Guys makasih ya udah mampir dicerita aku ini. Tolong yang baca minimal follow dan vote lah ya. Saya gak ikhlas ya yang baca tapi gak follow dan vote.
Berarti kalau yang baca gak follow dan vote saya gak ikhlas kalian yang dosa ya😅
Ide orang itu susah dapetnya, apa salahnya kan ya kalian tinggal follow dan vote hehe
Terima kasih banyak ya untuk yang udah follow, vote dan komen.!!!
Happy Reading yakk 🙂🙂
______________________________________
Almeera Pov
Semenjak kejadian Arfan berlaku tidak sopan ke mama dan Mba Arumi. Aku melihat perubahan besar dirinya, dia lebih suka menyendiri dan diam sendiri daripada bermain atau belajar bersama Arhan.
"Abang Arfan sama Abang Arhan mau sekolah gak?" Tanyaku.
Arfan sedang menonton tv dengan ekspresi datar sedangkan Arhan sedang mewarnai.
"Abang mau!" Antusias Arhan.
"Kalau Abang Arfan gimana?" Tanyaku hati-hati karena Arfan sepertinya tidak menyadari kedatanganku.
"Abang mau ma" Jawabnya sambil merubah ekspresinya dari datar ke senyum manis.
Arfan memang sejak itu hanya menampilkan senyum manis dan wajah ramahnya padaku dan Arhan saja. Selebihnya ke orang lain dia akan menjadi dingin dan datar. Bahkan ke bibi di rumah dia ikut dingin.
"Ya udah kalau gitu nanti pas udah umur 4 mama daftarin paud ya" Ucapku.
"Yeay!!" Teriak Arhan kegirangan.
"Eh nanti ulang tahunnya mau dirayain di mana? Abang berdua mau kado apa dari mama?" Tanyaku.
"Abang mau sama mama telus aja udah cukup" Jawab Arhan.
"Abang juga cuma mau tetap ada sama mama dan jaga mama sampai kapanpun itu" Jawab Arfan juga.
Aku terharu dengan jawaban keduanya, anak umur 3 tahun sudah bisa mengatakan hal seromantis itu.
"Hm tapi kalau mau sekolah harus bisa ngomong r ya. Jadi mulai sekarang rajin-rajin belajar ngomong huruf r ya" Ledekku ke mereka.
"Awas ya mama kalau abang udah bisa ngomong huluf l abang mau sombong ke mama" Ucap Arhan dengan percaya diri.
"Kalau kita bisa ngomong huluf l mama janji gak nangis lagi ya" Ucap Arfan tiba-tiba saja.
"Eh mama gak nangis-nangis" Jawabku.
"Mama jangan bohong, abang seling dengel mama nangis sendili di kamal" Jawabnya.
Aku merutuki kecerobohan diriku karena tidak waspada menutup rapat pintu ketika sedang bersedih.
"Iya mama gak akan nangis-nangis lagi. Janji!" Aku menyodorkan kedua jari kelingkingku ke mereka dan disambutnya.
"Ya udah ini mama mau ke cafe kalian ganti baju gih" Anak-anak dengan cepat menuju kamarnya.
"Bi nanti saya pulangnya malam, jadi sebelum magrib kunci aja semua pintu dan jendela ya. Kunci juga aja pintu depan, saya nanti lewat pintu garasi. Jangan lupa kunci juga pintu masuk diarah garasi saya ada kuncinya" Pesanku ke si bibi.
Aku terbiasa meninggalkan bibi sendirian di rumah ketika sore menjelang malam atau pagi menjelang sore. Kadang dari pagi sampe malam. Alhamdulillah bibi betah-betah saja dan nyaman.
"Udah ma" Anak-anak sudah rapi dengan baju mereka.
Aku mengambil tasku dan kami meluncur menuju cafe. Sudah semingguan lebih aku gak ke cafe, kasian Ria mengurusi semua kebutuhan cafe selama aku gak ke sana. Sekarang gantian dia istirahat aku yang ngontrol cafe. Kasian juga udah masuk trisemester kedua kehamilannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anakku Bukan Anakmu
General FictionMenceritakan seorang istri yang diusir karena tidak bisa memberikan anak untuk suaminya. Tetapi setelah diusir dia baru mengetahui kalau dia hamil.
