123

91 15 0
                                        

Tengah malam, di depan kediaman keluarga Rivertale, Sentral.    

Lamria yang telah meneguhkan dirinya untuk meminta bantuan Bayu, kini berada di depan rumah Olivia. Sebelum bertemu dengan Bayu, ia ingin menyelesaikan masalah dengan Olivia terlebih dahulu. Lamria pergi ke sana hanya membawa satu asisten yang paling ia percayai, bernama Irina dan seorang avonturir kelas emas dari Ishvara, Ratna, yang akan mengantarkannya nanti ke markas Mata Libra.    

Lamria menekan bel pada gerbang rumah. Ia tahu waktu sudah malam, dan kedatangannya sangat tidak sopan sekali. Tapi, semakin ia membuang waktu, semakin banyak nasib putri yang dipertaruhan. Ia menekan bel lagi setelah tidak ada yang menyahut.    

Lima menit kemudian, terdengar suara pintu terbuka dari balik gerbang sana, suara langkah kaki cepat terdengar mendekat. Seorang perempuan dengan mata sayu dengan kantung mata menghitam muncul membuka pintu gerbang. Perempuan itu melihat tamunya tajam, meski ia tidak mengira akan identitas tamunya itu, ia tetap kesal karena dibangunkan pada tengah malam hari.    

"Apa yang kamu inginkan malam-malam begini?"    

Lamria sedikit berbaring sambil menyalami, "Maaf menganggu malam-malam Dokter Maya, apa ibumu ada di dalam? Saya ingin berbicara dengannya."    

Maya mengerutkan kening, bertanya-tanya dalam pemikiran apa yang diinginkan oleh wanita yang kini istri dari ayah brengseknya.    

"Kamu mau apa sama Mama?"    

"Saya rasa Dokter Maya sudah mengerti maksud saya kemari."    

Maya semakin mengernyit, "Setelah selama ini, kamu baru berani sekarang? Tengah malam hari juga?"    

Lamria mengangguk dengan mata bersedih, "Ya, barulah saya berani hari ini. Itupun karena situasi yang terpojok, saya benar-benar wanita lemah."    

Maya tidak mengerti apa yang dikatakan oleh wanita di depannya. Ia ingin kembali menimbali sebelum suara ibunya tiba-tiba terdengar dari belakang.    

"Boleh, kenapa kamu membiarkan tamu kita bersantai di luar pada malam yang dingin begini. Ajak mereka masuk," ucap Olivia yang berjalan pelan menuju Maya, ia melihat Lamria di depan gerbang, melihat raut yang dipenuhi kesedihan dan keputusasaan, di balik topeng wajah keteguhannya. Olivia menunduk sambil tersenyum ramah pada Lamria.    

"Ayo, mari masuk."    

"Ibu?"    

“Tidak apa, Maya,” tangan Olivia menepuk pundak Maya, lalu menuntun para tamunya untuk masuk, menyilahkan mereka duduk di sofa ruang tamu. Olivia menyuruh Maya untuk membuatkan dirinya serta para tamunya teh hangat.    

Keadaannya tiba-tiba, tidak ada satu kata pun yang berbicara. Olivia diam menunggui Lamria yang sibuk merangkai kata dalam pikirannya. Lamria tidak tahu harus mulai dari mana, meski ia sudah meneguhkan jantungnya, namun ketika telah berada di hadapan Olivia, seluruh rangkaian kalimat yang telah ia persiapkan seakan menghilang begitu saja.    

Bahkan hingga Maya kembali membawa lima cangkir teh pun suasana masih hening. Maya dalam hatinya sudah mulai kesal dengan situasi di ruang tamu itu. Namun kembali, sebelum Maya sempat menyemburkan kata, ibunya, Olivia telah mendahuluinya.    

"Kalau anda kemari karena ingin meminta maaf, maka sudah saya maafkan sejak lama. Lagipula, sejak awal tidak ada yang perlu dimaafkan pula. Saya tahu kalau Endra pergi menjadi suamimu bukan karena keinginanmu."    

Lamria tertegun, ia melihati wajah Olivia dengan berlinang air mata.    

"Ta-tapi itu putusan ayahku sendiri, keluargaku, dan saya tidak berani menolaknya. Ketidakberanian itu telah merenggut kebahagiaan keluarga kalian."    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang