Almeera Pov
Ibu dari anak ini memandang kami bergantian dan kemudian memandang Arfan dan Arhan juga.
"Silakan duduk" Ucapnya.
Terlihat kalau ibu ini yang mengajarkan ketidaksopanan ke anaknya. Dari cara dia menatap dan menyuruh duduk saja begini.
"Langsung saja bilang, kenapa?" Cetusnya.
"Kenapa-kenapa! Liat ponakan-ponakan saya luka-luka seperti ini! Punya mata gak! Gara-gara anak setan kamu itu!" Emosi Ria.
"Eh Ria kita ngomong baik-baik aja" Ucapku menenangkan Ria.
"Ya terus saya harus gimana?" Malah ibunya balik bertanya.
"Ya punya anak tu diajarin yang baik-baik bukan yang buruk. Pantas anaknya kurang ajar wong maknya gini kurang ajar juga!" Ucap Ria lagi.
"Siapa kamu mempertanyakan cara saya mendidik anak. Anak saya ya suka hati saya mau mengajarkan seperti apa!" Ucap ibu ini.
Aku tau pasti anaknya nakal karena tidak pernah dikasih hukuman saat melakukan kesalahan. Jadi anaknya berlindung dibawah ketiak ibunya ini.
"Saya mau minta tolong ibu ajarin ya anaknya, kalau anak ibu mau minjam sepeda anak saya pinjam dengan baik-baik bukan dengan mendorong, menarik dan menyeret anak saya ke jalan. Ibu tau akibat ulah anak ibu? Anak saya luka-luka dan trauma. Apa ibu bisa tanggungjawab akan hal ini? Saya bukan tidak tau menjaga anak dan mendidik mereka, boleh ibu tanya di MDA dia sama bagaimana baiknya mereka kalau meminjamkan mainan mereka ke anak yang lain. Saya yakin anak ibu dan teman-temannya tadi memaksa anak-anak saya sehingga anak-anak saya tidak mau meminjamkan. Saya rasa anak ibu sudah jauh lebih besar dari anak saya dan saya rasa juga sudah lebih berakal. Saya minta ibu didik dengan baik anak ibu dan minta dia minta maaf ke anak-anak saya. Saya tidak akan memperpanjang masalah ini kalau anak ibu mau meminta maaf ke anak-anak saya. Saya tidak mau anak-anak saya jadi trauma dan tidak mau pergi mengaji lagi karena takut bertemu anak ibu dan dijahili lagi" Ucapku dengan masih sopan.
"Kalau saya tidak mau kamu mau apa? Itu anak saya dan hak saya mau nyuruh dia main di mana" Jawab ibu ini.
"Eh anj*ng! Elu kayaknya cuma tau bikin anak aja ya gak tau didiknya gimana! Pantes anaknya gitu!" Emosi Ria.
"Oke baik kalau ibu tidak mau secara baik-baik saya akan teruskan kasus ini ke pihak berwajib dan ingat sekarang sudah ada yang namanya penjara untuk anak-anak. Saya bukan mau jahat tapi ibu sendiri yang mau anak ibu masuk penjara" Ucapku.
"Lapor saja tidak ada bukti juga" Ibu ini masih berkilah.
"Saya sudah meminta rekaman cctv dari rumah tetangga sekitar lokasi kejadian dan di sana jelas wajah anak ibu dan teman-temannya merundung anak saya. Saya pastikan anak ibu akan ditahan karena sudah ada penjara untuk anak-anak. Oh iya 1 lagi, masa depan anak ibu akan buruk karena ada riwayat narapidana" Aku berdiri mengajak Ria, Arfan dan Arhan pergi.
Baru sampai depan pagarnya aku dihadang beberapa ibu-ibu. Semua wajah mereka penuh amarah dan keempat anak nakal tadi bersama ibu-ibu ini. Aku pastikan ini ibu-ibu dari anak-anak itu.
"Kamu apain anak saya hah!" Ucap seorang ibu-ibu.
Anaknya memegang pipi yang aku liat merah, padahal aku ataupun Ria tidak menyentuh sama sekali anak-anak itu. Hanya anak ibu yang kami datangi tadi ditarik oleh Ria.
"Saya apain?" Tanya Ria.
Ya ibu-ibu itu tujuan bertanya nya ke Ria bukan padaku.
"Beraninya lawan anak kecil!" Omel ibu salah seorang lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anakku Bukan Anakmu
Ficção GeralMenceritakan seorang istri yang diusir karena tidak bisa memberikan anak untuk suaminya. Tetapi setelah diusir dia baru mengetahui kalau dia hamil.
