Part 178

725 39 5
                                        

Almeera Pov

Aku masih kepikiran Mas Alfandy yang tadi pergi begitu saja. Apa mungkin dia marah karena aku membiarkan anak-anak pulang pergi sekolah sendiri?. Aku juga sudah melarang anak-anak dan meminta Asep atau Arif mengantar dan menjemput tapi mereka meminta untuk pulang pergi sendiri dengan alasan sekolahnya dekat.

"Papa pulang dulu ya, di dalam masih ada mama nanti kamu gantian sama mama dulu" Papa pamit padaku.

Aku memang dari tadi pindah duduk di luar, di ruang tunggu. Aku tidak sanggup melihat anakku yang terbaring.

"Iya pa, makasih banyak ya pa udah nemenin Ara jaga Arfan. Papa hati-hati di jalan" Balasku.

Papa mengangguk dan pergi. Sekarang keadaan lorong tempatku menunggu agak sepi, karena memang lorong VIP jadi jarang ada pasien.

Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki mendekat. Aku yang posisinya masih menundukkan kepalaku karena pusing langsung mendongak.

Samar-samar nampak seorang laki-laki berjalan mendekati.

"Lah kenapa di sini ma?" Rupanya Mas Alfandy yang datang.

Aku hanya diam karena masih teringat tadi siang Mas Alfandy mangacuhkanku.

"Masuk yuk" Dia memegang pundakku dan membantuku berdiri.

Aku berjalan masuk bersamanya karena memang lumayan horor kalau sendirian di lorong ini.

"Assalamualaikum" Ucap Mas Alfandy.

"Waalaikumussalam" Mama yang duduk di sofa langsung bangun dan menghampiriku.

"Kamu kenapa Ra? Sini duduk" Mama menggiringku duduk di sofa.

Aku masih diam dan sesekali mengernyitkan dahi karena pusing. Jujur dari siang tadi aku belum sempat makan. Selera makanku tiba-tiba hilang begitu saja.

"Udah makan belum ma?" Mas Alfandy mendekat.

Aku hanya menggeleng pelan untuk menjawab.

"Astaghfirullah! Bentar papa beli makan dulu" Mas Alfandy langsung keluar lagi untuk membeli makanan.

"Kenapa gak makan sih Ra? Liat ini kamu jadi sakit, kasihan sama Arfan kalau tau mamanya sakit" Ucap mama.

Aku hanya diam, ibu mana yang bisa makan dengan tenang disaat anaknya sedang kritis dan suami juga mengacuhkan.

"Udah baringan dulu sini biar enakan" Aku menurut saja.

"Ma! Mama! Mama mana?" Tak lama kami berdua mendengar sayup-sayup suara.

Aku yang baru sebentar terbaring langsung bangun dan mendekati ranjang Arfan.

"Alhamdulillah, mama!" Ucapku sedikit berteriak.

"Alhamdulillah Ra. Bentar mama panggilin dokter" Mama langsung keluar ruangan, padahal ada tombol untuk memanggilnya.

Aku juga tidak begitu ngeh karena senang melihat Arfan sadar.

"Mama" Panggilnya lagi.

"Iya apa bang?" Tanyaku sambil menggenggam tangannya.

"Mama sakit?" Tanyanya.

Bisa-bisanya anak ini malah menanyakan kondisiku disaat kondisi dia sendiri sedang sakit.

"Gak mama gak sakit. Abang ada yang sakit?" Aku balas bertanya.

"Kepala sama tangan abang sakit ma" Jawabnya.

Aku mengusap pelan kepala dan tangannya yang terluka. Dia diam dan tersenyum.

Anakku Bukan AnakmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang