81

78 12 0
                                        

Beberapa menit sebelum Priam dan rekan tim penyelamat lain berhadapan dengan Dimitri. Anggi yang telah memisahkan diri untuk menelusuri jalur kiri sendirian, kini telah berada di depan sebuah pintu besi yang menutup ruangan.    

"Bukan di sini juga kayaknya."    

Anggi melihat gagang pintu yang masih berdebu tebal seperti tidak pernah dibuka oleh siapa pun. Pintu besi itu juga sudah tampak luput oleh waktu, dengan besi berkarat yang telah lapuk sehingga mudah dihancurkan. Terowongan ini dibangun ketika kiamat dunia belum terjadi, yang berarti pintu ini pun sudah berumur lebih dari satu abad. Wajar kalau kondisinya sudah sangat buruk seperti ini.    

Anggi mencoba memutar gagang pintu untuk membuka, namun tidak ia kira masih terkunci.    

"Oooh~"    

Anggi merasa tertarik, karena adanya kemungkinan ruangan di balik pintu belum pernah terjamah selama satu abad ini. Mungkin saja dia bisa menemukan harta karun di dalam sana. Anggi lalu mengalirkan aura ke tangannya sedikit, sebelum mematahkan gagang pintu, lalu membuka pintu secara paksa, yang pada akhirnya malah membuat karat di pintu amburadul ke lantai.    

Anggi membuang pintu yang ternyata malah lepas dari engselnya ke belakang. Lalu masuk mendapati ruangan yang tampak seperti sebuah gudang. Tidak terlalu besar, mungkin sekitar 20x20 meter persegi.    

Di dalamnya ia melihat banyak kotak-kotak kardus yang telah lapuk. Memperlihatkan isinya yang berupa kabel-kabel dengan berbagai jenis. Pundak Anggi seketika menurun, kecewa dengan isi ruangan yang ternyata sekadar gudang penyimpanan kabel. Mungkin kabel ini digunakan untuk perbaikan listrik atau semacamnya di dalam terowongan.    

Anggi berjalan mengeksplor ruangan kecil itu sembari sesekali membuka kardus yang belum begitu hancur, untuk melihat isi dalamnya. Wajah Anggi semakin kecewa karena tidak ada yang menarik dalam ruangan, sebelum matanya tiba-tiba melihat pintu kecil dari besi menempel di dinding.    

"Ho ho~ loker... mari kita lihat isinya."    

Anggi tidak segan-segan langsung menarik pintu loker yang terkunci rapat itu hingga terputus dari badannya. Anggi lalu lempar pintu dan melihat isi loker yang kecil seperti laci kabinet. Di dalamnya, anggi menemukan sebuah pistol revolver yang ia tidak tahu jenisnya, karena terlihat kuno, lalu beberapa lembar uang kuno, serta tiga kotak hitam dan satu kotak merah.    

Anggi ambil kotak merah itu, melihat isinya, mendapati sebuah cincin emas berhiaskan berlian yang terlihat cantik. Anggi lihat sejenak sebelum mengembalikan cincin ke dalam kotak. Ia kemudian berpalih ke tiga kotak hitam, ia ambil satu, membukanya dan mata Anggi pun seketika berbinar melihat benda yang ada di dalam kotak tersebut.    

Anggi ambil satu benda dalam kotak tersebut, mencium bau tembakau yang ia rindukan selama beberapa hari terakhir ini.    

"YES!!"    

Rokok. Yup, Anggi menemukan sepuluh bungkus rokok kretek di dalam kotak hitam tersebut. Sudah beberapa hari terakhir ini ia telah kehabisan rokok yang ia bawa. Tidak pernah ia mengira kalau bakal menemukan bungkusan rokok di dalam terowongan yang lama sudah tidak terjamah selama satu abad lebih.    

Anggi membuka bungkus rokok yang ia pegang, mengambil satu batang, melihat kertas rokok sudah tampak menguning karena umur.    

'Hmm… apa rokok ada kadaluwarsa?'    

Sungguh Anggi tidak tahu karena tidak pernah melihat tanggal kadaluwarsa di bungkusan rokoknya selama ini. Anggi berpikir kembali, takut rokok ini malah bakal jadi racun. Namun, ia semerta sadar, kalau dari awal pun rokok memanglah racun. Jadi tidak ada bedanya kalau pun ada, lagipula dia bisa menghilangkan racunnya dengan aura, asalkan racun itu tidak mematikan.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang