Part 6

4.8K 139 1
                                        

Almeera Pov

Karena anak-anak Mba Arumi sudah pada tidur, kami memutuskan untuk mengobrolnya diruangan lain. Takut kalau mereka kebangun lagi dengar suara kami.

"Aku nidurin Ira bentar di kamar ya mba" Pamit Anisa.

"Sini Ra" Aku menengok ke arah Mba Arumi yang sudah duduk disofa.

Masih agak canggung bagiku duduk bersama seperti ini.

"Eh kamu bahagia gak setelah nikah sama Al?" Mba Arumi mulai membuka obrolan.

"Bahagia gak bahagia harus dijalani mba, udah takdir aku dan jodoh aku" Jawabku sedikit takut.

"Mba tau Ra gimana rasanya, mba juga dulu pernah diposisi kamu. Tapi untungnya waktu itu masih pacaran bukan menikah. Kamu yang sabar ya nantinya ngadepin Al. Dia memang keras kepala dan semaunya. Nanti misalkan ada apa-apa atau Al nyakitin kamu, langsung kabari mba atau Anisa ya" Ucap Mba Arumi sambil menepuk-nepuk pelan tangannya ke pahaku.

"Iya mba, insyaallah aku akan sering berkabar. Terima kasih ya mba" Ucapku padanya.

Tak lama kemudian kami saling diam.

"Assalamualaikum! Hey! Kenapa pada diem-dieman ini?" Anisa masuk mengagetkan kami.

"Waalaikumussalam. Bikin kaget aja kamu Nis" Ucap Mba Arumi.

"Yee mba sama Mba Ara sih diem-dieman kayak musuhan. Kenapa sih?" Tanya nya lagi.

"Gak papa Nis, kamu kepo banget dah" Ucap Mba Arumi lagi.

Jangan tanya kenapa aku tidak berbicara, jawabannya adalah karena aku masih canggung mau manggil Anisa dengan nama, tanpa embel-embel mba.

"Eh Mba Ara sama Kak Al gak nunda buat punya anak kan?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu dilontarkan.

"Eh gimana?" Ulangku.

"Huss! Anisa mulutmu" Sahut Mba Arumi.

"Hehe santuy Bu dokter. Kan aku nanya mba, siapa tau gitu kan nunda dulu atau langsung gas" Jawabnya.

Dari percakapan kali ini bisa ku tarik kesimpulan bahwa Anisa memiliki sifat yang periang dan ceplas-ceplos. Kalau Mba Arumi memiliki sifat lemah lembut dan berhati-hati dalam berbicara atau bertindak.

"Abaikan aja pertanyaan Nisa ya Ra. Untuk hal itu hak kamu, mau kamu mutusin punya anak cepat atau lambat itu hak kamu. Mba tau kok gak mudah kan?" Ucap Mba Arumi seakan menekankan kata "gak mudah".

"Iya mba, makasih ya mba" Jawabku.

"Maafin aku ya Mba Ara. Tapi kalau misal gak nunda kan baik, ntar makin rame personil cucu mama papa" Kembali Anisa menggodaku.

"Astaghfirullah, kamu aja dah Nis tambah anak kalau gitu. Pake nyuruh-nyuruh orang segala" Ucap Mba Arumi sambil menimpuk Anisa dengan bantal sofa.

Aku hanya ikut tertawa saat Anisa tertawa.

"Hey hey para wanita. Kalian dicariin dimana-mana gak taunya disini. Balik kamar masing-masing gih, para suami kalian udah nungguin" Mama rupanya yang menegur kami.

"Oh iya kan Mba Ara mau produksi malam ini. Oke duluan ya Mba Arum dan Mba Ara" Anisa langsung ngibrit keluar.

"Eh eh request keponakan kembar ya mba, soalnya aku kemaren usaha dapet kembar gagal. Siapa tau kan jadinya di mba. Babay!" Aku hanya senyum geleng-geleng mendengar ucapannya.

"Udah gak usah diladenin" Sahut Mba Arumi.

"Udah Ra ayok ke kamar kamu. Al udah masuk kamar dari tadi, mungkin lagi nyariin kamu itu" Ucap mamanya.

Aku mengangguk dan pamit ke Mba Arumi dan mamanya.

Arumi Pov

Aku tau pasti berat jadi Almeera. Dia harus menikah dan hidup bersama orang yang tidak dia cintai sama sekali. Aku pernah diposisi itu dan itu sakit sekali.

"Mama yakin mau biarin Al bawa Ara ke rumah mereka?" Tanyaku ke mama.

"Mama ragu sebenarnya, tapi mama mau liat kemandirian Al gimana. Tapi itu tadi balik lagi mama khawatir" Jawab mama.

"Jujur aku khawatir banget ma, kita tau sifat Al gimana. Dia sama Ara dijodohkan begitu saja, aku takut Ara jadi pelampiasan kemarahan dia" Ucapku lagi.

"Kita berdoa saja Rum semoga Al berubah setelah ini. Semoga dia mengerti tanggungjawab dia sebagai seorang suami" Jawab mama.

Aku hanya mengangguk tapi masih kepikiran dengan nasib Ara selanjutnya.

"Udah kamu balik kamar gih, itu si Bagas udah nungguin" Aku pamit ke mama.

Sampai didepan kamar aku melihat Ara yang berdiri didepan kamarnya. Kebetulan kamarku kalau menginap disini tepat diseberang kamar Al.

"Kenapa Ra?" Aku menghampirinya.

"Pintunya dikunci mba, aku udah ketok-ketok gak dibukain dari tadi" Jawabnya dengan raut kebingungan juga ketakutan.

"Al! Bangun! Ini istri kamu udah nungguin dari tadi! Jangan pura-pura gak denger kamu ya!" Ku gedor-gedor dengan kuat pintu kamarnya.

"Apaan sih mba!" Dia keluar dengan raut muka aut-autan.

"Kamu ngapain didalam! Istri kamu udah ngetokin dari tadi gak dibuka-buka. Mati apa kamu!" Ucapku padanya.

"Ih apaan sih. Dia gak ngetok berarti, kalau dia ngetok aku pasti denger lah" Ucapnya masih berpura-pura.

"Kamu jangan pura-pura bego ya. Ingat ya Al, Almeera ini istri kamu. Jangan sesekali kamu mencoba menyakiti ataupun membuatnya menangis. Sampai itu kamu lakuin, kamu berhadapan sama mba, dan mba gak akan ngakuin kamu sebagai adik lagi!" Ancamku.

Wajah Al langsung berubah, wajahnya antara cemas dan marah.

Buru-buru ditariknya Almeera masuk ke dalam dan ditutupnya pintu.

Anakku Bukan AnakmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang