Part 73

3.6K 127 4
                                        

Alfandy Pov

Ku paksakan diri ini masuk ke kamar di mana bayi itu berada. Ku intip dari luar bayi itu sedang tertidur lelap dengan si mbok yang juga tertidur di ranjang.

Bayi itu tampak kekenyangan dan sangat lelap. Aku masuk dan mencoba melihatnya lebih dekat. Sebelumnya aku tidak pernah sedekat ini dengannya. Ku pandang wajahnya dan dia benar-benar mirip sekali dengan Erin. Tak ada satupun bagian wajahnya yang berbeda dengan Erin.

Bulu mata panjang dan lentik, alis tebal hitam, hidung mancung runcing, dan bibir kecil merah. Semua yang ada di wajah bayi ini copy an dari wajah Erin semua.

Semakin lama aku menatap wajah bayi ini semakin muncul perasaan bersalahku ke Erin. Kenapa aku harus menyelamatkan bayi ini dibandingkan dengan Erin orang yang sangat ku cintai.

"Mbok maaf saya lama" Almeera masuk sambil menenteng kantong belanjaan.

"Kamu ngapain mas?" Tanya nya.

Aku mundur beberapa langkah dari box bayi dan mendekat ke arahnya.

"Anak itu ngompol" Ucapku asal.

Padahal aku sama sekali tidak tau apa anak itu ngompol atau tidak. Aku malu tertangkap basah oleh Almeera karena sedang melihat bayi itu.

"Bilang aja kamu penasaran sama wajahnya. Liat aja mas, semua yang ada diwajahnya itu Erin banget. Alis, mata, bulu mata, hidung, bibir dan sampai lesung pipinya juga milik Erin" Ucap Almeera sambil menaruh kantong belanjaannya tadi.

"Ya wajar mirip Erin karena dia anak Erin bukan anakku" Jawabku.

"Anak Erin anak kamu juga mas" Jawab Almeera sambil mencuci tangannya memakai sabun cuci tangan.

Almeera selalu menjaga kebersihan sebelum menyentuh bayi ini. Mungkin dia takut anak ini terkena penyakit. Begitu sayangnya Almeera dengan anak orang yang semasa hidupnya selalu menghinanya.

"Assalamualaikum adek!" Si kembar yang sudah berganti pakaian menyerbu masuk ke dalam.

"Eh ibu sama tuan ada di sini, maaf saya ketiduran" Si mbok terbangun.

"Gak papa mbok, udah lanjut tidur aja mbok" Jawab Almeera.

"Gak enak saya Bu, saya permisi" Si mbok keluar.

Di ruangan ini hanya tinggal tersisa aku, Almeera, kembar dan bayi ini. Si kembar sedari tadi mengganggu bayi ini agar bangun. Mereka berdua mentoel-toel pipi bayi ini.

"Oek! Oek! Oek!" Tangis si bayi pecah.

"Abang jangan ganggu adeknya, mama lagi beresin baju-baju nya ini" Almeera nampak kesal dengan ulah kembar.

"Habis dedeknya lucu sih ma, eh dedeknya cantik banget ya ma mirip mama lagi" Sahut Arhan.

Seperti yang kalian ketahui kalau Almeera dan Erin memang mirip. Hanya beda di aura wajah keduanya saja. Tapi justru bayi ini memiliki aura sendu damai Almeera, bukan aurat antagonis ibu kandungnya.

"Permisi bentar ya mama mau gendong biar diem" Almeera mengangkat bayi itu dan menimangnya.

Si bayi tetap nangis dan tak mau berhentilah.

"Ambilin susu dedeknya bang" Pinta Almeera ke Arfan atau Arhan, mana aja yang mau gerak tolong ambilin.

"Mau nenen mama itu adeknya" Ucap Arfan tanpa bersalah.

Almeera yang mendengar itu langsung membulatkan mata menatap Arfan seolah memberitahu Arfan kalau yang dia katakan itu gak boleh seharusnya dikatakan.

"Upss! Sorry mama" Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Anakku Bukan AnakmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang