Part 112

2.1K 108 9
                                        

Author Pov

Karena masalah ini makin panjang dan 2 orang dari bapak-bapak tadi tak mau kalah dan malah mengajak Alfandy berkelahi, maka Bi Minah mau tak mau menghubungi Pak Hartowi agar segera ke rumah melerainya.

"Ini rumah saya dan anda mau buat onar di rumah saya! Apa hak anda!" Emosi Alfandy.

"Anak kamu yang nakal kenapa jadi anak saya yang mau dipenjarakan! Ingat ya istri kamu juga menampar anak saya dan akan saya laporkan juga istri anda!" Ancamnya.

"Kapan istri saya menampar anak anda hah! Mana buktinya!" Alfandy.

"Saya sudah memfoto pipi anak saya yang bekas ditampar istri anda! Kalau anda tetap membawa masalah ini ke jalur hukum saya juga laporkan istri anda!" Ancamnya.

"Mohon maaf ya pak saya tidak pernah menyentuh anak-anak kalian, bahkan saya baru bicara mereka sudah berlari pulang ke rumah masing-masing. Hanya satu anak yang ditahan oleh teman saya dan kami hanya minta diantar ke rumahnya. Sampai di rumahnya pun kami membiarkannya masuk dan tak menyentuh sedikitpun. Jika bapak masih mau laporkan saya silakan, saya juga akan laporkan balik atas tuduhan pencemaran nama baik dan bukan hanya anak bapak yang dipenjara tapi bapak akan ikut" Almeera yang baru saja keluar lagi menjawabnya.

"Untuk pak RT saya mohon maaf kemaren tidak meminta izin ke bapak sebagai ketua RT di sana untuk mendatangi salah satu rumah warga bapak. Saya sudah terlanjur langsung ke rumah salah satu anak-anak itu. Tapi saya benar-benar tidak menyentuh apalagi menampar anak-anak itu" Lanjut Almeera.

"Saya juga minta maaf Bu, pak karena pagi-pagi sudah membuat kegaduhan di rumah ibu dan bapak. Saya niatnya mau mengajak berdiskusi dan berdamai secara kekeluargaan. Tapi kalau misal sudah begini dan warga saya juga tidak bisa kooperatif begini jadi saya tidak bisa membela mereka lagi" Jelas Pak RT.

Kelima bapak-bapak tadi terdiam dan baru mulai mau mereda emosinya. Mereka kembali duduk dan Almeera mempersilakan mereka minum dulu untuk menetralkan emosi masing-masing.

"Assalamualaikum!" Pak Hartowi tiba-tiba datang.

Sepertinya dia baru saja akan berangkat kerja tapi ke sini dulu. Pak Hartowi mengenakan baju kemeja biasa tapi ada nametag dan tertulis nama serta gelar dokternya.

Sontak saja Pak RT dan kelima bapak-bapak tadi meneguk liur masing-masing. Terutama untuk bapak-bapak yang menantang Alfandy tadi. Nyalinya langsung ciut ketika melihat kalau lawannya berasal dari keluarga terpandang.

Siapa yang tidak kenal dengan dr. Hartowi Syarif, sp.THT. Seorang dokter THT terkenal dan sekaligus pemilik klinik THT terbesar di kota ini.

"Waalaikumussalam" Jawab Almeera, Alfandy dan Pak RT.

"Ada apa ini?" Pak Hartowi duduk disamping Almeera.

"Ini mereka bapak dari anak-anak yang merundung Arfan Arhan pa" Jawab Alfandy.

"Kalian mau apa?" Tanya Pak Hartowi to the point langsung.

"Maaf bapak saya ketua RT 16 tempat kampung anak-anak itu tinggal. Saya tadi sudah menyampaikan maksud kedatangan saya karena aduan warga saya ini. Jadi saya ingin mendengar dari kedua belah pihak. Setelah mendengar penjelasan dari Pak Alfandy saya mendapat kesimpulan bahwa bapak-bapak ini sepertinya sudah dibohongi istri dan anak-anak mereka. Saya sebagai ketua RT merasa malu untuk ke sini karena anak-anak dan istri-istri dari warga saya ini yang bersalah" Jelas Pak RT.

"Untuk apa lagi ke sini? Saya dan anak saya sudah melaporkan masalah ini ke pihak kepolisian. Bukti visum dan rekaman cctv di lokasi kejadian sudah saya serahkan juga ke polisi. Dan satu lagi polisi sedang berjalan kemari untuk mendapatkan visum lebih lanjut untuk cucu saya. Saya mendapat laporan dari art di sini kalau kaki cucu saya ternyata bengkak sehingga dia berjalan pincang. Kemaren belum keliatan bengkaknya dan sekarang baru keliatan. Saya tidak terima sama sekali kalau cucu saya sampai tergores apalagi sampai pincang begitu" Ucap Pak Hartowi masih dengan gaya elegannya.

Akhirnya karena memang sudah ketakutan bapak-bapak tadi kabur dari rumah itu begitu saja. Tinggal hanya Pak RT saja. Pak RT juga merasa tidak enakan dengan Alfandy sekeluarga.

***

Kaki Arhan sudah diurut tradisional tapi tetap Alfandy bawa ke dokter syaraf karena takut bukan hanya terkilir biasa. Alfandy takut kalau tidak cukup hanya diurut saja.

"Abang ikut?" Tanya Almeera ke Arfan ketika mereka mau berangkat ke rumah sakit.

"Ikut boleh gak?" Tanya Arfan.

"Boleh dong sayang, ayok sini" Almeera menggandeng Arfan sedangkan Arhan digendong Alfandy.

Pak Hartowi sudah lebih dulu pergi, dia harus ke klinik dan juga mengurus masalah Sarah dan juga sekaligus masalah Arfan Arhan.

Pak Hartowi sengaja tidak mau melibatkan Alfandy begitu jauh karena dia harus menjaga keluarganya.

Rumah Arumi

Arumi setiap paginya direpotkan dengan riwehnya anak-anak. Si sulung sudah bisa melakukan persiapannya sendiri sedangkan si tengah dan bungsu masih bergantung ke Arumi.

"Kakak mau diantar papa apa supir?" Tanya Bagas yang baru selesai memakai jam tangan dan duduk bersama untuk sarapan.

"Anter supir boleh dianter papa juga boleh" Jawab Rahma.

Rahma memang tidak ribet dan dia juga bisa dipercaya untuk menjaga adik-adiknya. Dia memang cocok untuk menjadi anak pertama yang memberikan contoh baik ke adik-adiknya.

"Lea mau dianter papa" Si tengah yang malah merengek manja.

"Oke papa yang anter" Jawab Bagas.

"Nanti aku juga nebeng ya sekalian mau anter Farish ke rumah mama" Arumi datang sambil menggendong Farish.

"Mobil mama gimana?" Tanya Bagas.

"Mobil mama lagi mama servis pa, itu kayak gasnya agak keras di injek. Memang udah saatnya servis sih mama aja yang lupa" Cengir Arumi.

Mereka sarapan bersama dengan Arumi sambil memangku Farish. Bukan karena Arumi tidak memiliki babysitter tapi karena Arumi sendiri yang minta, dia mau pagi hari dia yang mengurus Farish dan nanti baru babysitter nya pas dia kerja.

"Si mba dibawa ke rumah mama?" Tanya Bagas setelah mereka selesai makan dan bersiap pergi.

"Dibawa lah mas masa mama yang pegang Farish terus, kasian mama nanti kecapekan" Jawab Arumi.

"Udah siap?" Tanya Bagas ke anak-anaknya yang tadi masih memasang sepatu.

"Susah pa" Rengek Lea.

Lea sepertinya makin hari makin manja ke papanya karena tau kadang papanya pulang kerja nyariin Farish duluan dari dia.

"Sini papa bantuin" Bagas membantu memasang sepatunya.

Arumi nyengir-nyengir bersama Rahma karena tau kalau Lea hanya ingin manja ke papanya bukan tidak bisa masang sepatunya.

Anakku Bukan AnakmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang