Pekarangan stasiun lama Buitenzorg, reruntuhan Kota Hujan.
Tidak jauh dari lubang pintu masuk retakan dimensi, para avonturir dari Ishvara yang telah berhasil keluar sedang berkumpul sembari mengobati luka yang mereka terima dalam pertarungan. Di sana terdapat pula dua avonturir perak Mata Libra, yang kini terbaring tidak berdaya akibat luka parah yang diterima oleh ke duanya.
Di atas dua orang yang terbaring itu, seorang roh perempuan cantik melayang memandangi mereka dengan menarik.
"Senang melihatmu baik-baik saja, Kak Rika," ujar Citra dengan suara pelan karena lemas.
"Yaaa… saya memilih mencoba bertaruh dengan apa yang kamu katakan tadi, saya juga penasaran ingin bertemu dengan Bayu setelah selama ini," ucap Rika, masih melayang, melihati sepasang lelaki dan perempuan yang terbaring berdampingan dengan wajah pucat. Di telinga kiri mereka berdua terdapat anting timbangan perak, yang memantik ketertarikan Rika.
"Hei hei~ kalian berdua ini… sepasang kekasih?" Tanyanya dengan senyum jahil.
"Huh?! Siapa yang mau pacara—aw! Aw… aw AW!" Citra seraya menolak menanggapi, tubuhnya refleks ingin bangkit namun rasa nyeri kembali memaku dirinya menempel pada tanah.
"Kau tahu kalau badanmu itu hancur, kan? Kenapa kau harus mengeraskan suara dan mencoba bangkit? Idiot sekali," ujar Rakha yang risih mendengar erangan Citra di sebelahnya.
Citra yang mendengar Rakha, langsung menatap tajam lelaki itu, ingin ia tendang rekan seguildnya itu, namun sayang ia tidak berani menggerakan tubuhnya sama sekali.
"A-apa kau tidak mau menyanggah perkataan Kak Rika? A-atau jangan-jangan kamu memang ada maunya denganku?"
Rakha semerta balik memandang Citra heran, "Tinggal jawab bukan tanpa berlebihan sudah cukup kali. Lagipula Rika juga hanya bercanda."
"Eh? Seriusan?" Citra menoleh kembali ke Rika yang melayang dengan senyum seringai di atasnya.
"Melihat reaksimu tetap menarik walau sudah lama tidak bertemu, bagaimana bisa sifat selalu seriusmu itu tidak pernah berubah? Menarik sekali… oh~ walau saya agak bercanda tapi kalau melihat anting kalian yang serasi itu tentu saja akan membuat orang berpikiran kalian ini pasangan."
Rakha menatap kosong pada Rika, "Ini anting guild, pertanda sebagai avonturir Mata Libra, setiap avonturir guild memilikinya. Jangan bilang kalau aku harus dikira pasangan oleh seluruh anggota perempuan dalam guild. Maaf, tapi aku menolaknya. Ada beberapa orang yang kurasa merepotkan."
"Kamu benar-benar membenci Rox, ya?"
"Tidak membenci, hanya tidak mau berurusan dengannya, karena… kita akan selalu beradu mulut tiada henti, lagipula kenapa dia selalu menggangguku?" ucap Rakha dengan nada datar.
"Karena dia suka padamu," jawab Rika spontan.
"Itu mustahil!" ucap Citra dan Rakha bersamaan.
Citra melihat Rakha yang menjawab sama sperti dirinya, wajahnya langsung menghangat sebelum akhirnya ia membuang muka ke samping di mana tidak ada tubuh Rakha.
"Heee~ kalian berdua ini lucu ya~" Rika tersenyum lebar setelah melihat reaksi Citra.
"Di matamu mungkin lucu, di benakku ini sungguh merepotkan, haaa~" tukas Rakha yang telah lelah dengan hari yang ia alami.
Tidak berapa lama Priam datang menawarkan Citra dan Rakha pergi ke Sentral dahulu untuk dirawat. Priam juga menanyakan transportasi yang dipakai ke duanya untuk kemari, karena akan ia bawa kembali juga ke Sentral.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AksiKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
