama dikit" Jawab Arhan mengacungkan kepalan tangannya.
"Eh main setuju aja, abang tapi agak ngeri kalau mama ngomelin kita trus diemin nah itu serem" Sahut Arfan.
"Kan malamnya kita kasih surprise jadinya mama gak akan lama diemin kita" Jawab Arhan.
Alfandy dan Arhan menatap ke arah Arfan menunggu persetujuan anak laki-laki satu ini. Akhirnya Arfan ikut menyetujui dan mereka akan memulai aksinya.
Alfandy Pov
Jam sudah menunjukkan pukul 16.30 wib, tandanya sebentar lagi anak-anak akan pulang dari mengaji. Sengaja aku menunggu anak-anak pulang dulu baru mulai mengerjai Almeera.
Sebenarnya tadi terbesit rasa kasian karena melihat Almeera kewalahan mengasuh Najwa. Aneh sekali si Najwa ini sama sekali tidak mau dengan pengasuh barunya. Dia hanya mau menurut dengan Anggun dan Bi Minah saja.
"Pakai air hangat nanti mandiinnya kasian ini lagi mendung pasti airny dingin" Ucapku ke Almeera tanpa menatapnya.
Almeera paling tidak suka kalau lawan bicaranya tidak menatap balik ke arahnya saat berbicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anakku Bukan Anakmu
Fiction GénéraleMenceritakan seorang istri yang diusir karena tidak bisa memberikan anak untuk suaminya. Tetapi setelah diusir dia baru mengetahui kalau dia hamil.
