Almeera Pov
Hari-hariku bahagia setelah pindah ke kota ini dan juga memulai membuka hati untuk laki-laki lain. Aku sudah merasa kalau gairahku untuk memiliki pasangan lagi sudah ada saat ini. Aku juga senang karena dokter Rayn bersedia menungguku selama ini.
"Jadi ke zoo?" Tanya dokter Rayn ke anak-anak.
"Jadi dong om, bentar ya abang panggil Abang Arfan bentar" Arhan berlari menuju kamar mencari kakaknya.
Dokter Rayn sudah sangat banyak membantuku, dia banyak membantu untuk tumbuh kembang anak-anak dan kesehatan mereka.
"Kamu jam berapa ke florist yang?" Tanya nya padaku.
Ya, kami menjalin hubungan. Aku memantapkan hati untuk kembali mencoba mencintainya.
"Balik dari kita pergi aja mampir bentar. Aku juga cuma mau ngambil bunga yang aku mau tanam di halaman rumah" Jawabku.
Aku masih sedikit canggung kalau untuk memanggil sayang atau sebagainya ke dokter Rayn. Kadang aku memanggilnya ya dokter Rayn. Kalau aku sudah memanggil begitu pasti dia akan mulai pura-pura merajuk.
"Okedeh kalau gitu. Eh makan siang anak-anak dibuatin gak? Mereka jangan makan makanan beli diluar. Lebih baik kamu masak untuk mereka" Nasehatnya padaku.
"Iya siap pak dokter cerewet" Ledek ku.
"Aku cerewet gini karena kamu sayang. Aku jadi pengen cepet-cepet nikahin kamu biar tiap hari liatin bibir cerewet ini" Dia menarik pelan bibirku.
Aku kaget dan refleks mundur beberapa langkah. Dokter Rayn sangat berani menyentuhku. Aku memang mencoba menerima dia dihidupku dan anak-anak, tapi bukan berarti aku mau dipegang-pegang dia.
"Eh maaf belum muhrim" Dia cengengesan.
Aku langsung memasukkan hp dan dompetku ke dalam tas. Tak lupa makan siang anak-anak dan beberapa camilan untuk mereka.
"Mama! Bang Arfan gak mau ikut" Arhan merengek.
"Lah kenapa gak mau?" Tanyaku.
"Katanya mau di rumah aja" Jawab Arhan.
Aku memutuskan untuk membujuknya, aku tau Arfan tidak menyukai aku dekat dengan dokter Rayn. Sebenci apapun dia dengan Mas Alfandy dia lebih milih aku dekat dengan Mas Alfandy dibanding dokter Rayn. Aku juga tidak tau alasannya apa, padahal sedari dulu mereka dekat dan baru-baru ini setelah aku dan dokter Rayn menjalin hubungan Arfan menjadi berbeda.
"Assalamualaikum bang" Aku masuk ke kamarnya.
Arfan duduk dengan tenang sambil mengerjakan tugas sekolahnya.
"Waalaikumussalam" Jawabnya.
Tapi dia tidak menoleh ke arahku sama sekali. Dia tetap fokus ke buku dan pensilnya.
"Abang marah sama mama?" Tanyaku. Aku berdiri tepat disampingnya.
"Mama minta maaf ya kalau buat abang marah ke mama" Ucapku lagi.
Arfan tetap sama tak bergeming ataupun menengok ke arahku sebentar saja. Arfan tetap menulis tugasnya dengan fokus.
"Mama tau abang gak suka mama deket sama dokter Rayn" Aku mengambil napas sebelum melanjutkan bicara.
"Mama harus bisa move on bang dari papa kalian. Kita harus melanjutkan hidup dengan orang baru. Papa kalian sudah bahagia dengan pasangan barunya. Mama hanya ingin memberikan yang terbaik untuk abang dan juga Abang Arhan. Mama gak mau kalian tumbuh nantinya tanpa kasih sayang seorang ayah. Mama mau memberikan kalian sosok ayah dihidup kalian" Ucapku padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anakku Bukan Anakmu
Fiksi UmumMenceritakan seorang istri yang diusir karena tidak bisa memberikan anak untuk suaminya. Tetapi setelah diusir dia baru mengetahui kalau dia hamil.
