Markas Mata Libra, kamar Bayu pada lantai tiga, malam hari.
Bayu mendekati sepasang kaki dan sepasang tangan Setan Budeg yang tergeletak di lantai. Membutuhkan setetes darah bagi Bayu untuk membentuk buku di perpustakaannya, tapi bagaimana kalau mahluk itu tidak memiliki darah, seperti Setan Budeg ini?
Sederhana saja, Bayu hanya perlu menyerap aura dengan cukup banyak, agar identifikasi mahluk astral seperti Setan Budeg dapat ditemukan di database Gaia. Oleh karenanya, Bayu mengambil satu buah tangan dan satu buah kaki Setan Budeg, menyerapnya ke dalam tubuh. Membuat Perpustakaan Kehidupan mengakses data di database Gaia, sebelum akhirnya menemukan data Setan Budeg dan membentuknya menjadi sebuah buku cerita di perpustakaannya.
"Hm."
Bayu lalu melihati satu tangan dan satu kaki lain yang masih tersisa di lantai, Bayu menoleh ke Aarifa.
"Apa benda ini berharga?"
"Mm? Ah~ maksudmu tangan dan kaki itu, hmmm … mungkin berguna sekali bagi tabib untuk dijadikan ramuan, bisa juga dipakai oleh dukun, atau bahkan monsterologi untuk diteliti. Gak tahu harga pastinya, aku tidak terlalu peduli," jawab Aarifa dengan santai.
"Saya pikir bagian tubuh itu sangat berharga sekali, Setan Budeg merupakan salah satu sosok kuno di Nusa, kalau dijual akan meraup banyak untung. Belum lagi, bukankah jumlah aura pada potongan tubuh itu sangat melimpah? Apa tidak lebih baik diberikan pada avonturir di guild, agar mereka bisa meningkatkan kekuatannya dengan pesat. Seorang perak mungkin akan menjadi emas, dan seorang emas puncak bisa menjadi platinum. Kalian juga—apa kalian tidak membutuhkannya?" tambah Lamria, sebagai mantan seorang pemimpin perusahaan yang memasok kebutuhan para tabib, dukun dan avonturir, ia tahu betul nilai dari potongan tubuh di lantai itu.
Bayu memiringkan kepalanya, kembali menoleh ke Aarifa, "Apa kau membutuhkannya?"
Aarifa menggeleng, "Tidak, aura pada potongan tubuh itu tidak ada gunanya untukku."
Bayu mengangkat ke dua bahu, "Sama buatku juga, hmm… mungkin kumasukkan saja ke kolom trade guild."
Ke dua orang dan satu hantu lain merasa kalau mereka berada pada dunia yang berbeda dengan dua monster di depannya. Bayu menyuruh Aarifa untuk menghubungi Yudha, menyuruh lelaki itu untuk mengambil potongan tubuh Setan Budeg dan menaruhnya di ruang penyimpanan. Aarifa mengerti, namun sebelum itu ada hal yang ia ingin tanyakan dulu.
"Guildmaster~ walaupun sudah tahu ke mana hantu itu pergi, bagaimana mengejanya? Hantu jelek itu lemah, tapi kemampuan teleportasinya sangat merepotkan."
'Lemah?' pikir Rika.
'Dia bilang lemah,' pikir Lamria.
'Sejak kapan sosok yang diperkirakan platinum bisa dianggap lemah?' pikir Irina.
Ke tiganya bukan lagi sekadar merasakan tapi bagi mereka memang Bayu maupun Aarifa sudah hidup di dunia yang berbeda dari mereka. Menganggap Setan Budeg lemah bukanlah hal yang bisa mereka terima, namun itu merupakan fakta bagi ke dua monster berkulit manusia di depan sana.
Kini ke tiganya tidak mau lagi memikirkan betapa absurdnya dua orang di depan mereka, sesuai dengan pertanyaan Aarifa, mereka juga bertanya-tanya tentang bagaimana cara Bayu mengejar mahluk yang dapat berteleportasi seenaknya.
"Ah~ untuk itu, aku butuh bantuan teman kita yang lain," Bayu lalu berpaling melihat ke cermin, "Mary, bangun! Saatnya bekerja."
Semua orang di sana semerta mengikuti arah Bayu berpaling, melihati sebuah cermin yang tergantung di dinding. Ke tiga orang bingung mempertanyakan dengan siapa Bayu berbicara. Hanya Aarifa seorang yang langsung tahu tentang siapa yang dipanggil Bayu, dia tidak pernah bertemu dengan sosok itu, tapi sebagai orang yang telah hidup lama, Aarifa tahu sosok hantu dalam cermin bernama Mary.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
