Part 18

4.7K 155 2
                                        

Almeera Pov

Aku telat untuk bangun subuh akibat kegiatan malam tadi. Ku lihat ke samping Mas Alfandy juga masih tidur dengan nyenyak.

Ku punguti baju-baju ku dan langsung menuju kamar mandi untuk mandi besar dan sholat subuh.

"Astaghfirullah, darah" Aku melihat ke tanganku yang baru saja selesai membersihkan daerah intimku.

Ada darah lumayan banyak dan juga ini terasa perih.

"Dek kalian kenapa? Maafin mama ya" Aku buru-buru mandi dan sholat.

Selesai sholat aku langsung pergi begitu saja ke rumah sakit karena perutku sudah sangat sakit. Di dalam gocar juga aku masih sambil menahan sakit.

"Kenapa gak ditemenin suaminya nak? Ini bahaya" Ucap si supir padaku.

"Suami saya lagi keluar kota pak" Jawabku berbohong.

"Haduh keluarga yang lain kemana nak. Bentar ya bapak usahain cepat sampai" Ucapnya.

Aku tidak lagi menjawab pertanyaan bapak ini dan tetap fokus berdoa dalam hati untuk keselamatan kedua anakku.

"Bawa langsung ke bilik nomor 3" Suara dokter menginterupsi perawat.

Aku sudah di bilik 3 UGD, dokter sudah bersiap dengan memakai sarung tangannya.

"Jangan mengedan ya Bu" Perintahnya.

Aku berusaha sekuat tenaga menahan agar tak mengedan, jujur ini sangat sakit sekali.

Dokter ini sudah bekerja menangani ku dan alhamdulilah anak-anak ku terselamatkan hanya saja aku harus dirawat dan butuh transfusi darah.

"Boleh saya pulang saja dok? Saya tidak mau di rawat" Tanyaku.

Aku takut jika dirawat Mas Alfandy dan yang lain akan bertanya kemana aku.

"Maaf Bu Almeera kalau misal ibu tidak dirawat maka akan sangat berbahaya untuk janin ibu. Saya sarankan untuk dirawat beberapa hari sampai keadaan ibu kembali pulih" Jawabnya.

Aku akhirnya menuruti perkataan dokter daripada akan berbahaya dengan anak-anak yang ku kandung.

"Assalamualaikum Ria" Mau tidak mau aku harus menghubungi Ria, setidaknya aku punya teman disini nanti kalau misal terjadi sesuatu padaku.

"Waalaikumussalam iya kenapa Ra?" Untungnya Ria cepat membalas chatku.

"Aku mau minta tolong, kamu bisa ke rumah sakit Jaya Wijaya sekarang? Aku lagi dirawat, tapi jangan kasih tau siapa-siapa" Balas ku.

"Astaghfirullah! Aku chat Bang Ari dulu minta tukaran masuknya. Bentar ya" Aku lega mendapat jawaban dari Ria.

"Maaf ibu ini sarapannya dan obatnya. Kalau boleh saya tau walinya di mana ya, kita harus tanda tangan administrasi" Ucap seorang perawat padaku.

"Bentar lagi saudara saya datang mba, makasih ya" Jawabku.

Perawat ini tersenyum dan keluar dari ruangan ku.

"Assalamualaikum. Ara! Kenapa kamu bisa dirawat sih?" Rupanya Ria yang datang dengan hebohnya.

"Waalaikumussalam aku gak papa Ri" Jawabku.

"Gak papa gimana ini pake segala transfusi darah" Cetusnya.

"Kamu mau bantuin aku gak?" Tanya ku.

"Apa?" Jawabnya.

"Kamu tolong ke administrasi bayarin biaya rumah sakit aku, ini PINnya tanggal lahir aku" Ku serahkan kartu ATM ku padanya.

Ini kartu ATM yang aku punya sedari sebelum nikah. Alhamdulillah nya aku tidak pernah sakit sampai masuk rumah sakit jadi uangnya insyaallah masih cukup.

Aku tidak mau menggunakan ATM yang diberikan Mas Alfandy karena itu untuk keperluan rumah bukan untuk pribadi. Lagian juga kalau ku pakai akan dia tanya nanti kemana ku gunakan uangnya.

"Gak pake BPJS aja Ra?" Tanya nya.

"Gak usah Ri lagian cuma beberapa hari ini aja biarlah pakai uang aku aja" Aku tidak mau nanti bos tempatku kerja juga tau kalau aku masuk rumah sakit.

"Ya udah bentar ya, mau makan sesuatu gak aku mampir keluar beliin?" Tawarnya.

"Gak usah Ri" Ria keluar langsung dan aku kembali sendiri di ruangan.

Handphone berbunyi

"Assalamualaikum kamu dimana Ra? Kok pagi-pagi udah ngilang aja" Chat dari Mba Arumi.

"Waalaikumussalam, maaf mba Ara ada hal mendadak dan urgent. Ara kayaknya gak bisa pulang beberapa hari, nanti setelah balik Ara jelasin. Titip salam ke mama, papa dan yang lain ya mba, maaf Ara gak izin langsung" Balasku.

"Kemana? Urusan apa? Kenapa gak ngomong ke mba? Mba khawatir sama kamu. Mama, papa dan yang lain juga khawatir ini" Balasnya lagi.

"Mba, mama, papa dan yang lain jangan khawatir ya. Ara pulang ke kampung papa Ara bentar ada hal yang harus diselesaikan. Ara minta maaf ya mba, sampaikan juga ke mama papa dan yang lain" Balasku lagi.

"Kampung kamu dimana? Mba susul ya, kamu jangan sendiri" Begitu khawatirnya Mba Arumi padaku.

Aku bersyukur memiliki saudara ipar yang sangat baik tapi tidak dengan suami yang tidak baik.

"Mba jangan khawatir ya, aku aman di sini. Aku sama Ria mba temen kerja insyaallah baik-baik aja" Jawabku.

"Nanti kalau mau pulang chat mba ya, mba jemput di terminal" Balasnya terakhir.

Aku membalasnya kemudian mematikan teleponku. Aku tidak mau diganggu untuk beberapa waktu ini.

"Jujur sama aku deh Ra kamu sakit apa? Tadi aku baca di depan itu kamu didaftarkan dipoli kandungan" Dia menyerahkan bukti pembayaran padaku.

"Kamu jangan kasih tau siapa-siapa ya Ri, aku hamil dan ini kembar. Aku pendarahan karena Mas Alfandy terlalu kasar melakukannya" Jelasku.

Aku tidak bisa berbohong dari Ria karena dia satu-satunya teman dekat yang aku punya dan mau membantuku.

"Jadi udah ada ponakanku di sini?" Dia menyentuh perutku.

"Iya Ri, tolong ya jangan kasih tau siapa-siapa" Mohonku padanya.

"Ini anak Alfandy kan Ra? Kenapa dia gak boleh tau? Kenapa yang lain juga gak boleh tau?" Tanya nya.

"Anak siapa lagi kalau bukan anak dia Ri, aku gak mau dia dan yang lain tau karena takut dia menyuruhku menggugurkan anak ini. Dia tidak mau anak ini, dia sudah bahagia dengan Erin istri keduanya" Ucapku pelan.

"Istri kedua!" Ria berteriak.

"Jangan teriak Ri anak-anak aku kaget" Ucapku sedikit bercanda.

"Kamu tau dari mana?" Tanya Ria.

"Aku nemu surat pernyataan nikah sirih di dalam tas kerja Mas Alfandy Ri, aku gak bisa marah atau cemburu karena memang aku yang merebut Mas Alfandy dari Erin" Jelasku.

"Ya ampun Ra, malang banget nasib kamu. Aku kira setelah menikah kamu akan menemukan kebahagian, tapi aku salah. Aku janji akan selalu ada untuk kamu. Kamu juga harus janji apapun yang kamu ingin lakukan kasih tau aku, aku harus tau itu. Dan ini aku akan selalu ada buat kamu dan ponakanku. Jangan sungkan untuk meminta bantuan aku ya" Dia mengusap perutku.

"Ponakan-ponakan Ri, mereka ada dua" Jawabku.

"Hehe siap, kalau 2 berarti satu buatku ya" Canda nya.

"Enak aja buat sana sama pacarmu" Ledekku.

"Dosya Almeera dosya!" Ucapnya agak kesal.

"Santuy titik" Dia menoleh padaku.

"Titik apaan?" Tanyanya.

"Titik tu, anti cantik. Hahaha" Jawabku.

"Gak sekalian koma, tanda tanya, tanda seru atau gak petik dua gitu. Jelek amat singkatannya" Dia pura-pura merajuk.

Aku hanya senyum-senyum saja dan kami tertawa bersama.

Anakku Bukan AnakmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang