Part 27

5.2K 144 3
                                        

Almeera Pov

Aku menetralkan emosiku agar anak-anak tidak ikutan terbawa emosi juga. Mereka tidak pernah melihatku menangis dan ini kali pertamanya.

"Mama jangan nangis lagi oom tadi udah pelgi" Ucap Arfan.

Ada rasa yang aneh saat dengar Arfan menyebut papanya sendiri oom. Mungkin mereka tidak percaya kalau Mas Alfandy papanya walaupun tadi sudah aku katakan bahwa benar itu papa mereka.

"Itu papa kalian loh bukan oom. Kalau di kita iya itu oom kita" Ira sekarang yang bicara.

"Ira sayang banget sama Om Al, Om Al itu baik banget loh kalian hebat punya papa kayak Om Al" Sambungnya lagi.

"Itu bukan papa kita kak" Jawab Arhan.

Mama, Mba Arumi dan Nisa hanya menatapku iba. Mungkin mereka juga kasian denganku.

"Maafin mama ya udah bikin kamu jadi begini, harusnya kita gak usah ke mall ini karena Al memang sering ke mall ini" Mama meminta maaf.

"Gak papa ma" Jawabku.

"Minum ma" Arfan memberikanku minum.

"Makasih ya" Aku berusaha tersenyum kembali agar mereka tidak khawatir lagi.

"Cali musholla atau masjid yuk, udah mau masuk waktu sholat ini" Arhan menginterupsi kami.

Benar saja jam sudah menunjukkan pukul 6 sore dan beberapa menit lagi akan magrib.

"Sholat di musholla sini aja kali ya ma biar gak kelamaan" Usul Nisa.

"Ya udah lantai 6 yuk" Ajak Mba Arumi.

Kami bersama menuju eskalator untuk sampai di lantai 6. Di mall ini memang ada musholla di lantai 6 nya dan juga di lantai ini terdapat lapangan futsal juga untuk orang yang mau bermain futsal.

"Cuma kita ini yang sholat?" Tanya Mba Arumi ke kami yang baru masuk musholla dan ternyata memang sepi sekali.

"Mungkin orang-orang belum pada ke sini mba kan baru azan" Aku menjawab.

Kami bergantian untuk wudhu karena untuk menitipkan barang-barang. Bukan tidak percaya jika ditinggal begitu saja tapi hanya untuk jaga-jaga.

Mama, Nisa, Rahma, Lea dan Ira wudhu duluan sedangkan aku, Mba Arumi, Arfan dan Arhan menjaga barang-barang.

"Kalian biasanya sholat di rumah siapa yang jadi imamnya?" Tanya Mba Arumi ke si kembar.

"Gantian tante, kadang abang kadang Abang Alfan" Jawab Arhan.

"Wah hebat ponakan-ponakan tante ini ya" Puji Mba Arumi.

"Mama yang ajalin tante, kata mama laki-laki itu sebagai imam baik dalam sholat ataupun kelualga. Tapi kok papa kita gak jadi imam yang baik ya bang?" Arhan menyikut Arfan.

"Itu tadi bukan papa kita bang" Jawab Arfan tenang.

"Tapi muka abang sama om tadi milip loh" Jawab Arhan.

"Kamu juga milip dia" Balas Arfan.

"Ya miliplah kan kita mukanya sama bang" Jawab Arhan ke Arfan.

"Kalau beda belalti gak kembal dong ya. Hahaha" Tawa keduanya.

Aku dan Mba Arumi tersenyum saling pandangan melihat bercandaan mereka berdua.

"Abang Arfan, Abang Arhan yang tadi itu benar papa kalian. Kalian memang sangat mirip dengan papa kalian. Lain kali bersikap sopan ya kalau ketemu papa kalian lagi" Ucapku menasehati.

Aku tidak mau anak-anak menjadi durhaka ke papanya. Mereka harus bisa menghormati Mas Alfandy juga. Walau bagaimanapun dulu Mas Alfandy membenci aku ibunya ini tapi tetap darah itu kental dan darah Mas Alfandy ada di dalam tubuh mereka.

"Tapi kenapa dia balu datang telus bikin mama nangis?" Tanya Arhan.

"Iya tadi mama ketakutan lihat dia, belalti dia jahat dan dia bukan papa kita" Sahut Arfan.

"Mama tadi cuma kaget kok. Lain kali kalau ketemu salam ya yang sopan juga ngomongnya" Kembali ku beri nasehat mereka agar ke depannya sopan ke Mas Alfandy.

Arfan dan Arhan menurut dan mengangguk tanda mengerti ucapanku. Mba Arumi yang melihat kami hanya tersenyum saja.

Alfandy Pov

Kesal sekali aku dengan Almeera, bisa-bisanya kedua anakku menjadi tidak sopan denganku. Pasti selama ini Almeera sudah mendoktrin mereka agar membenciku. Bagaimanapun aku harus mendapatkan hati anak-anak dan raga mereka. Aku mau anak-anak menjadi anakku satu-satunya dan tidak menjadi anak Almeera lagi. Dia mau bermain perang denganku maka akan aku lakukan hal itu.

"Kenapa sih mas pulang-pulang marah-marah gitu?" Erin sewot dengan tingkah ku.

"Aku lagi kesal sayang. Masa Almeera mengajarkan anak-anak untuk bersikap tidak sopan denganku. Anak-anakku bahkan tidak mau mengakui papanya dan memanggilku dengan sebutan papa" Ungkapku ke Erin.

"Sabar mas mungkin memang Almeera sengaja udah ajarkan anak-anak kamu buat benci kamu. Mungkin dia mau hasut anak kamu benci dan akhirnya nanti balas dendam ke kamu" Ucap Erin.

"Astaghfirullah kak, gak mungkin Mba Almeera seperti itu. Mba Almeera itu orang baik dan dia juga tidak akan mengajarkan hal buruk ke anak-anaknya" Sisi adiknya Erin rupanya masih di sini.

"Tau apa kamu Si, kamu kenal Almeera saja tidak!" Bentak Erin ke adiknya.

"Sisi kenal Mba Almeera kak. Sisi beberapa kali ditolong Mba Almeera waktu kesusahan. Kakak ingat waktu dulu aku kecelakaan dan butuh darah? Itu Mba Almeera yang donorin. Awalnya aku gak kenal Mba Almeera tapi setelah tau dia istri dari Kak Al makanya dulu aku bilang ke kakak jangan kacau hubungan rumah tangganya karena dia orang baik" Jelas Sisi.

"Ah udahlah gih pulang sana!" Erin mengusir adiknya.

Sisi yang diusir langsung keluar dari rumahku tanpa berpamitan. Mungkin dia kesal karena diusir kakaknya.

"Kok jadi aku yang emosi sih!" Gerutunya.

"Udah aku mau mandi!" Aku sedikit meninggikan suara dan mengabaikan Erin.

Aku mengguyur kepalaku yang terasa pening dan panas dengan air yang dingin berharap bisa reda pusing dan panas kepala ini.

Wajah Almeera dan anak-anak masih terbayang di benakku. Andai saja dulu aku tak mengusir Almeera pasti sekarang aku sudah bahagia menjadi ayah dari 2 orang anak kembar yang sangat menggemaskan.

Aku langsung menepis pikiran itu karena itu tidak akan mungkin terjadi. Aku hanya mencintai Erin dan hanya ada Erin di hatiku. Aku terpikir Almeera hanya karena anak-anakku itu saja tidak lebih.

Selesai mandi dan keramas aku langsung menuju bawah mencari Erin. Aku mau meminta maaf padanya karena sudah membuat dia menjadi emosi juga.

"Sayang" Ku peluk dia dari belakang.

"Apa!" Ucapnya ketus.

"Maaf ya gara-gara aku kamu jadi emosi juga" Aku mengendus lehernya.

"Geli udah ah!" Dia menepis tanganku yang hendak menyentuhnya.

"Aku pengen, ayok kita usaha bikin baby biar dapat juga" Ajakku padanya.

"Apaan sih kamu mentang-mentang udah ada anak sama Almeera jadi kamu nyindir aku yang gak bisa kasih anak, gitu?" Lagi-lagi aku sepertinya salah bicara.

"Eh gak kok, udah ya besok kita ke dokter dan kita program ya sayang ya. Aku sudah sangat ingin anak dari kamu. Aku gak bisa bayangkan betapa tampan atau cantiknya anak kita nanti" Ucapku mengembalikan moodnya.

"Iya besok aja juga bikinnya aku capek mau tidur" Dia melepaskan pelukannya dan berjalan masuk ke kamar.

Aku menghela napas dan duduk di sofa ini sambil masih membayangkan wajah Almeera dan anak-anak tampanku.

Anakku Bukan AnakmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang