Alfandy Pov
Hari yang ditentukan tiba, hari ini aku sudah membereskan semua barangku dan bersiap menuju bandara menggunakan mobil dinas sini.
Anggota yang lain memberikan ku semangat, sedangkan komandan ikut aku pulang dan sudah digantikan dengan komandan baru.
"Baik kita berangkat sekarang pak" Ucap komandan ke kepala desa.
Aku duduk di samping supir sedangkan komandan duduk di kursi penumpang bersama kepala desa. Sarah dan kedua orang tuanya naik mobil satu lagi.
Sampai di bandara aku duduk menjauh dari Sarah dan keluarganya. Aku benci sekali melihat mereka dan aku pastikan nanti mereka menerima akibat dari rencana busuk mereka ini.
"Check-in dulu pak" Ajak komandan ke kepala desa.
Pak kepala desa beserta Sarah dan kedua orangtuanya mengikuti komandan. Aku sendiri berjalan di belakang mereka.
Di pesawat aku duduk bertiga bersama komandan dan pak kades. Sarah dan kedua orangtuanya duduk di seberang kami. Aku tau sedari tadi Sarah dan kedua orangtuanya selalu memperhatikanku.
Perjalanan udara berlangsung selama 3 jam kurang dan sekarang kami sudah berada di bandara kotaku. Aku sengaja tidak mengabari siapapun karena tidak mau mereka syok.
"Kita langsung ke rumah sakit pak" Ucap komandan ke pak kades.
Pak kades, Sarah dan kedua orangtuanya nampak bingung kenapa mereka diajak ke rumah sakit bukan ke rumahku.
Aku hanya diam sedari di bandara ataupun yang pesawat. Malas sekali bicara bersama mereka.
"Untuk apa kita ke rumah sakit pak?" Tanya pak kades.
"Saya dan Alfandy harus apel sebentar karena kami harus laporan pulang" Jawab komandan berbohong.
Kami memang sengaja mau langsung memeriksakan Sarah karena aku tidak betah melihat dia lama-lama di sini.
"Boleh mampir ke toilet pak?" Ucap Sarah pelan seolah-olah memang gadis desa lugu.
"Silakan, itu di sana" Tunjuk komandan.
Dia pergi bersama ibunya dan kami menunggu sebentar di lobby bandara.
"Nanti bapak saya antar ke apartemen saya, bapak bisa bermalam di sana" Ucapku ke pak kades tentunya bukan ke bapaknya Sarah.
Bapak Sarah tampak terasa karena aku hanya bicara ke pak kades bukan ke dia.
"Assalamualaikum ya pa" Aku menerima telepon dari papa.
Walaupun tidak ada yang ku kasih tau tapi aku mau tidak mau kasih tau papa. Cuma papa yang bisa aku percayai untuk membantuku. Kalau mama nanti bisa-bisa dia emosi duluan.
"Waalaikumussalam, di mana? Papa udah di parkiran" Jawab papa.
"Bentar pa nungguin dia ke kamar mandi" Jawabku.
"Papa bawa mobil van ya, papa tunggu di mobil aja jangan lama-lama assalamualaikum" Papa.
"Oke pa, waalaikumussalam" Aku menutup panggilan.
"Siapa Al?" Tanya komandan.
"Papa pak, saya ngasih tau papa biar papa saksi juga" Jawabku.
"Papanya Pak Alfandy?" Tanya Pak kades.
"Iya pak papa saya, beliau udah jemput" Jawabku.
Aku bersikap sopan ke kepala desa karena pak kepala desa tidak memihak. Dia sangat adil memutuskan sampai mau diajak ke sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anakku Bukan Anakmu
Narrativa generaleMenceritakan seorang istri yang diusir karena tidak bisa memberikan anak untuk suaminya. Tetapi setelah diusir dia baru mengetahui kalau dia hamil.
